uasa Ramadhan : Keutamaan, Fungsi Puasa dan Tujuan Puasa Berlandaskan Al Qur’an dan Hadits

July262012

KEUTAMAAN PUASA

Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (Qath’i) dalam kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada

Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah Ta’ala yang artinya :
Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum priaa serta wanitaa yang bersedeekah, dan kaum pria serta wanita yang berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta kaum wanita yang banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Surat Al-Ahzab : 35)

Dan firman Allah yang artinya :
Dan kalau kalian puasa itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya. (Surat Al-Baqoroh : 184)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu syurga untuk orang yang puasa, puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung, dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.

1. Puasa adalah perisai 1)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa 2) bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan batin.

Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
Wahai sekalian para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu baah 3) hendaknya menikah, karena menikah lebih menundukan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya. 4)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa syurga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat, jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka, oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraaka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.

Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya):
Tidaklah ada seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim .5)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
Puasa adalah perisai, seoramg hamba berperisai dengannya dari api neraka.6)

Dan bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya):
Barang siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka diantara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi.7)

Sebagian Ahlil Ilmu telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah, namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta’ala, sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam termasuk puasa di jalan. (yang disebutkan didalam hadits ini)

2. Puasa bisa memasukan seorang hamba ke dalam syurga.

Engkau telah tahu wahai hamba Allah yang taat, mudah-mudahan Allah memberimu taufik untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya, bahwa puasa menjauhkan orang yang mengamalkannya dari neraka. Jika demikian berarti mendekatkannya ke bagian pertengahan syurga.

Dari Abi Umamah radhiallahu ‘anhu :
Aku berkata : Ya Rasulullahu Shalallahu ‘alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yang bisa memasukanku ke syurga; beliau menjawab: Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu.8)

3. Orang puasa yang diberi pahala yang tidak terhitung *

4. Orang yang berpuasa punya dua kegembiraan *

5. Bau mulutnya orang yang puasa lebih wangi dari baunya misik*

Dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa 9), karena puasa itu untuk Aku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, ucapkankanlah: Aku orang yang sedang puasa 10), demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya sesungguhnya bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak misk 11), orang yang puasa punya dua kegembiraan, jika berbuka gembira, jika bertemu dengan Rabbnya gembira karena puasa yang dia lakukan.12)

Dalam riwayat Bukhori :
Meninggalkan makan. minum dan syahwatnya karena Aku, puasa itu untuk-Ku. dan Aku yang akan membalasnya. kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat.

Dalam riwayat Muslim :
Semua amalan Ibnu Adam dilipat gandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali, sampai tujuhratus kali lipat, Allah Ta’ala berfirman : Kecuali puasa, karena dia itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku, bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka, dan gembira bertemu dengan Rabbnya, dan sungguh bau mulut orang yang puasa disisi Allah adalah lebih wangi dari pada baunya misk.

6. Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada ahlinya :

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :
Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat, puasa akan berkata: Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, berilah dia syafaat karenaku, Al-Qur’an pun berkata : Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, berilah dia syafaat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : maka keduanya memberi syafaat.13)

7. Puasa merupakan kafarat.

Diantara keistimewaan puasa, yang tidak ada dalam amalan lain adalah; Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika Haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, dan kafarat bagi yang tidak mampu untuk membeli kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena tidak sengaja, juga sebagai kafarat bagi yang membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram, dan sebagai kafarat dhihar, akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini;

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :
Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu, hingga kurban itu sampai ketempatnya, maka barang siapa sakit atau ada gangguan di kepalanya, maka hendaklah memberi fidyah, yaitu berpuasa atau memberi shodaqoh, menyembelih kurban maka ketika telah aman maka barang siapa yang melaksanakan ibadah haji dengan cara tamathu’ maka wajiblah menyembelih kurban yang sudah di dapat (membayar dam) maka barang siapa yang tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga haridalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah kembali itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikianlah bagi orang yang bukan dari pendudukMasjidil Haram, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha keras siksanya. (Surat al-Baqoroh : 196)

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya :
Dan jika ia dari golongan orang yang mengikat perjanjian antara kamu dengan mereka, maka hendaklah dibayar uang tebusan yang diserahkan kepada keluarganya, dan merdekakan budak mu’mtetapi barang siapa tak mampu, maka berpuasalah dua bulan berturut-turut, untuk penerimaan taubat dari pada Allah (sebagai suatu jalan bertaubat) karena Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Surat An-Nisaa’ :92)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
Allah tidak menghukum kamu karena keterlanjuran sumpah-sumpahmu yang tidak di sengaja, tetapi ia menghukum kamu karena sumpah yang kamu sengaja (apabila kamu merusakannya) maka kifarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekan hambasahaya. Barang siapa yang tidak sanggup melakukan yang demikian, hendaklah ia berpuasa tiga hari. Itulah kifarat sumpahmu jika kamu bersumpah. Dan peliharalah sumpah-sumpahmu (jangan terlalu mudah bersumpah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu, supaya kamu mensyukuri. (Surat Al-Maidah ayat : 89)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu yang membunuhnya dengan sengaja, maka wajiblah atasnya denda, ialah mengganti dengan binatang ternak yang seperti binatang yang dibunuhnya yang ditetapkan oleh dua orang yang adil (penduduk Mekkah) atau kifaratnya memberi makanan kepada orang-orang miskin. atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu supaya merasakan akibat perbuatannya barang siapa yang mengulangi lagi mengerjakannya, maka Allah akan menyiksanya, Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hak siksa.(Surat Al-Maidah : 95)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
Orang-orang yang mendhihar istrinya, kemudian ingin kembali kepada apa yang mereka katakan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bercampur (bersetubuh). Demikian itu dijadikan nasihat kepadamu untuk mengerjakannya, dan Allah senantiasa mengetahui rahasia apa yang kamu kerjakan maka barang siapa yang tidak memperoleh budak (karena tidak kuat mengadakannya, atau memang tidak ada), maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan maka barang siapa yang tiada berkuasa puasa, hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin (keringanan) yang demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkari (hukum-hukum Allah itu) adzab yang pedih. (Surat Al-Mujadalah:3-4)

Demikian pula, puasa dan shodaqoh bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarganya dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu, berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya):
Fitnah pria dari keluarga (istri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shodaqoh.14)

8. Rayyan bagi orang yang puasa.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallihu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : sesungguhnya dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. jika telah masuk orang terakhir yang puasa ditutuplah pintu tersebut, barang siapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya.15)

 

1. Gembira dan senang dengan datangnya bulan Ramadhan,

sebagaimana firman Allah swt : “Katakanlah (wahai Muhammad saw) Dengan Datang-nya Anugerah Allah Dan Rahmat-Nya, Maka Dengan Itu Hendaknya Mereka Bergembira” (QS Yunus 58), dan juga Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan menjaganya dengan segenap kemampuannya, maka diampunilah seluruh dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari & Muslim). Dan diriwayatkan oleh Salman ra, bahwa Rasulullah saw menyampaikan ceramahnya pada kami di hari terakhir bulan sya’ban : “Wahai para manusia sekalian, telah menyelimuti kalian bulan Agung yang penuh keberkahan, bulan yang padanya suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa di bulan ini merupakan hal yang fardhu (wajib), dan menjadikan Qiyam (tarawih) merupakan hal yang sunnah, barangsiapa yang beribadah dengan satu macam kebaikan maka sama saja pahalanya dengan menjalankan ibadah yang fardhu, barangsiapa yang beribadah dengan hal yang fardhu maka seakan ia telah mengerjakan 70X hal fardhu tersebut, inilah (ramadhan) merupakan bulan kesabaran, dan balasan atas kesabaran adalah Surga, inilah bulan kita saling membantu satu sama lain, inilah bulan dimana Allah menumpahkan rizki Nya bagi orang mukmin” (Hadits riwayat Imam Ibn Khuzaimah dalam shahih nya).

2. Menjaga diri dan berhati hati dari hal hal yg membuat kita terhalangi dan terusir dari kemuliaan Ramadhan,
diantaranya adalah :
* Menjaga lidah kita dari berdusta dan menjaga pula perbuatan kita dalam kedustaan dan penipuan,
* juga ucapan ucapan buruk dan perbuatan buruk,
* dan dari berbuka puasa dengan makanan haram dan syubhat,
* dan dari perbuatan yang menjatuhkan pahala puasa seperti memandang aurat yang bukan muhrimnya,
* dan dari berdusta dan membicarakan aib orang lain,
* dan dari memutuskan hubungan silaturahmi,
* dan dari minum arak, ganja dan narkotika,
* dan dari dengki dan kebencian terhadap sesama muslimin, dan dari berbuat durhaka pada kedua orang tua.

Dan berhati – hatilah wahai mukimin dari berbuka puasa tanpa sebab yang jelas, Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang berbuka di hari ramadhan tanpa sebab sakit, atau safar, atau udzur syar’I lainnya, maka tiadalah ia akan bisa membayarnya walaupun ia berpuasa sepanjang masa” (HR Tirmidzi, Nasa’I, Abu Daud, Ibn Maajah, Ibn Khuzaimah dan Imam Baihaqy).

Maka berhati – hatilah wahai mukmin dalam menjaga keadaan puasamu, dan jangan pula kau berbuka puasa sebelum yakin telah tiba waktunya, karena sunnah untuk bersegera dalam buka puasa adalah setelah yakin sepenuhnya telah masuk waktu berbuka puasa.

3. Yang terakhir adalah bersungguh – sungguh dalam menghadapi hujan anugerah di bulan mulia ini,
dan bersungguh – sungguh mendapatkan anugerah berlipat gandanya berbagai pahala dan di bentangkannya kesempatan untuk meraih derajat yang agung. Telah bersabda Rasulullah saw “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di siang harinya dan telah pulah mensunnahkan bagi kalian mendirikan shalat sunnah di malam harinya (tarawih), barangsiapa yang melakukan keduanya dengan keimanan dan kesungguhan, maka ia akan lepas dari seluruh dosanya sebagaimana saat ia baru dilahirkan oleh ibunya” (HR Imam Nasa’i).

Maka seyogyanya kita memperbanyak berbagai amal ibadah di bulan mulia ini, terutama menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah, dan ketahuilah bahwa menjamu orang lain berbuka puasa merupakan hal yang agung pahalanya, sabda Rasulullah saw :”Baramgsiapa yang menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa dibulan Ramadhan, maka diampuni seluruh dosanya, dan kebebasan baginya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala puasa tersebut” (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya).

Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa ramadhan dengan makanan dan minuman yang halal, maka akan bershalawatlah para Malaikat baginya sepanjang waktu Ramadhan, dan akan bershalawatlah padanya Malaikat Jibril dimalam Lailatulqadr” (Imam Thabrani).

Sabda Rasulullah saw : “Diberikan untuk ummatku dibulan Ramadhan lima hal yang tidak diberikan pada para Nabi sebelumku, yaitu saat malam pertama bulan Ramadhan, Allah memandangi mereka dengan iba dan kasih sayang Nya, dan barangsiapa yang dipandangi Allah dengan Iba dan Kasih Sayang Nya maka tak akan pernah disiksa selama selamanya, yang kedua adalah aroma tak sedap dari mulut mereka di sore harinya lebih indah dihadapan Allah daripada wanginya Misk (bau tak sedap orang yang berpuasa akan menyusahkan mereka dan akan membuat mereka merasa terhina, namun balasan untuk keridhoan mereka karena hal yang tak mereka sukai dan perasaan terhina itu adalah justru di sisi Allah hal itu sangatlah mulia), yang ketiga adalah sungguh para malaikat memohonkan pengampunan dosa bagi mereka sepanjang siang dan malam, yang keempat adalah Allah memerintah kepada Surga seraya berfirman : Bersiaplah engkau (wahai surga), dan bersoleklah untuk menyambut hamba – hamba Ku, aku iba melihat mereka, barangkali mereka mesti beristirahat karena kepayahan menghadapi kehidupan mereka didunia untuk menuju Istana – Istana Ku dan Megahnya Kedermawanan Ku, yang kelima adalah ketika malam terakhir dibulan Ramadhan maka diampunilah bagi mereka seluruhnya, maka bertanyalah seorang sahabat : apakah itu hadiah orang yang mendapatkan Lailatulqadr Wahai Rasulullah?, maka Rasul saw bersabda : “Tidak, bukankah bila kau melihat para buruh bila selesai dari pekerjaannya harus segera dilunasi upahnya?” (HR Imam Baihaqi).

Maka ketahuilah bahwa Rasul saw bersungguh – sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadhan, lebih dari kesungguhannya di bulan lain, dan Rasul saw sangat teramat bersungguh – sungguh dalam beribadah di 10 malam terakhir Bulan Ramadhan lebih dari kesungguhannya di hari – hari ramadhan lainnya, Maka berpanutlah pada Imam mu Nabi Muhammad saw, janganlah tertipu dengan mengikuti kebiasaan sebagian orang yang bersungguh – sungguh di awalnya dan bermalas – malasan di akhirnya, karena kemuliaan justru berpuncak pada akhirnya.

KOSHER VS HALAL

 
Kata kosher dalam kamus Inggris-Indonesia (John M Echols dan Hassan Shadily, 1988) diterjemahkan sebagai “halal”, dengan contoh kosher meat sama dengan “daging halal”. Terjemahan ini sebenarnya tidak sesuai dengan arti sesungguhnya dari kosher. Dalam Webster World University Dictionary, disebutkan bahwa kosher atau kashrut/kasher sebagai ceremonially clean; conforming to Jewish dietary law. Kosher adalah istilah agama Yahudi yang menurut hukum Talmud kemudian menjadi hukum agama Yahudi.
Dalam kacamata Yahudi, makanan dan hewan yang boleh dimakan disebut kosher, kashrut, atau kasher. Sedangkan lawannya yang tidak boleh dimakan disebut trefa atau trayfah. Kedua istilah itu sepintas lalu memang mirip dengan halal dan haram bagi umat Islam.
Pada kenyataannya memang ada hal-hal yang sama antara kedua pengertian tersebut. Kosher tidak menghendaki adanya unsur babi dalam makanan dan minuman. Selain itu hewan (sapi, kambing, domba, dll) harus disembelih dengan menggunakan pisau tajam dan tidak boleh dimatikan dengan cara dipukul, dipelintir, atau diterkam binatang buas.
Karena kemiripan pengertian dua istilah itu, maka orang-orang Yahudi mempromosikan bahwa kosher food adalah makanan yang halal bagi Muslim. Karena sudah ada sertifikat kosher, maka tidak perlu lagi sertifikat halal untuk produk tersebut.
Pengertian ini kemudian dikampanyekan dan disebarluaskan ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat, konsumen kosher food jauh melebihi jumlah konsumen pemeluk Yahudi Ortodok, yang menghendaki makanan kosher. Hal ini disebabkan karena kaum Muslim dan Kristen Advent juga ikut menjadi konsumen makanan kosher.
Dengan angka tersebut, kaum Yahudi mencoba memperkenalkan kosher food ke segenap penjuru dunia, dengan sasaran utama umat Islam. Dengan demikian posisi tawar sertifikasi kosher semakin meningkat di mata para produsen makanan.
Padahal, jumlah penduduk Yahudi dunia pada tahun 1967 hanya 12 juta jiwa, sementara Muslim pada waktu itu sudah mencapai 700 juta jiwa. Kini umat Islam dunia sudah mendekati angka 1,5 miliar orang.
Orang Yahudi menginginkan agar umat Islam memakan kosher foods, tetapi mereka sendiri tidak mau mengkonsumsi halal foods. Mereka juga berkeinginan mempopulerkan istilah kosher dalam perdagangan internasional.
Tidak serupa dan tidak sama
Meskipun ada kemiripan antara halal dan kosher, sebenarnya keduanya adalah berbeda. Ada barang haram yang masuk kategori kosher, sebaliknya ada juga makanan halal yang masuk dalam kategori treyfah.
Contoh makanan dan minuman yang masuk dalam kategori kosher tetapi tidak halal adalah minuman anggur (wine). Juga semua jenis gelatin (tanpa memandang terbuat dari tulang atau kulit hewan apa) dan semua jenis keju (tanpa melihat cara dan proses pembuatannya).
Daging kosher, meskipun berasal dari hewan halal, tetapi proses penyembelihannya tidak menyebutkan nama Allah (Jehovah Elohim) karena mereka berkeyakinan bahwa tidak pantas menyebut nama Tuhan yang Suci di tempat yang kotor (rumah potong).
Perbedaan tersebut menyebabkan implikasi yang sangat luas dalam konteks makanan halal. Produk-produk yang mengandung gelatin bisa saja dianggap sebagai makanan kosher. Demikian juga minuman yang mengandung alkohol seperti wine, yang oleh ajaran Islam jelas-jelas haram, di kalangan Yahudi masih diperbolehkan dengan jumlah tertentu.
Di sisi lain, ada juga makanan yang halal dan thayib menurut Islam, tetapi tidak kosher menurut Yahudi. Contohnya adalah kelinci, unggas liar, ikan yang tidak bersirip atau bersisik, kerang, dan tidak boleh makan daging bersama susu kecuali waktu makannya terpisah. Selain itu potongan-potongan daging tertentu, meskipun dari hewan yang halal, juga dianggap tidak kosher.
Dari penjelasan-penjelasan di atas, halal jelas tidaklah sama dengan kosher. Demikian juga haram tidak sama dengan treyfah. Keduanya memiliki dasar filosofis dan teknis pelaksanaan yang berbeda.

 

 

bidadariPenciptaan Bidadari

Dalam masalah penciptaan bidadari, al-Sābūnī tidak membahasnya secara luas, dan juga tidak menyampaikan pemikirannya secara rinci, kecuali sedikit yang diambil dari riwayat Ibn Abbas dan hadīs Ummu Salāmah, sehingga penjelasan al-Sābūnī dalam hal ini, tidak bisa betul-betul menjawab bagaimana proses bidadari diciptakan. Oleh karenanya, dalam hal ini penulis akan membandingkan sedikit penafsiran al-Sābūnī tentang ayat yang terkait dengan penciptaan bidadari dengan pendapat Ibn Qayyim.

Hanya saja yang perlu digarsibawahi dari pendapat al-S{ābūnī mengenai penciptaan bidadari di surga adalah, bahwa al-S{ābūnī mengakomodasi pendapat yang menyatakan bahwa sebagian bidadari berasal dari wanita mukminat di dunia, bahkan dijadikan lebih cantik.[1]

Al-Sābūnī menjelaskan penciptaan bidadari ini ketika memberikan tafsīr atas Qs. Al-Wāqi’ah:35-38.[2] Al-S{ābūnī menyatakan bahwa maksud firman “innā ansya’nāhunna insyā’” adalah bahwa “Aku jadikan wanita-wanita surga itu sosok yang baru, yang pembuatannya sangat mengherankan.”[3] Sifat menta’ajubkan ini terjadi karena –sebagaimana telah dipaparkan di atas- proses penciptaan maupun jenis makhluk yang diciptakan bersifat “baru”, sehingga masih asing bagi makhluk yang berasal dari dunia.

Al-Sābūnī dengan mengutip Ibnu Jazi dalam kitabnya al-Tashil fi ‘Ulūm al-Tanzīlmenyatakan bahwa makna insya’ al-nisa yaitu Allāh menciptakan mereka sebagai makhluk baru yang sangat cantik tidak seperti di dunianya. Di surga nanti, walau ketika di dunia telah menjadi seorang nenek-nenek, ia akan kembali menjadi muda, serta tidak memiliki cacat dalam rupanya, ia akan berubah menjadi gadis yang cantik mempesona.[4]Dengan mengutip Ibnu Abbas dari Tafsīr al-Khāzin, al-Sābūnī mempertegas pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa nenek-nenek yang sudah lanjut usia, ompong dan kempot (tidak punya gigi lagi) akan dijadikan oleh Allāh kembali perawan sebagai makhluk yang sama sekali sudah lain.[5]

Demikian pula, perempuan yang di dunia sudah dijima’ oleh suaminya, oleh Allāh akan dijadikan perawan, hanya kembali mencintai suaminya, serta sangat menggairahkan, dan usianya sepadan dengan suaminya, yang rata-rata 33 tahun.[6] Nampak di sini bahwa al-Sābūnī meletakkan konsep bidadari yang berasal dari perempuan mukminat di dunia, sehingga dalam hal penciptaan bidadari ini, al-Sābūnī hanya membahas bidadari yang berasal dari wanita sālihat di dunia, tidak membahas bidadari yang khusus diciptakan di akhirat. Sehingga penafsiran al-Sābūnī pada ayat-ayat ini dan yang seperti ini, tidak bisa dikaitkan dengan penafsirannya yang memberikan makna secara netral kelamin.

Terkait dengan ayat tersebut, al-Sābūnī juga mengutip hadīs terkenal yang berasal dari Ummu Salāmah, bahwa ketika Nabi ditanya mengenai bidadari surga, Nabi menjawab,“mereka adalah wanita-wanita dunia yang di saat kematiannya mereka dalam keadaan lanjut usia, kempot, ompong dan bungkuk, yang dijadikan Allāh kembali dalam usia yang sama.”[7]

Al-Sābūnī juga meriwayatkan hadīs yang menginformasikan tangisan seorang wanita tua, ketika Rasūlullāh menyatakan bahwa orang yang sudah tua tidak bisa masuk surga. Wanita tersebut memangis karena merasa peluangnya masuk surga tidak ada karena usianya yang sudah tua. Lalu nabi pun memberitahukan bahwa ia nanti akan masuk surga bukan dalam keadaan lanjut usia, karena Allāh telah berjanji bahwa para wanita akan dijadikan kembali perawan dan berusia muda.[8]

Jadi jelas bahwa penjelasan al-Sābūnī mengenai penciptaan bidadari hanya menyangkut bidadari yang berasal dari wanita sālihah dunia, tidak termasuk bidadari yang khusus dicipta di surga. Memang sejauh informasi al-Qur`ān, tidak terdapat ayat yang mengetengahkan atau mengisyaratkan tentang bagaimana bidadari surga diciptakan.

Berbeda dengan al-Sābūnī, Ibnu Qayyim menggali banyak riwayat mengenai penciptaan bidadari yang tidak berasal dari wanita dunia. Dengan mengumpulkan berbagai informasi ‘ulamā’ dan hadīs Nabi, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa bidadari surga diciptakan dari za’faran, khususnya yang diperuntukkan bagi para wali Allāh, yang disediakan pengantin yang tidak pernah dilahirkan oleh Adam dan Hawwa’.[9] Sehinga karena bahan baku dari za’faran tersebut, maka bidadari surga memancarkan cahaya dan sinar gemerlap yang mempesona siapapun yang melihatnya. Sementara mereka semua telah bersiap menunggu suami-suaminya di pintu surga.[10] Demikian menurut Ibn Qayyim.

Tentu sampai di sini justru diketemukan kelebihan dari al-Sābūnī dalam memberikan tafsīran atas ayat-ayat Tuhan. Al-Sābūnī hanya menggunakan riwayat-riwayat yang jelas dan mutawātir, dan tidak mau menggunakan riwayat yang bersifat dugaan, cerita, mitos, tidak mutawātir, serta mengundang polemik. Nampak bahwa al-Sābūnī ingin membiarkan al-Qur`ān bercerita mengenai isi dirinya sendiri.

 

Perbedaan antara Pelayan Surga dan Bidadari

Al-Qur`ān dalam Qs. Al-Rahmān secara jelas membedakan antara pelayan surga dengan bidadari. Bidadari bukanlah pelayan surga, namun ia merupakan makhluk khusus yang memiliki jenis pelayanan surgawi yang khusus pula.

Penyebutan pelayan-pelayan surga juga dibedakan secara tersendiri dengan bidadari surga. Dalam al-Qur`ān, terdapat dua ayat pokok mengenai pelayan surga, satu ayat disebutkan secara mandiri, tidak memiliki rangkaian ayat dengan penyebutan bidadari, dan satu ayat lainnya disebutkan dengan berangkaian dengan ayat-ayat tentang bidadari.

Istilah yang dipakai al-Qur`ān mengenai masalah pelayan surga adalah “wildānun mukhalladūn”Wildānun berarti anak-anak muda. Berdasarkan akar katanya,mukhalladūn memiliki dua arti, namun tetap mempunyai muara makna yang sama. Pertama berasal dari kata al-khuld yang artinya baka atau abadi, kekal, tidak mati selama-lamanya.[11] Dan kedua dari kata al-khildah dengan jamak khilādun berarti orang yang mengenakan anting dan gelang. Ini merupakan simbol bagi pelayan-pelayan abadi. Dalam istilah Arab julukan (laqab“mukhalladūn” dikenakan bagi orang yang lanjut usia tetapi tidak beruban, giginya terjaga, tidak rontok.[12] Jadi wildānun mukhalladūnditerjemahkan sebagai pelayan-pelayan muda yang tetap dalam kemudaannya.[13]

Ayat tentang pelayan surga yang berdiri sendiri adalah Qs. Al-Insan:19:

Ayat bidadari 1“Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.” (Qs. Al-Insan:19).

Sedangkan ayat yang berangkai dengan ayat-ayat tentang bidadari adalah Qs. Al-Wāqi’ah:17-18:

Ayat bidadari 2“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (Qs. Al-Wāqi’ah:17-18).

Terhadap ayat tersebut al-Sābūnī menafsirkannya “terhadap mereka selalu didampingi pelayan yang berkhidmat yang terdiri atas anak-anak muda di sekelilingnya, mereka tidak pernah mati dan tidak pernah berubah.”[14] Sifat utama para pelayan surga itu adalah: terdiri atas anak-anak muda, selalu berkhidmat terhadap penghuni surga, selalu siap memberikan pelayan sesuai keinginan penghuni surga (mengelilingi para penghuni surga), tidak berubah keadaan kemudaannya, belum pernah terjamah atau tersentuh oleh apa dan siapapun (maknūn), sangat rupawan, tidak mati,[15] selalu dalam pekerjaan pelayanan yang ditunjukkan dengan ayat bahwa mereka selalu berhiaskan gelas minuman, beserta cerek dan slokinya. Diberikannya pelayan-pelayan tersebut, menurut al-S{ābūnī memang dikhususkan bagi orang beriman dikarenakan perilaku al-abrārnya sewaktu di dunia.[16]

Sedangkan sifat para pelayan surga yang diibaratkan sebagai mutiara yang bertaburan mengisyaratkan bahwa para pelayan tersebut memiliki kebeningan kulit yang memukau dan kebagusan wajah yang mempesona. Mengutip al-Rāzī, al-Sābūnī menyatakan bahwa pernyataan itu mengandung tasybīh al-‘ajīb, dengan mutiara yang bertebaran itu, maka keindahan dan keistimewaan mutiara semakin nampak kian nyata.[17]

Penafsiran al-Sābūnī tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim, bahwa ada dua hikmah besar mengapa pelayan surga dibuat bertebaran di mana-mana:pertama, menunjukkan bahwa para pelayan surga tidak pernah menganggur. Mereka mondar-mandir di surga dalam rangka berkhidmah kepada penghuni surga dan memenuhi keperluan mereka. Kedua, bahwa mutiara yang disebar di atas permadani dari emas dan sutra itu lebih indah di mata daripada dikumpulkan di satu tempat.[18]

Al-Sābūnī dalam tafsīrnya tidak menyebutkan bagaimana para pelayan surga diciptakan. Sedangkan Ibnu Qayyim menginformasikan bahwa dalam masalah ini, terdapat dua pendapat: pertama, bahwa para pelayan surga diciptakan dari anak-anak muslim dunia yang meninggal dalam keadaan tidak memiliki kebaikan dan keburukan. Mereka menjadi pelayan surga karena di surga tidak ada proses kelahiran. Selain itu juga berasal dari anak-anak yang meninggal dunia di masa kecil. Pendapat kedua adalah, bahwa para pelayan surga diciptakan khusus di surga sebagaimana juga bidadari yang diciptakan khusus di surga. Inilah yang dipegangi oleh Ibnu Qayyim.[19]

Dari uraian tersebut jelas, bahwa al-Sābūnī membedakan antara bidadari dengan pelayan surga. Pelayan surga adalah terdiri atas anak-anak muda yang diciptakan di surga yang berfungsi bagi pelayan penghuni surga, termasuk melayani bidadari yang menjadi pasangan penghuni surga. Sementara bidadari adalah pasangan penghuni surga, dengan tugas menjadi tambahan kenikmatan bagi mereka. Kesamaannya dengan bidadari adalah bahwa mereka diciptakan khusus di surga, dan belum pernah tersentuh oleh apa dan siapapun.

 

ainul_mardiah-bidadari surgaCiri-ciri Bidadari di Surga

Dalam menjelaskan sifat-sifat atau ciri-ciri bidadari di surga, al-Sābūnī dalam penafsirannya tidak melebihi apa-apa yang diinformasikan olah al-Qur`ān. Ia hanya bersifat lebih memperjelas mengenai sifat bidadari menurut al-Qur`ān. Secara terperinci, sifat-sifat bidadari menurut al-Sābūnī adalah sebagai berikut:

  1. Sosok pasangan yang suci. Menurut al-Sābūnī, bidadari di surga disucikan dari kotoran hissiyah maupun maknawiyah. Dalam hal ini, al-Sābūnī juga mengutip ‘ulamā’ lain yang menyebutkan bahwa bidadari disucikan dari kotoran haid, nifas, buang air maupun dahak. Namun al-Sābūnī menyambungnya dengan pernyataan bahwa wanita dunia mukminah di hari akhir lebih cantik dibanding bidadari.[20] Sehingga yang dimaksud suci dari haid, nifas dan kotoran kewanitaan lain adalah bidadari yang berasal dari wanita mukminah dunia. Secara tidak langsung, al-Sābūnī menekankan bahwa ada dua jenis bidadari di surga, yaitu: bidadari yang berasal dari dunia, yang menjadi pasangan suaminya dari dunia juga, jika sama-sama beriman; dan bidadari dan bidadara yang khusus diciptakan di surga.
  2. Diciptakan abadi. Keabadian menjadi ciri yang menyatu bagi bidadari, sebagaimana keabadian alam akhirat. Menurut al-Sābūnī, keabadian inilah yang menjadi salah satu kunci kebahagiaan yang sempurna. Karena penghuni surga bersama pasangannya berada dalam tempat yang aman dan bersanding hidup dengan pasangan-pasangannya dalam buaian keabadian yang tiada pernah putus.[21] Dengan begitu keabadian akhirat menurut al-S{ābūnī, karena tiada putus, merupakan keabadian yang mutlak, tanpa batas waktu lagi, atau tiada dimensi ruang dan waktu yang membatasinya lagi.
  3. Dipingit di dalam kemah mutiara. Al-Sābūnī berpendapat, bahwa maksud darimaqsūt fī al-khiyām, adalah bahwa bidadari di surga hanya berjalan-jalan keliling di sekitar kemah, bahkan lebih banyak berdiam di dalamnya, tidak keluar karena kehormatan dan kemuliaannya, dalam kemah yang terbuat dari mutiara yang memang disediakan untuk mereka. Mereka membatasi diri hanya dalam ruangan yang terbuat dari mutiara itu.[22]
  4. Memiliki adab atau akhlak mulia. Bidadari di surga menurut al-Sābūnī, merupakan wanita-wanita sālihah yang memiliki akhlak yang sangat mulia di samping rupanya yang sangat cantik.[23] Jadi makna khairātun hisān, memiliki dua dimenasi; wajah yang jelita dan akhlak yang mulia.
  5. Hanya untuk pasangannya sendiri saja. Bidadari di surga, menurut al-Sābūnī, memiliki sifat hanya membatasi pandangan matanya kepada pasangannya saja, dan tidak memandang yang lain, seperti keadaan wanita-wanita pencinta dan penyayang.[24] Jadi kekhususan pasangan menjadi ciri utama bagi bidadari surga.
  6. Belum pernah tersentuh, terjamah, dan tersenggamai oleh siapapun. Salah satu sifat utama bidadari menurut al-Sābūnī adalah keperawanannya yang sejati. Belum pernah ada seseorangpun yang pernah manjamah dan menyenggamainya kecuali pasangannya di surga itu, baik dari manusia maupun jin. Mereka betul-betul perawan yang sejati (ting-ting).[25] Hanya saja nampaknya sifat ini dikenakan pada bidadari yang dicipta khusus di surga, menilik pernyataan bahwa belum pernah tersentuh oleh makhluk. Jika wanita mukminah di dunia, pasti sudah mengalami persentuhan dengan pasangannya di dunia, walaupun di akhirat dijadikan perawan sejati kembali. Namun kalimat al-S{ābūnī jelas menunjukkan kebelum-pernah disentuhnya bidadari itu sebelum di surga. Mengutip pendapat dari kitab al-Tashil, al-Sābūnī mengemukakan bahwa penyebutan kalimat lam yatmishunna insun walā jānn sebanyak dua kali dalam Qs. Al-Rahmān ini, pertama ditujukan bagi kelompok al-sābiqūn, dan yang kedua bagi kelompok ashāb al-yamīn. Jadi penggambaran sifat-sifat surga untuk masing-masing kelompok orang beriman memiliki perbedaan dan kekhususan sendiri-sendiri, surga bagi kelompok pertama lebih tinggi dibanding bagi kelompok yang berikutnya.[26] Sehingga menurut al-Sābūnī, tingkatan bidadari yang diberikan pun berbeda untuk masing-masing kelompok orang beriman.
  7. Menyerupai mutiara yang paling mulia. Bahwa bidadari di surga, menurut al-Sābūnī menyerupai yāqūt  dan marjān dalam kebeningan dan kemerah-merahannya (bersih dan sangat mulus) sampai-sampai tembus pandang.[27] Mengutip Qatadah, al-Sābūnī mengemukakan bahwa dalam bersih dan beningnya menyerupai yāqūt, sedang kemerah-merah-jambuannya (kecantikan yang tiada tara) menyerupai marjān. Segala sesuatu yang dimasukkan dalam yāqūt , pasti akan dapat dilihat dari semua sisi.[28]
  8. Berada di tempat yang tinggi. Menurut al-Sābūnī, bidadari di surga berada di atas dipan atau ranjang yang tinggi, empuk, dan nyaman. Hal ini didasarkan pada hadīs riwayat Hakim yang menyatakan bahwa tingginya dipan itu seperti tingginya langit dengan bumi yang untuk mencapainya membutuhkan waktu selama limaratus tahun.[29] Namun bukan berati bahwa untuk mencapainya sulit. Mengutip al-Alūsi, al-Sābūnī menyatakan bahwa jika seseorang ingin naik turun dipan, maka dengan sendirinya dipan tersebut akan menyesuaikan diri. Jika seorang mukmin ingin naik, maka dipan tersebut akan turun, kemudian setelah orang tersebut naik, maka dipan itu akan mengangkatnya.[30]
  9. Diciptakan sebagai makhluk yang sama sekali baru. Bidadari merupakan makhluk yang diciptakan khusus di surga, yakni berupa makhluk yang sama sekali baru dalam penciptaan, lagipula bersifat unik. Sehingga ia menjadi makhluk yang mampu mendatangkan keta’juban luar biasa. Keelokan dan keanehan penciptaan itu terjadi, karena memang berbeda sama sekali dengan segakla jenis ciptaan di dunia.[31]
  10. Selalu dalam keadaan perawan. Sifat abkāra, oleh al-Sābūnī diberi makna tafsīr sebagai perawan ting-ting sepanjang masa. Setiap kali pasangannya mendatanginya, setelahnya langsung kembali perawan lagi.[32]
  11. Memiliki kecintaan dan kerinduan menggebu kepada pasangannya. Para bidadari di surga memiliki semangat kecintaan serta kerinduan yang menggebu-gebu. Mengutip Mujahid, al-Sābūnī mengatakan bahwa salah satu sifat bidadari adalah agresif terhadap pasangannya, dalam hal bermain cinta.[33]
  12. Berusia rata-rata muda. Menurut al-Sābūnī, bidadari di surga memiliki usia yang rata-rata muda, dan sama dengan pasangannya, yaitu berusia 33 tahun,[34] sebuah usia puncak kedewasaan dan usia yang sangat agresif dalam hal percintaan.
  13. Kecantikannya dan kesuciannya tidak ada yang menyamai. Bahwa bidadari di surga memiliki kecantikan dan keelokan tiada tara, kebeningan yang sangat, demikian pula seperti mutiara yang tersimpan, kesuciannya yang belum pernah tersentuh.[35] al-Sābūnī mengutip hadīs Ummu Salāmah yang menggambarkan bahwa kejernihan run ‘īn ibarat mutiara yang tersimpan di tengah lautan yang belum pernah tersentuh oleh tangan.[36]
  14. Memiliki fisik yang sempurna. Bidadari di surga memiliki bentuk fisik yang paling sempurna, yang ditunjukkan dengan gairah yang tinggi dari keperawanannya, serta bentuk payudara yang menyembul keluar. al-Sābūnī memperkuat tafsīrnya ini dengan mengutip al-Tashil, bahwa kata al-kawā’ib merupakan bentuk jamak dari ka’ib yang memiliki arti dasar gadis perawan yang menonjol (keluar tegak) bentuk payudaranya.[37]
  15. Usianya sama dengan suaminya. Sebagaimana dijelaskan pada poin sebelumnya (poin l) bahwa usia bidadari di surga setara dengan pasangannya. Tidak lebih dan tidak kurang.[38]
  16. Selalu bersenang-senang dengan sumianya. Dijelaskan oleh al-Sābūnī bahwa orang-orang beriman akan masuk ke surga bersama pasangan-pasangan wanitanya (isterinya) yang beriman. Kemudian di dalam surga mereka berni’mat-ni’mat, bersenang-senang (istisrār), sehingga kebahagiaan itu memancar dari wajah-wajah mereka.[39] Sifat ini –sebagaimana diberikan tafsīrnya oleh al-Sābūnī – mengarah pada dua hal; bahwa bidadari dalam ayat ini adalah bidadari yang berasal dari wanita mukmin di dunia, yang bersama suaminya yang beriman bersama-sama masuk surga. Dan di dalam surga, mereka bersenang-senang sebagai suami isteri, di mana katatuhbarūn, bermakna istimtā’ (hubungan badan).
  17. Keanggunan yang sempurna. Bidadari di surga, baik yang dari wanita mukminah di dunia, maupun yang khusus diciptakan di surga, semuanya memiliki keanggunan yang tiada tara, (sehingga digelari run ‘īn), sebagai deskripsi puncak tentang sosok yang rupawan dan dipenuhi segala kesempurnaan, demi memenuhi kebahagiaan para penghuni surga.[40] Kembali lagi di sini ditekankan oleh al-Sābūnī, bahwa julukanrun ‘īn adalah bersifat netral kelamin.

 

Bidadari dan Amal Perbuatan Manusia

Dalam al-Qur`ān tidak semua informasi yang menyangkut surga selalu disertai dengan adanya bidadari di dalamnya. Informasi tentang surga yang disertai informasi adanya bidadari di dalamnya hanyalah menyangkut pada beberapa tempat, yang sekaligus mencantumkan informasi jenis sifat dan amal s}ālih tertentu dari orang beriman.

Sebelum membahas pendapat al-Sābūnī tentang hubungan bidadari dan amal perbuatan manusia, ada baiknya jika penulis kemukakan gambaran umum mengenai surga dari dalam al-Qur`ān. Dalam al-Qur`ān, jumlah ayat yang berkaitan dengan surga berjumlah 174, adapun yang berkaitan dengan kata dasar jannah berjumlah 159.

Istilah surga sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta suwarga yang bermakna tempat kebahagiaan puncak.[41] Sedang istilah tersebut digunakan oleh umat Islām untuk menerjemahkan kata jannah dalam bahasa Arab, yang arti harfiahnya adalah kebun, atau taman yang penuh keindahan,[42] sebagai tempat bagi orang-orang yang menemukan kebahagiaan kekal di akhirat.

Dalam Qs. Ali Imran3;15 Allāh melukiskan, bahwa surga terdiri dari sungai-sungai yang indah, kekal, bagi penghuninya tersediakan pasangan hidup (suami atau isteri) yang disucikan dan diridhai Allāh. Sifat keindahannya melebihi segala kenikmatan yang ada di dunia, walaupun itu mencakup keindahan hiasan wanita, anak-anak, harta dari emas maupun perak, kendaraan pilihan, binatang ternak maupun segala hewan piaraan serta sawah dan ladang.

Sehingga diingatkan bahwa surga itulah yang merupakan tempat kembali manusia yang terbaik. Bagi penghuninya disediakan mata air banyak yang mengalir serta menyejukkan penghuninya, dan setiap memasuki pintu-pintunya selalu disambut dengan ucapan “masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dari semua kesalahan lagi aman dari kematian serta dari hilangnya keni’matan,” dilenyapkan segala dendam maupun perasaan buruk, selalu merasa bersaudara dengan saling mencintai dan saling memuliakan, tidak ada lagi kelelahan, dan kebahagiannya bersifat abadi karena memang surga berwatak suci dan bahagia selamanya.[43]

Mereka semua mengenakan perhiasan dari gelang-gelang emas serta mutiara, di samping mengenakan sutra, dikarenakan dahulu di dunia mereka mematuhinya untuk tidak bermegah-megahan. Dan ini adalah sebagai penghargaan atas iman dan amal sālih} mereka (Qs. Al-Hajj 22;23).

Rumah-rumah mereka berupa edung-gedung bertingkat yang di bawahnya banyak mengalir sungai yang beraneka warna (Qs.Al-Zumar39;20). Sungai-sungai tersebut tidak pernah mengalami perubahan baik rasa dan baunya. Jenisnya sangat variatif, ada sungai-sungai air susu, sungai arak yang lezat dan tidak beralkohol, sungai-sungai madu yang disaring, dan juga disediakan segala kebutuhan dan keinginan akan buah-buahan sebagaimana pula disediakan segala ampunan (Qs. Muhammad 27;15).

Adapun penghuni surga adalah orang yang beriman dan beramal sālih}, yang tidak pernah tersentuh oleh neraka,[44] yang disebut sebagai kelompok al-su’adā’, orang-orang yang menemukan kebahagiaan (Qs. Hud11:108), yang berbahagia karena kebajikan-kebajikannya.[45]

penghuni-surga

Para penghuni surga itu disucikan dari segala dosa, segala keinginan terpenuhi, dimuliakan dengan segala kenikmatan, masing-masing orang memiliki tahta beserta hiasannya, dengan pelayanan minum-minuman yang sedap rasanya sesuai keinginan surgawi dalam piala-piala yang indah yang dibawakan oleh para bidadari yang “jinak” (Qs. Al-Sāffāt37; 40-49, 60-62). Di sinilah kaum mukmin memperoleh segala yang dikehendakinya (Qs. Qaaf50;35). Orang-orang beriman ini akan berkumpul kembali dengan keluargannya atau yang dikasihinnya di dunia dulu, jika memang sama-sama beriman, dan masing-masing tak ada yang pahalanya berkurang (walaupun mungkin di dunia dulunya sebagian amal dan do’anya, pahala diperuntukkan bagi keluarganya yang lain –Qs. Al-Tūr52;21). Dan tentu saja kebahagiaan tertinggi adalah diberikannya mereka wajah yang berseri-seri dan dengan wajah itulah mereka “melihat Tuhan” [ru’yah] (Qs. Al-Qiyamah75;22-23).

Surga diciptakan oleh Allāh tidak hanya satu jenis. Sejauh pernyataan harfiyah al-Qur`ān, surga berjumlah empat. Empat surga itu pun oleh Allāh diklasifikasikan dalam dua gambaran. Pertama, surga yang terdiri dari pohon-pohonan serta buah-buahan, memiliki dua mata air, segala buah dan makanan yang diinginkan berdatangan sendiri, penghuninya duduk dalam permadani sutra di bawah rerimbunan pepohonan dengan didampingi oleh bidadari yang belum/tidak pernah tersentuh, seperti permata yakut dan marjān. Di sinilah segala bentuk kebaikan dibalas (Qs. Al-Rahmān55;46-63).[46]

Kedua, surga berwarna hijau yang memiliki dua mata air yang memancar, penuh dengan buah-buahan terutama kurma dan delima, juga dihiasi dengan bidadari yang baik dan cantik jelita yang dipingit dalam ruang-ruang khusus, serta belum pernah tersentuh, dengan kesucian abadi, mereka bercengkerama dan duduk-duduk dalam tahta hijau berpermadani indah. Semua ini tidak lain adalah menunjukkan keagungan Allāh (Qs. Al-Rahmān55; 64-78). Nampaknya surga kedua inilah yang lebih realistis, dan inilah surganya para Nabi, syuhadā’, shiddīqin, dan lihīn. Di bawah yang berwarna hijau, masih ada yang berwarna kuning, merah, putih dan hitam sesuai dengan derajat penghuninya.[47]

Surga tersebut hanyalah disediakan bagi orang yang bertaqwa, dan mereka senantiasa selalu berusaha dan berdoa. Dalam Qs. Ali Imran3;15-17 dicantumkan sebagian ahli-ahli surga yakni yang melakukan;

  1. Berdo’a rabbanā innanā āmannā fagfirlanā żunūbanā waqinā ‘ażāb al-nār,
  2. Shabar,
  3. Qānitāt [ketaatan yang tidak pernah luntur],
  4. Menafkahkan hartanya dijalan Allāh,
  5. Selalu meminta ampun di waktu sahur (sebelum fajar mendekati subuh).

Jadi surga merupakan alat tukar yang diberikan Allāh hanya kepada orang-orang yang memberikan jiwa dan hartanya demi jihad Islām,[48] bertaubat, beribadat, selalu memuji Allāh, melawat untuk mencari ilmu dan berjihad serta berpuasa, selalu ruku’ dan sujud, mengerjakan ‘amar ma’rūf nahi munkar secara aktif serta selalu memelihara hukum-hukum Allāh (Qs. Al-Taubah9;111-112). Mereka itulah yang disebut sebagai golongan kanan yang paling dulu beriman (Qs. Al-Wāqi’ah56;8-10), yang sebagian besarnya adalah ummat terdahulu sebelum Rasūlullāh, dan sebagian kecil adalah umat Rasūlullāh Muhammad (ayat 13-14).

Bagi mereka akan diberi pahala; (1) tahta dari emas, (2) selalu akrab antara satu dengan yang lain, (3) selalu muda, (4) disediakan segala macam minuman yang tidak memabukkan dan tidak membosankan, (5) tersedia segala aneka buah-buahan yang tiada henti, (6) daging-daging segala hewan, (7) bidadari yang seperti mutiara tersimpan, (8) tidak ada perkataan buruk sama sekali kecuali ucapan salām dan dikelilingi pohon-pohon bidara tanpa duri serta pisang-pisang yang indah dan lebat, (9) diberi naungan yang luas dan indah, (10) air yang senantiasa tercurah, (11) kasur-kasur tebal dengan bidadari yang tetap perawan, sebaya serta penuh cinta dan kasih-sayang.

Allāh juga membuat tamsilan surga itu sebagai tempat bagi orang yang bertaqwa yang sungai-sungainya mengalir terus menerus, buah-buahannya tumbuh tanpa henti, dan kerindangannya menaungi dengan teduh (Qs. Al-Ra’d13:35). Sedangkan sungai-sungai itu tidak pernah rusak, sungai susunya tidak pernah berubah cita rasanya, sungai-sungai minuman yang lezat, sungai madu yang murni-bersih, segala macam, buah-buahan, dan disertai dengan penuhnya ampunan Allāh. Dan ini berkebalikan dengan kondisi neraka yang disiapkan konsumsinya dengan air yang mendidih dan api menggelegak (Qs. Muhammad 47:15).

Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa janji surga yang diiringi dengan janji adanya bidadari di surga hanya menyangkut amal-amal tertentu, walaupun secara umum disebutkan bahwa hal itu teruntuk bagi orang beriman dan beramal sālih}.

al-S{ābūnī menyebutkan bahwa kabar gembira dengan surga yang teriring dengan janji pasangan bidadari diperuntukkan bagi orang beriman yang bertaqwa, menegakkan keimanan dan ketaqwaannya dengan perilaku sehari-hari,[49] dan di dunia termasuk orang yang muhsinun, yang merupakan hasil terkumpulnya watak keimanan dan amal sālih},[50] mengutamakan kebajikan dalam segala segi (al-abrār) dan mengataskan keataatan kepada Allāh,[51] yang dengan al-abrār serta al-‘amal al- sālih} itulah di akhirat wajah mereka akan diputihkan oleh Allāh.[52]

Keimanan mereka adalah suatu sikap pembenaran total atas ayat-ayat Allāh, yang dengan itu ia benar-benar berserah diri atas hukum-hukum Allāh serta semua perintah-Nya, dan berislām atas-Nya dengan menekadkan dalam hatinya untuk selalu mentaati-Nya.[53]

Bagi mereka, menurut al-Sābūnī, selain mendapatkan balasan berkumpul dengan keluarga, yakni isteri/suami (syarikahum) dan anak-anaknya, juga mendapatkan balasan bidadari sebagai pasangan dan pendampingntya.[54] Jadi, di sini secara jelas, al-Sābūnī membedakan antara isteri/suami bagi ahli surga dengan bidadari. Ini berarti al-Sābūnī memegang pendapat yang menyatakan bahwa bidadari khusus diciptakan di surga.

Karakter lain yang disebut al-Sābūnī, bagi hamba yang mendapatkan nikmat tambahan bidadari adalah seorang hamba yang di saat berdiri menyembah Tuhannya selalu merasa takut karena ia menghisab dirinya atas amalnya sendiri.[55] Sifat khāfa ini tentunya adalah sebagai efek ketaqwaan yang mendalam dalam diri seorang mukmin, yang disebut sebagai selalu berhati-hati dalam menjaga dan mensucikan kerimanannya,[56] sehingga keadaannya mendatangkan kekaguman dari Allāh dan penghuni langit.[57]

Dari hisabnya itulah, kemudian seorang beriman selalu berbuat kebajikan dengan penuh keikhlasan. al-Sābūnī juga menyatakan bahwa hamba yang mendapat karunia surga beserta bidadarinya adalah orang beriman yang dalam beribadahnya dihiasi dengan keikhlasan meng-Esakan Allāh (ikhlas tauhīd). Sehingga bukan karena dorongan takut akan ‘ażāb. Ia tidak pernah kendor dalam hisab pribadinya, tidak pernah bertambah kejelekannya, justru amal kebaikannya yang selalu meningkat.[58]

al-Sābūnī juga menyebutkan karakter; seseorang yang selalu menjadi pelopor atas kebaikan (al-khairāt) dan keadaban (al-hasanāt), baik dari kalangan umat era Nabi maupun dalam masa akhir, selalu mendekatkan diri kepada Allāh, di dalam kesendirian dunia, dalam naungan ‘arsy, dan di tempat ibadah yang dimuliakan,[59] atau tegasnya orang yang dalam ketaqwaannya berada dalam kepengikutan pola Rasūlullāh.[60]Merekalah penghuni tetap surga selamanya.[61] Sebab memang surga disediakan oleh Allāh bagi pemilik sifat di atas –disertai dengan jihad dan bertaubat- yang nikmat-nikmatnya tidak akan berakhir, kebahagiaan penduduknya tidak pernah surut dan segala apa yang diterima mereka tidak bisa dikira-kirakan, apalagi dihitung.[62] Sehingga penggambarannya hanya dapat dilakukan dengan simbol-simbol yang gampang dimengerti manusia.

Jadi terhadap pertanyaan, apakah semua orang beriman yang masuk surga pasti mendapatkan balasan bidadari? Maka dalam hal ini memang dalam tafsīr Safwah -nya, al-Sābūnī tidak pernah menyatakan secara tegas, namun melihat klasifikasi yang disebutkan di atas, nampaknya, jawabannya tidak semua yang masuk surga pasti mendapatkan bidadari. Hanya yang memiliki karakter amal sālihdi atas yang mendapatkan kelengkapan bidadari, sehingga inilah jawaban atas pertanyaan mengapa pahala bidadari disebut sebagai nikmat tambahan.

Klasifikasi tersebut juga mengisyaratkan bahwa yang terpenting bukanlah mendapatkan bidadarinya, akan tetapi jenis amal perbuatan yang menyebabkan seseorang mendapatkan kesempurnaan balasan dengan simbol bidadari itulah yang menjadi tujuan simbol tersebut.

Simbolitas ini semakin nampak, jika ditilik dari segi sastra. al-Sābūnī mengungkapkan bahwa balasan Allāh berupa bidadari yang elok dan belum pernah tersentuh, jelas merupakan bentuk penggambaran yang tidak menyebutkan sisi penggambarannya, oleh karena kata bantu penggambarannya tidak disebutkan pula maka dalam disiplin ilmu sastra arab disebut tasybīh-mursal-mujmal.[63]

Dengan simbolitas-simbolitas itulah, kesenangan manusia yang terpendam dalam dirinya diusik agar berubah menjadi motivasi positif bagi kehidupan keagamaannya. Maka pertanyaan Allāh yang diulang-ulang dalam Qs. Al-Rahmān menjadi sangat relevan,“ni’mat Tuhan yang mana yang bisa kamu dustakan?”. Menurut al-Sābūnī, pertanyaan ini mengandung teguran keras dan celaan,[64] karena tidak ada nikmat yang bisa didustakan, namun dalam prakteknya manusia banyak yang tidak mengaplikasikan. Jadi ruh ayat-ayat simbol tersebut bukan pada bentuk simbolnya, akan tetapi ruhnya adalah kata “ni’mat” sebagai balasan amal kebajikan di surga.[65]

 

     قال اللهُ تَعَالَى: )وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ(.

            (Q.S. Ibrahim [14]: 5)

            solidaritas al-aqshadakwatuna.com – Para Mufassir ([2]) menafsirkan hari-hari Allah di ayat di atas dengan sejarah umat-umat terdahulu ([3]) yang menuturkan pesan-pesan kehidupan. Di antara mereka ada yang dilaknat dan diazab karena kafir terhadap ajaran-ajaran rasul mereka. Kelompok ini dilukiskan Al-Quran sebagai jamaah yang menikmati segala bentuk kenikmatan dunia fana yang sesaat, tetapi melarat kekal di akhirat. Ada pula dari mereka yang beriman, mereka itulah yang selamat dari laknat dan siksaan tersebut, meski mereka dihina dan dicemooh oleh para pembesar kaum mereka yang membangkang, disiksa dan dijauhkan dari nikmat-nikmat dunia, tetapi Al-Quran mengabadikan mereka sebagai umat yang selamat di akhirat meraih ridha Allah SWT.

            Jika Anda bertanya: “bukankah hari-hari Allah itu terbentang luas sejak penciptaan bumi dan langit hingga akhirat? Kenapa hanya hari-hari tersebut yang mendapatkan penekanan khusus dari Al-Quran?”

            Ya, apa yang ada di dunia ini, termasuk hari-harinya, milik Allah, tetapi di antara hari-hari itu ada beberapa hari yang patut diperingati, bukan sekadar dirayakan. Olehnya itu, ayat tersebut diawali dengan kata tazkir (وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ) yang berarti memperingati dan bukan dengan kata lain, seperti: (مُرْهُم يَحْتَفِلُوْن) yang artinya serulah mereka merayakan hari-hari Allah. Yang demikian itu karena tidak semua perayaan menanamkan pesan-pesan hidup, beda halnya dengan peringatan hari-hari tertentu yang mengukir makna-makna perjuangan hidup, seperti hari Proklamasi Kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945 yang senantiasa diperingati tiap tahun, dan 10 Muharram atau yang lebih dikenal dengan 10 Asyura’. Makna ini diperkuat oleh kalimat berikutnya (إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ) yang menegaskan bahwa yang dititikberatkan setiap peringatan hari-hari tertentu adalah kejadian-kejadian bersejerahnya, dan bukan sekadar mengingat harinya, tanpa menggali hikmah-hikmahnya. Ini ditandai dengan huruf (فِيْ) yang memberi penekanan bahwa apa yang terbungkus dalam kulit hari-hari itu dari sejarah-sejarah umat merupakan ayat-ayat Allah yang punya keurgensian tersendiri. Jadi,  makna ini mustahil ditemukan jika huruf (فِيْ) dihilangkan dari sistematika ayat ini atau diganti oleh huruf lain.

Olehnya itu, tidak semua manusia mampu menangkap hikmah pahit-manisnya kehidupan sejarah umat-umat terdahulu seperti yang ditegaskan kalimat berikutnya (إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ). Yang dapat menangkapnya hanyalah orang-orang sabar lagi syukur. Yang demikian itu karena sejarah mereka tidak lepas dari pahit-manisnya kehidupan yang silih berganti. Karena sunah kehidupan manusia seperti itu, sehingga umat manusia sepanjang zaman dianjurkan bersabar jika ditimpa kesulitan, kemalangan, dan penderitaan, dan apabila dikarunia kenikmatan ia pun dianjurkan bersabar. Olehnya itu, hanya yang bersabar dan bersyukur ditakdirkan meniti sunah tersebut.

Jalan hidup seperti ini tidak asing lagi bagi umat ini. Bukankah Rasul Saw telah memberikan keteladanan dalam hal ini. Beliau kadang ditemukan dalam keadaan lapar, di lain waktu ditemukan merasa kenyang. Tetapi, di kala lapar ia berdoa meminta kemudahan rezeki, dan di kala kenyang dia memuji dan mensyukuri Allah. Sunah ini seperti yang dimuat di hadits berikut:

(أَخْبَرَنَا أَبُو نَصْرِ بْنُ قَتَادَةَ, أَنَا أَبُو عَلِيٍّ حَامِدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الرَّفَّا, ثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ, ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ صَالِحٍ الْمِصْرِيُّ, حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ, عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ زَحْرٍ, عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ, عَنِ الْقَاسِمِ, عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا, فَقُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ, وَلَكِنْ أَجُوعُ يَوْمًا وَأَشْبَعُ يَوْمًا, فَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ, وَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَدَعَوْتُكَ)). ([4])

Apa yang dipaparkan di atas salah satu dalil terhadap bolehnya memperingati hari-hari bersejarah, khususnya hari-hari Islam, seperti Maulid Nabi Saw, Isra’ Mi’raj, dan tahun baru hijriah.

Rasulullah Saw pun ditemukan merayakan hari kelahirannya ([5]) dengan berpuasa. Olehnya itu, umatnya pun dianjurkan memperingati maulidnya tiap tahun karena di sana ada pelajaran hidup. Bukankah sejak kandungan hingga dilahirkan, bahkan sebelum beliau dalam kandungan, di sana terdapat tanda-tanda kenabian yang mengisyaratkan keagungan agama ini? ([6])

Di samping itu, Rasulullah Saw menganjurkan sahabat berpuasa di hari Asyura. Namun, karena beliau mendapatkan orang Yahudi berpuasa pada hari itu juga, beliau pun menganjurkan sahabat menambah satu hari, sebelum atau sesudah hari kesepuluh Muharram. Yang demikian itu karena pada hari tersebut Allah menyelamatkan Nabi Musa As dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan kaumnya dengan menenggelamkan mereka. Di kesempatan lain pada hari yang sama perahu Nabi Nuh A.S selamat berlabuh di gunung Judi (gunung ini terletak di tepi Mosel) dari banjir yang menenggelamkan kaumnya.

Sunah ini dapat dilihat di hadits-hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ t قَالَ: (قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَرَأَى الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَ؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، قَالَ: فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، قَالَ: فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصَوْمِهِ). ([7])

قال العقدي مولى ابن عباس: (أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لَئِنْ عِشْتُ إِلَى قَابِلٍ صُمْتُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ يَوْمَ التَّاسِع). لفظ حديث العقدي أخرجه مسلم من حديث ابن ذئب، وروينا عن ابن عباس أنه قال: (صُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ، وَخَالَفُوْا الْيَهُوْدَ). ([8])

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ شُبَيْلٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: (مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ؟ قَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ، وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى، وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ، فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ). ([9])

Sunah ini salah satu dalil yang menganjurkan umat Islam untuk tidak menyerupai orang-orang Yahudi, baik dalam beribadah atau berpenampilan. Olehnya itu, karena pada hari ini juga mereka telah menyerang Umat Islam di Gaza, Palestina, kita pun dituntut bangkit melakukan jihad dalam bentuk apa pun. Di antara bentuk jihad maknawi berpenampilan islami jauh dari gaya hidup Yahudi, memboikot produksi-produksi mereka. Yang demikian itu karena mereka bukan hanya menghancurkan infrastruktur dan ekonomi masyarakat Islam, tetapi invasi militer mereka yang tidak manusiawi (menggunakan senjata kimia dan biologi yang dilarang penggunaannya oleh kesepakatan negara-negara dunia) telah memakan korban jiwa yang cukup banyak. Jadi, jihad maknawi ini tidak lain kecuali kepedulian antar sesama muslim yang senantiasa merasakan penderitaan sesama dengan berkiblatkan sunah Rasulullah Saw.

Di penghujung tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati sunah Rasulullah Saw menyuarakan kesimpulan berikut:

“Jalani hari-hari Allah dengan sabar dan syukur, dengan sabar Anda dapat melewati masa-masa sulit yang penuh dengan cobaan, dengan syukur Anda tahu menghargai dan memuji nikmat sekecil apa pun dari Allah, dengan cara hidup seperti ini Anda telah menghidupkan salah satu sunah Nabi Saw. Di lain sisi, Anda pun dianjurkan untuk mengetuk pintu sunnah lain dengan menjauhi gaya hidup Yahudi yang jauh dari Syariat. Yang demikian itu terhitung sebagai jihad maknawi dalam menebar pesona keindahan Islam dan cara hidup Rasulullah Saw. Hidupkan sunah Rasulullah Saw dari pintu-pintu dari sekarang!”

 

([1])   Ditulis pada hari Sabtu, 10 Muharram 1433 H/17 November 2012

([2])   Seperti Az-Zamakhsyari di al-Kassyâf, vol. 3, hlm. 363, Imam al-Qurtubhi di al-Jâmi’ lil Ahkâm, vol. 9, hlm. 341-342, dan Tafsir Syekh Abu Suud, vol. 3, hlm. 472

([3])   Seperti kaum Nabi Nuh, Âd, Tsamud, dan Fir’aun.  

([4])   Hadits riwayat Abu Umamah al-Bahili di al- Jâmi’ li Syuabil Iman, kitab az-Zuhd, hadits. no: 9925, vol. 13, hlm. 43

([5])   pada hari Senin, Rabiul Awal, tahun gajah 571 M di kota Mekah.

([6])   Sebelum menikah bapak Rasulullah Saw, Abdullah bin Abdul Muttalib, punya wajah bercahaya, sehingga setiap gadis yang melihatnya mendambakan dirinya sebagai istrinya. Namun, setelah ia menikah dengan Aminah binti Wahab, ibu Rasulullah Saw, cahaya itu pun hilang dari mukanya, sehingga gadis-gadis kota Mekah yang dahulunya terpikat oleh ketampanan Abdullah sudah tidak punya keinginan lagi untuk diperistri olehnya. Para ahli sirah melihat bahwa cahaya itu telah berpindah ke dalam diri Rasulullah Saw.

     Di hari lahir Rasulullah Saw ibunya melihat cahaya yang keluar bersamanya, cahaya itu terlihat menyinari istana-istana di Syam, dan di waktu yang sama patung-patung yang digantung di Ka’bah berjatuhan, rumah-rumah mungil (tempat istirahat) yang mengelilingi istana Kisra (di al-Madâin bagian selatan Bagdad) jatuh, air telaga Sawa di Kisra surut, dan api bangsa Persi padam yang sebelumnya tidak pernah padam sekali pun selama seribu tahun disembah. Para ahli sirah menafsirkan bahwa agama baru ini akan memerangi kemusyrikan dan menghancurkan patung-patung sembahan. Sementara itu, cahaya yang terlihat menyinari istana-istana di Syam tanda bahwa pengaruh Islam akan sampai ke sana.

Kejadian-kejadian luar biasa ini dapat dilihat di hadits-hadits berikut:

(عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: (إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ، وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ؛ دَعْوَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى بِي، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ، وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ يَرَيْنَ، وَإِنَّ أُمَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَأَتْ حِينَ وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ)).

Hadits riwayat al-Irbash bin Sâriyah R.A di al-Jâmi’ li Syuabil ImanFashl fi Syarafi Ashlihi wa Thaharah Mawlidihi Sawhadits. no: 1322, vol. 2, hlm. 510

(حَدَّثَنَا مَخْزُوْمٌ بِنْ هِانِئ الْمَخْزُوْمِي، عَنْ أَبِيْهِ، وَأَتَتْ عَلَيْهِ مِائَةٌ وَخَمْسُوْنَ سَنَةً، قَالَ: لَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الَّتِي وُلِدَ فِيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْتَجَسَ إِيْوَانُ كِسْرَى، وَسَقَطَتْ مِنْهُ أَرْبَعَ عَشَرَة شُرْفَةً، وَخَمُدَتْ نَارُ فِارِس، وَلَمْ تَخْمُدْ قَبْلَ ذَلِكَ بِأَلْفِ عًامٍ، وَغَاضَتْ بُحَيْرَةُ سَاوَة).

Diriwayatkan Imam al-Baihaqi di Dalâil an-Nubuwwah wa Ma’rifah Ahwaâl Shâhibi as-Syariah, ditakhrij haditsnya dan dikomentari oleh Dr. Abdul Mu’ti’ Qal’aji, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, vol. 1, hlm. 126

Dan untuk referensi sirah silakan lihat: Ustadz Said Nursi, al-Mu’jizât al-Ahmadiyyah, diarabkan oleh Ihsan Qasim as-Shalihi, Sözler Publications, Cairo, cet. 2, 2009 M, hlm. 198-199, lihat juga: Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, vol. 9, hlm. 236, dan Safiyyu ar-Rahman al-Mubarkafuri, ar-Rahîq al-Mahtum, Dar Ibn Khaldun, hlm. 41

([7])   Hadits riwayat Ibn Abbas R.A di Shahih Imam Bukhari, kitab as-Sawm, bab Shiyâmi Yawm Asyurâ, hadits. no: 2004, hlm. 516

([8])   Hadits riwayat al-Uqadi, mawla Ibn Abbas R.A di al-Jâmi’ li Syuabil Iman, hadits. no: 3787, vol. 3, hlm. 364

([9])   Hadits riwayat Abu Hurairah R.A di Musnad Imam Ahmad, hadits. no: 8717, vol. 14, hlm. 335

     Syekh Syuaib al-Arnauth melemahkan sanad hadits ini.

1- Haji Nabi Saw

1- Haji Nabi saw      

 

Sangat penting sekali mengetahui bagaimana Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji demi untuk bisa dijadikan tauladan bagi kita sesuai dengan sabda beliu:

خُذُوْا عَنِّىمَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku manasik haji kalian”

Maka saya sajikan dibawah ini hadits shahih Muslim bab Hajjatun Nabiyyi saw diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra yang menerangkan cara haji Rasulullah saw, dan disertakan beberapa komentar dari ulama. Semoga bisa dijadikan tauladan bagi kita.

Jabir ra berkata: “Bahwa Rasulullah saw selama tinggal di kota Madinah sembilan tahun belum pernah melaksanakan haji. Kemudian diumumkan kepada manusia pada tahun ke 10 H bahwa Rasulullah saw akan melaksanakan ibadah haji. Maka banyak para sahabat yang berdatangan ke kota Madinah, semua ingin melakukan haji bersama Rasulullah saw dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Lalu kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzu al-Hulaifah.  Setiba kami ditempat ini, Asma’ binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar Shiddiq, maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah saw untuk meminta keterangannya apa yang harus diperbuatnya, beliaupun bersabda “Mandilah dan tutuplah (sumbatlah) tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah.  Kemudian Rasulullah saw melaksanakan shalat di masjid.

Nabi saw Berihram

Kemudian beliau menaiki unta al-Qashwa’ hingga tiba di padang pasir terbuka, beliau berihram dengan mengucapkan لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ  ” Ya Allah aku menjawab panggilan-Mu untuk melaksanakan haji”.

Selanjutnya Jabir berkata: “Maka aku melihat sepanjang mata memandang dari depan beliau para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan kaki, demikian pula disisi kiri beliau, disisi kanan beliau dan dibelakang beliau penuh dengan jama’ah haji, sementara Rasulullah saw berada di tengah-tengah kami, dan diturunkan wahyu kepada beliau, dan beliau mengetahui penafsirannya. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah” yang berisikan tauhid kepada Allah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ

 

“Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah dengan talbiyah yang mereka ucapkan, maka Rasulullah saw tidak membantah sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah saw terus bertalbiyah.

Selanjutnya Jabir berkata: “Kami tidak berniat kecuali haji, kami tidak mengetahui umrah.”

Nabi saw Masuk Makkah

“Hingga tatkala kami telah sampai di Baitullah bersamanya beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan seperti biasa pada empat putaran berikutnya. Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim dan membaca: وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى  “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat”

Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca: Qulhuwallaahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Setelah shalat beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya diatas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.

Nabi saw Antara Shafa dan Marwah

Kemudian beliau menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

 

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajiikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha-mensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ  “Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

Lalu beliau memulai dengan menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arahnya (kiblat). Maka beliaupun mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya, serta mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرٍيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

 

“Tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang Mahaesa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan musuh yang bersekutu dengan sendirian.”

Beliau berdo’a dan mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali. Kemudian beliau turun dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah, apabila kedua kakinya telah menginjak ditengah lembah itu, beliau berlari, hingga apabila kedua kaki-nya mulai mendaki, beliau berjalan seperti biasa, hingga tiba di Marwah, lalu menaikinya hingga melihat Ka’bah, dan beliau lakukan di Marwah seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.”

Pada tiba akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda:

أَحِلُّوْا مِنْ إِحْرَامِكُمْ فَطُوْفُوْا بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَقَصِّرُوْا وَأَقِيْمُوْا حَلاَلاً حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ فَأَهِلُّوْا بِالحَِجِّ وَاجْعَلُوْا الَّتِيْ قَدِمْتُمْ بِهَا مُتَعَةً

 

“Bertahallullah dari ihram kalian, maka thawaflah di Baitullah dan di antara Shafa dan Marwah, serta pendekkanlah (rambut-rambut kalian), dan tinggallah di Makkah sebagai orang yang halal (tidak dalam keadaan berihram) hingga datangnya hari Tarwiyah, maka berihramlah untuk haji dan jadikanlah apa yang telah kalian datang dengannya sebagai haji Tamattu’.”

Selanjutnya Jabir ra berkata: Maka bangkitlah Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang pada saat itu dia berada di kaki bukit Marwah, ia berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ عُمْرَتَنَا؟ – وَفِيْ لَفْظٍ: مُتْعَتَنَا؟- أَلِعَامِنَا هَذَا أَمْ لأَبَدٍ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ  أَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فِيْ أُخْرَى وَقَالَ: دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِيْ الْحَجَّ –مَرَّتَيْنِ- (إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ) “لاَ” بَلْ لأَبَدٍ أَبَدٍ

 

“Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang umrah kami ini? -Dalam lafadh yang lain: Tamattu’ kami ini? Apakah hanya untuk tahun kita ini saja atau untuk selamanya? Maka Rasulullah saw mencengkeramkan (menyatukan) jari-jari tangan kanannya pada jari-jari tangan kiri-nya, dan berkata: Umrah telah masuk dalam haji’, umrah telah masuk dalam haji (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”

Maka bangkitlah Rasulullah saw menyampaikan khutbah kepada para jama’ah haji, beliau memuji dan menyanjung Allah, lalu bersabda:

أَبِاللهِ تَعْلَمُوْنِيْ أَيُّهَا النَّاسُ!؟ قَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّيْ أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَ أَصْدَقُكُمْ وَ أَبَرُّكُمْ، افْعَلُوْا مَا آمُرُكُمْ بِهِ فَإِنِّى لَوْ لاَ هَدْيِىْ لَحَلَلْتُ كَمَا تَحِلُّوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَحِلُّ مِنِّى حَرَامٌ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْىُ مَحِلَّهُ ، وَلَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ

 

“Demi Allah, wahai sekalian manusia apakah kalian mengetahui aku? Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti, laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul, akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya (hingga disembelih). Seandainya dahulu aku mengetahui dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”

Maka bertahallullah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah saw dan mereka memendekkan rambut, kecuali Nabi saw dan mereka yang telah membawa binatang hadyu, dan tidak ada di antara mereka yang menggiring binatang hadyu, kecuali Nabi saw dan Thalhah bin Ubaidillah ra.

Kemudian Ali bin Abi Thalib ra tiba dari Yaman dengan membawa sejumlah unta Nabi saw, lalu ia mendapati Siti Fathimah ra (istrinya) termasuk di antara mereka yang bertahallul, ia memakai pakaian yang dicelup dengan wangi-wangian dan memakai celak mata, maka Ali ra mengingkari (perbuatannya) itu. Fathimah ra berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh ayahku untuk bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya), ketika Ali ra berada di Irak, dia berkata (menceritakan kisahnya ketika melihat Fathimah bertahallul).

“Maka aku pergi kepada Rasulullah saw, dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah saw tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah dari Rasulullah saw. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah (dalam hal tahallulnya), maka beliau bersabda: “Dia (Fathimah) benar, dia benar. Dan beliau berkata kepada Ali: “Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?” Ali berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang Rasul-Mu berihram dengannya.”

Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya): “Dengan demikian jumlah binatang hadyu yang dibawa Ali dari Yaman dan yang dibawa oleh Rasulullah saw sebanyak 100 ekor unta.”

Jabir berkata: “Maka bertahallullah seluruh jama’ah haji dan memendekkan rambut-rambut mereka, kecuali Nabi saw dan mereka yang membawa hadyu.”

Nabi saw Ke Mina Pada Hari Tarwiyah

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), para jama’ah haji berangkat menuju Mina. Ketika akan berangkat dari tempat tinggal mereka, mereka berihram untuk haji dengan mengucapkan: “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ”.

Jabir berkata: “Kemudian Rasulullah saw masuk menemui Aisyah ra sebelum berangkat ke Mina. Beliau dapati Aisyah sedang menangis, maka beliau berkata: “Apa-kah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” Aisyah berkata: “Keadaanku, aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf umrah di Baitullah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاَغْتَسِلِى ثُمَّ أَهِلِّى بِالْحَجِّ ثُمَّ حُجِّى وَاصْنَعِى مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ وَلاَ تُصِلِّى – فَفَعَلَتْ

 

“Sesungguhnya (haidh) itu adalah suatu perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah untuk haji:                لَبَيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ , lalu hajilah dan lakukanlah semua amalan yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat , maka Aisyah pun melaksanakannya.”

Kemudian Rasulullah saw mengendarai untanya dan berangkat ke Mina. Disana beliau melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh, kemudian beliau tetap menunggu disana sejenak hingga matahari terbit, lalu memerintahkan untuk mendirikan sebuah kemah dari bulu unta yang dipersiapkan untuk beliau (berteduh ketika wuquf) di Namirah (Arafah).

Nabi saw Menuju Arafah

Lalu berangkatlah Rasulullah saw dan orang-orang Quraisy dengan tidak ragu. Namun beliau berhenti pada Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah, disitulah tempat turun beliau, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi sebuah tempat dekat padang Arafah, dan beliau jumpai bahwasanya kemah beliau telah dibangun di Namirah (Arafah), lalu beliaupun turun ditempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau, al-Qashwa’, segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah.

Khutbah Nabi saw di Arafah

Beliau bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوْعٌ

 

“Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan dibawah kedua telapak kakiku ini.

وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَاءِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيْعَةَ ابْنِ الْحَارِثِ – كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِيْ بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ – وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ وَ أَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَا عَبَّاسٍ ابْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوْعٌ كُلُّهُ

 

“Darah-darah di zaman Jahiliyyah diletakkan/dibatalkan dari tuntutan dan tuntutan darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan dikalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku letakkan/batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan.”

فَاتَّقُوْا اللَّهَ فِيْ النِّسَاءِ وَإِنَّكُمْ أَخَذْ تُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِـمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَـكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاضْرِبُـوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَـيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

 

“Bertakwalah kamu kepada Allah dalam memperlakukan para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorang pun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki (makan) dan pakaian dengan cara yang baik.”

وَإِنِّى قدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا – لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَ أَنْتُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟ قَالُوْا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِأَصْبُعِهِ السَّبَـابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيُنْكِتُهَا إِلَى النَّاسِ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ (ثَلاَثَ مَرَّات)

 

“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? Para sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan (risalah), menunaikan (amanah) dan menasihati (ummat), lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuk-nya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat (jama’ah haji): ‘Ya Allah saksikanlah! (beliau mengucapkannya tiga kali)

Kemudian Bilal ra mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu beliau melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki berada didepannya, beliau mengahadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari terbenam dan hilangnya mega kuning, serta bola matahari tenggelam. Ketika wuquf beliau membonceng Usamah bin Zaid dibelakangnya.

Nabi saw ke Muzdalifah

Lalu Rasulullah saw bertolak dari Arafah dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kendali unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya (kepada para jama’ah haji) seraya bersabda:

أَيُّهَاالنَّاسُ السَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ

“Wahai manusia tenanglah, tenanglah”

Setiap kali beliau tiba dibukit pasir, beliau longgarkan kendali untanya sedikit hingga untanya mendaki.

Sesampainya di Muzdalifah, beliau melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring (tidur) hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.

Kemudian Rasulullah saw naik al-Qashwa’ hingga tiba di Masy’aril Haram, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil (mengucapkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaah) serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksanakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata:

وَقَفْتُ هَهُنَا وَالْمُزْدَلِفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

Nabi saw Melempar Jumratul ‘Aqabah

Sebelum matahari terbit, beliau bertolak (dari Muzdalifah ke Mina), beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas, ia adalah seorang yang berambut indah, berkulit putih dan berparas tampan. Ketika Rasulullah saw berangkat, maka ada beberapa wanita berlari melewati beliau, Fadhl pun melihat kepada mereka (para wanita itu), maka Rasulullah saw menempelkan tangannya diatas wajah Fadhl, lalu Fadhl memutar wajahnya ke arah yang lain, maka beliaupun memutar tangannya ke arah yang lain itu sambil memalingkan wajah Fadhl agar melihat ke arah lain, hingga beliau tiba di lembah Muhassir dan sedikit mempercepat gerak (jalan) untanya.

Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir (membaca:اللَّهُ أَكْبَرْ ) pada setiap lontaran, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:

لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ  بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

 

“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”

Nabi saw Menyembelih Binatang Hadyu

Lalu Rasulallah saw berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau, kemudian diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu binatang kurban yang selebihnya disembelih oleh Ali dan digabung-kan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.

Dalam riwayat lain: “Rasulullah saw menyembelih (hewan hadyu), lalu mencukur (rambut kepalanya sampai bersih), lalu beliau duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijjah). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu pekerjaan yang dilakukan pada hari itu yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “lakukanlah dan tidak mengapa, tidak mengapa.”

Nabi saw Thawaf Ifadhah

Kemudian Rasulullah saw mengendarai untanya, lalu bertolak ke Baitullah, kemudian melaksanakan thawaf ifadhah, dan beliau shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam (kepada para jama’ah haji), lalu berkata:

اِنْزِعُوْا بَنِى عَبْدِالْمُطَّلِبِ فَلَوْ لاَ أَنْ يَـغْلِبَكُمُ النَّاسُ لَنَزَعْتُ مَعَكُمْ فَنَاوَلُوْهُ دَلْوًا فَشَرِبَ مِنْهُ

 

“Timbalah (air zam-zam itu) wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya aku tidak merasa khawatir kamu akan dikalahkan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka meyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”


Tips Nyaman Beribadah Haji :

  • Jangan tergantung pembimbing
  • Mantapkan tata cara berhaji
  • Hafalkan doa-doa
  • Buat kelompok kecil

Tips Manasik Haji :

Tips Tawaf dan Sa’i :

  1. Hafalkan do’a-do’a singkat, jangan disibukkan dengan catatan
  2. Berangkat dalam rombongan
  3. Makan sebelum berangkat
  4. Buat kelompok kecil
  5. Sepakati lokasi pertemuan
  6. Hindari waktu padat
  7. Pindah ke lantai dua dan tiga jika padat

Tips Mencium Hajar Aswad :

  1. Ambil waktu yang kondisi sekitar ka’bah tidak terlalu padat
  2. Pastikan fisik kuat
  3. Jangan bawa barang berharga
  4. Pastikan cara berpakaian ihram benar dan kuat
  5. Jangan gunakan joki
  6. Tidak lama-lama
  7. Hindari menyakiti sesama jamaah

Tips Menjadi Tamu Allah 
”Baitullah ini adalah salah satu pilarnya agama Islam. Barangsiapa yang berniat menuju ke Baitullah, baik para haji ataupun yang berumrah, maka mereka dijamin oleh Allah SWT apabila meninggal dunia dalam perjalanan, maka mereka akan ditempatkan di surga dan mereka yang pulang dengan selamat ke negerinya akan membawa pahala serta harta benda (Ghonimah)”
-Hadis Riwayat Ibnu Juraih-

Tips Pelaksanaan Ibadah Haji

Tips Masuk Masjid Agar Tidak Tersesat :

  1. Datang ke masjid minimal setengah jam sebelum waktu shalat
  2. Ingat nomor atau nama pintu masuk, kenali seperlunya
  3. Bawa kantong kain untuk menyimpan alas kaki, payung dan sebagainya, dan bisa dibawa saat sholat.
  4. Sebelum masuk masjid buat janji di mana akan bertemu jika ingin pulang bersama.
  5. Jangan lupa juga janji pukul berapa bertemu.
  6. Tempat berkumpul bisa dipasangi bendera rombongan tinggi-tinggi agar mudah dilihat dari kejauhan.
  7. Membuat identitas unik rombongan, bisa dengan selempang, slayer, atau pita di jilbab.

Tips nyaman beribadah :

  1. Jangan tergantung pembimbing
  2. Mantapkan tata cara berhaji
  3. Hafalkan doa-doa
  4. Buat kelompok kecil

Tips Agar Tidak Tersesat :
Setiap tahun selalu ada saja laporan jamaah yang tersesat. Untuk itu perlu dicoba tips-tips berikut ini:

  • Hafalkan Lokasi sebelum keluar maktab
  • Hafalkan maktab Anda serta cacat juga nomor telepon dan atau alamat pondokan Anda
  • Bawalah catatan tersebut setiap meninggalkan pondokan.

Sabar, Sabar, dan Sabar 

Sabar, sabar, dan sabar. Itu tiga nasihat yang sering diberikan pembimbing kepada calon jamaah haji sebelum berangkat Tanah Suci.Pada kenyataannya memang calon jamaah haji harus punya persediaan segunung kesabaran untuk menghadapi keadaan yang sering di luar perkiraan semula.

Kesabaran calon jamaah sudah diuji saat berada di asrama haji atau bahkan saat keberangkatan. Kemacetan menuju asrama, pemeriksaan yang bertele-tele, sulitnya bertemu dengan keluarga sangat mungkin terjadi. Pemeriksaan dokumen kadang memerlukan waktu berjam-jam. Makanan di asrama belum tentu sesuai selera. Belum lagi kadang barang-barng yang masih diperlukan di asrama sudah telanjur masuk dalam koper besar.

Panduan di Masjid Quba :

  • Saat akan memasuki bagian dalam masjid, sebaiknya memperhatikan petunjuk di dinding luar masjid. Itu adalah penunjuk pintu masuk yang dikhususkan bagi jamaah laki-laki atau perempuan. Akan terpampang pada sebuah plakat yang ditempelkan ke dinding pintu masuk untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.
  • Tidak diperbolehkan mengambil gambar didalam masjid.

Muqoddimah

Haji adalah salah satu rukun islam yang ke 5 (lima) yang diwajibkan oleh Alloh SWT kepada orang-orang yang mampu menunaikanya, yakni memiliki kesanggupan biaya serta sehat jasmani dan rohani untuk menunaikan perintah tersebut. Allah SWT berfirman:

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim ; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah . Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
 (QS. Ali-Imran : 97)
Melaksanakan kewajiban haji, hanya sekali seumur hidup. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW Bersabda:
“Hai manusia, Allah telah mewajibkan haji kepadamu, maka laksanakanalah haji, Seorang laki-laki berkata, Apakah setiap tahun Ya Rasulullah? Rasulullah terdiam, hingga laki-laki itu bertanya tiga kali, lalu Nabi menjawab, “Andai kukatakan wajib setiap tahun maka ia menjadi wajib dan kamu tidak akan mampu mengerjakannya.” (HR Muslim, Ahmad dan Nasa’i
Kewajiban melaksanakan haji ini baru disyariatkan pada tahun ke-VI hijriyah, setelah Rasulullah SAW Hijrah ke Madinah. Nabi sendiri hanya sekali melaksanakan haji yang kemudian dikenal dengan sebutan Haji Wada’. Kemudian tak lama setelah itu, beliau wafat.
Mengerjakan adalah pekerjaan yang sangat mulia dan terpuji. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang melaksanakan haji karena Allah, tidak melakukan rafats (berkata-kata kotor) dan tidak fusuq (durhaka), maka ia kembali suci dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya”. (HR Bukhari dan Muslim)
Diamping melaksanakan ibadah ritual murni, ibadah haji memberikan pesan dan kesan terhadap perjalanan kehidupan seseorang. Berbagai amaliyah haji dihayati memberikan makna dan kesan yang dalam. Amaliyah ibadah haji itu diresapi dan dikerjakan tidak hanya sekedar melaksanakan perintah Allah Yang Maha Bijaksana. Itulah agaknya yang membuat isteri Rasulullah SAW, Siti Aisyah tak mau ketinggalan untuk mengerjakan ibadah haji setiap tahun. Dalam Hadits riwayat Aisyah ra. Dijelaskan:
“Aisyah ra. Berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Tidaklah kami ikut berperang dan berjihad bersamamu?” Rasulullah menjawab, “Tetapi jihad yang lebih baik dan sempurna, yaitu mengerjakan haji, haji mabrur” Aisyah berkata, :Sejak itu aku tak pernah meninggalkan haji(setiap tahun), setelah mendengar berita ini dari Rasulullah”. (HR Bukhari)
Memang, bagi seorang jamaah haji berbedanya tahun ia pergi, berbeda pula kesan maknawi haji yan ia peroleh. Bahkan, diantara sesame jamaah sekalipun dalam waktu dan tempat yang besamaan, kesannya selalu berbeda. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS 22:28)
Dengan mengerjakan haji seseorang akan dapat mengambil berbagai I’tibar dan manfaat, baik yang bersifat materi ataupun hal-hal yang bersifat maknawi. Yang kedua inilah yang biasanya lebih berkesan dan menambah ketaqwaan serta keimanan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah haji. Allah SWT mewajibkan berbagai syariat dan larangan yang tidak lepas dari adanya hikmah, bai yang tersurat maupun yang tersirat.

Pengertian Hikmah

Hikmah adalah makna yang terkandung dalam amalan fisik atau rahasia yang tersirat dibalik amalan fisik, atau lebih jauh maknanya mengungkap hakikat dari amalan syariat. Syariat adalah amalan zahir, Hakikat adalah intinya. Seperti garam hakikatnya adalah air laut. Jika setiap amalan menyatu antara syariat dan hakikat akan mewujudkan hasil yang menakjubkan. Agar ibadah haji dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang maka hikmah haji ini selayaknya dicermati oleh setiap orang yang menunaikannya.
Maka, hikmah adalah makna hakiki dan praktik ilmu dan amal suatu ibadah. Rasulullah SAW menjelaskan:
“Dapat menduduki kedudukan raja (penguasa)”. (HR. Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Addi)
Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
(Al-Baqarah : 269)
Maksudnya, bukan berarti manusia pada posisi fatalistic, akan tetapi karena manusia dalam meraih hikmah perlu mengembalikan dirinya kepada Allah SWT, dengan tawakkal yang hakiki melalui ilmu dan amal yang dilakukan oleh jasmani dan rohaninya.

Hikmah Disyariatkan Ibadah Haji

Diantara kandungan ajaran islam adalah syari’at, yakni aturan-aturan yang berupa perintah dan larangan, baik yang didasarkan pada Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Diantara syari’at itu ada yang bersifat ibadah, yang dalam hal ini tidak boleh direkayasa oleh siapapun. Sebab, ia merupakan perintah khusus dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan tata cara pelaksanaan yang telah ditentukan seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan sebagainya.
Bila Allah SWT  memberikan suatu syari’at, yakni perintah dan larangan tentu ada hikmah atau makna yang menjadi motivasi atau penyebab, mengapa hal itu diperintahkan? Atau mengapa hal itu dilarang?.  Tidaklah patut bagi Allah, jika ia memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat, haji dan sebagainya. Kalau memang tidak ada hikmah atau makna yang perlu ditangkap. Sehingga berbagai pekerjaan ibadah itu dilakukan tidak hanya sekedar dilaksanakan saja.
Firman Allah SWT:

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
(QS. Al-Haj : 32)
Dalam Kenyataan, ibadah banyak dipraktekkan sebatas melaksanakan perintah, belum dipahami apa kandungan makna dan pesan dari berbagai bentuk atau symbol-simbol ibadah yang dilakukan itu. Misalnya, mengapa ketika shalat harus menghadap Ka’bah? Mengapa kita diperintahkan untuk berhaji ke Makkah? Mengapa ketika berhaji kita harus Thawaf, Sa’I, Wukuf dan sebagainya? Hal-hal yang semacam itu itu, sekalipun merupakan ibadah murni (Mahdhah), tentu hal itu ada pesan-pesan dan makna-makna yang terkandung didalamnya.
Dalam berbagai amaliyah haji, kadang-kadang sulit bagi akal manusia untuk menemukan atau mengungkapkan berbagai makna dan hikmah yang tersirat di dalamnya, bahkan sepintas terlihat ada sebagian yang tidak rasional dan tidak sesuai dengan pikiran yang normal, misalnya memotong rambut, berlari kecil ketika sa’i dan sebagainya. Memang terkadang sebagian pekerjaan haji ada yang diperlukan hanya berupa ibadah murni(mahdhah), yakni karena semata-mata perintah Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam hadits :
“Aku datang berhaji yang benar-benar merupakan pengabdianku (ibadah) dan perhambaanku (kepada Allah).” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani)
Kata ta’abbu dan warriqa, artinya pengabdiab (ibadah) dan penghambaan kepada Allah diatas hanya ditemukan dalam urusan ibadah haji yang menunjukan aspek ubudiyah yang tertinggi dan membuat ia lebih diutamakan dari pada ibadah lainnya.
Kewajiban Ibadah Haji mengandung banyak hikmah besar dalam kehidupan rohani seorang Mukmin, serta mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Diantara hikmah itu adalah :

  1.  Haji merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah SWT semata. Orang yang menunaikan haji meninggalkan segala kemewahan dan keindahan, dengan mengenakan busana ihram sebagai menifestasi kefakirannya dan kebutuhannya kepada Allah SWT, serta menanggalkan masalah duniawi, dan segala kesibukan yang dapat membelokannya dari keikhlasannya menyembah Tuhannya. Dengan berhaji, seorang muslim menampakkn keinginan untuk mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya. Ketika wukuf di Arafah, ia tunduk dihadapan Tuhannya, bersyukur atas seluruh nikmat dan keutamaan yang dianugerahkan kepadanya seraya memohon ampun atas dosa-dosanya, baik dosanya sendiri maupun dosa keluarganya. Di dalam Thawaf di sekeliling Ka’bah ia berlindung disamping tuhannya, memohon perlindungan dari dosa, hawa nafsu dan godaan syetan.
  2.  Melaksanakan kewajiban haji merupakan ungkapan syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Keduanya merupakan kenikmatan terbesar yang diterima manusia di dunia. Dalam haji ungkapan syukur atas kedua nikmat terbesar yang diterima manusia di dunia. Dalam haji ungkapan syukur atas kedua nikmat terbesar ini dicurahkan, dan dalam haji pula manusia melakukan perjuangan jiwa raga, menafkahkan hartanya dalam rangka mentaati, serta mendekatkan diri kepada Tuhannya. Tentu mensyukuri nikmat adalah kewajiban yang diakui oleh akal yang sederhana sekalipun dan diwajibkan oleh syariat agama.
  3.  Haji menempah jiwa agar memiliki semangat juang yang tinggi. Dalam hal ini dibutuhkan kesabaran, daya tahan, kedisiplinan, dan akhlak yang tinggi agar manusia saling menolong satu sama lain. Mereka yang menunaikan ibadah haji telah menempuh perjalanan yang sulit untuk berkumpul di Makkah, kemudian bergerak bersama pada hari ke 8 bulan Dzulhijjah guna melakukan manasik haji. Mereka bergerak dan menunaikannya secara bersama pula. Mereka semua diliputi dengan kesenangan hati. Tidak memperdulikan kesesakan dan tidak merasa tergangu oleh beratnya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Haji merupakan perkemahan rabbani, yang digerakkan dan disetir oleh penuntun rohani dari Yang Maha Kuasa, yang secara sukses mengatur beratus-ratus ribu bahkan berjuta-juta manusia. Kekuatan manusia tentulah akan gagal dalam mengatur pekerjaan raksasa semacam ini. Melihat hal tersebut orang yang memiliki nalar jernih, akan berpikir dan percaya bahwa jalan islam adalah jalan dan tujuan perjuangan umat dalam kehidupan.
  4. Umat islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul pada pusat pengendali roh dan kalbu mereka. Satu sama lain saling menyapa dan saling mengasihi. Di sana segala perbedaan antara manusia menjadi sama: perbedaan antara kaya dan miskin, antara jenis kelamin dan warna kulit maupun ras dan suku bangsa. Mereka semua bersatu dalam suatu konferensi manusia yang terbesar, yang diwarnai kebaikan, kebijakan dan permusyawarahan, serta sikap saling menasehati, saling menolong dalam kebaikan. Tujusn utamanya adalah meningkatkan diri hanya kepada Allah SWT.
  5. Haji menyimpan kenangan di hati, mampu membangkitkan semangat ibadah yang sempurna dan ketundukan tiada henti kepada perintah Allah SWT. Haji juga mengajarkan keimanan yang menyentuh jiwa dan mengarahkannya pada Tuhan dengan sikap taat dan menghindar kesenangan duniawi.

Hikmah Mengerjakan Ibadah Haji

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada semua Rasul-Nya sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah mata rantai terakhir agama Allah yang telah disempurnakan-Nya, sebagai nikmat Allah yang paling sempurna bagi manusia, dan diridhai-Nya menjadi anutan umat manusia sepanjang masa. Islam yang disampaikan oleh semua Rasul Allah mengajarkan bahwa hanya Allah sajalah Tuhan yang mencipta, mengatur dan memelihara semesta alam. Hanya Allah sajalah Tuhan yang berhak disembah. Inilah ajaran tauhid yang merupakan landasan aqidah yang dibawa oleh semua Rasul Allah.
Ibadah haji dalam syari’at islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW mengajarkan upacara-upacara peribadatan yang sangat jelas hubungannya dengan syari’at islam yang disampaikan Nabi Ibrahim AS. Hal ini meyakinkan kepada umat Islam bahwa agama yang dianutnya bukan agama yang sama sekali baru, tetapi agama yang merupakan kelanjutang dari pada agama yang pernah diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS yang mengajarkan tauhid, meng-Esakan Allah, tercermin dalam bacaan talbiyah yang dikumandangkan jamaah haji.
Setelah mengenakan pakaian ihram dalam perjalanan menuju Masjidil Haram. Ibadah haji merupakan wujud nyata dari persaudaraan antara muslim sedunia, haji merupakan mu’tamar tahunan atau silaturahmi akbar, dimana mereka dapat bertukar pengalaman, menyatukan visi dan persepsi, program dan acuan untuk memajukan Islam di negeri masing-masing setelah mereka kembali dari ibadah hajinya. Pertemuan itu akan dapat menghilangkan perbedaan-perbedaan sistim politik yang dianutnya atau perbedaan madhzab, baik yang menyangkut aqidah maupun ibadah. Dilihat dilapangan maka dalam pelaksanaan ibadah haji tidak pernah terjadi perselisihan diantara mereka yang berbeda mahdzab, masing-masing berjalan tanpa anggapan bahwa dirinya yang benar dan orang lain itu salah. Sungguh betapa besar nikmat ibadah haji bagi kaum muslimin. Pertemuan itu sungguh sangat berarti walaupun hanya diwakili oleh utusan yang memiliki kemampuan, baik secara ekonomi maupun pengetahuan akademiknnya. Dan petemuan tersebut dapat diperoleh rumusan-rumusan yang memberikan manfaat bagi upaya pencapaian kebahagiaan manusia itu sendiri dalam hidupnya di dunia dan di akhirat.
Berhaji, sebagai ketaatan memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS dan hikmah manfaatnya, dijelaskan oleh firman Allah SWT:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, 
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan  atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
 ( QS Al-Hajj : 27-28)
Pada dasarnya, manfaat yang perlu diraih oleh jamaah haji itu adalah untuk kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dalam kehidupan duniawi umat islam mampu bersaing dengan yang lainnya dan di akhirat tentu akan memperoleh limpahan ridha dari Allah SWT. Rasulallah SAW besabda:
“Islam luhur dan tiada yang menyamai atasnya”. (HR. Ad Daraquthni dan Al Baihaqi)
Tentang keutamaan ibadah haji, dijelaskan oleh Hadits yang menerangkan:
Nabi SAW, ditanya: “Amal apa saja yang paling utama?” Beliau berkata: “ Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”, dikatakan: “kemudian apa?” Nabi berkata: :Jihad pada jalan Allah”, dikatakan lagi: “Kemudian apa?” Nabi berkata: “ Haji yang mabrur”. (Mutaffaq ‘Alaih)
Melaksanakan ibadah haji sebagai perutusan Allah SWT, dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW:
“Perutusan Allah itu ada tiga: “Orang yang berperang, orang yang berhaji dan orang yang berumrah”. (HR. An Nasai dan Ibnu Hibban)

Hikmah Pakaian Ihram

Pakaian ihram laki-laki terdiri dari dua lembar kain yang tidak berjahit. Warna tidak menjadi prinsip, tetapi yang menjadi prinsip adalah tidak berjahitnya itu. Hal ini dimaksudan pemakaiannya supaya melepaskan diri dari sifat-sifat buruk yang melekat pada dirinya, seperti merasa bangga, suka pamer kemewahan, sombong atau takabur. Betapapun mahalnya bahan pakaian kalau hanya diselendangkan saja pada badannya tidak akan mempunyai nilai kemewahan, tetapi jika sudah dijahit menjadi baju jas misalnya, maka barulah mempunyai arti untuk sebuah kemewahan. Tujuan lebih jauh ialah agar timbul rasa merendahkan diri dan hina dihadapan Tuhannya, dan rasa tidak memiliki apapun serta kekuatan apapun bagaikan bayi yang hanya dikenakan kain yang tidak berjahit, kecuali kain popok. Pakaian ihram juga mengingatkan pemakaiannya bahwa ketika lahir tidak seutas benangpun yang yeng melekat dibadannya dan kelak ketika meninggal dunia maka pakaian yang melekat di badannya hanya kain putih yang tak berjahit sebagai pembungkusnya.
Kemewahan pakaian dapat membangkitkan sikap hidup arogan atau sombong, yang ada pada akhirnya akan menjauhkan diri dari orang lain, tidak mau bergaul dengan orang lain, tidak mau mendengarkan apa kata orang dan lebih celaka lagi kalau tidak mau mendengarkan firman Allah atau sabda Rasulullah SAW. Sikap hidup yang demikian itulah yang membawa dirinya ke jurang kehancuran. Bukankah iblis diadzab Allah karena kesombongan, juga Namrudz, Fir’aun, dan Qarun. Berpakaian seperti yang telah ditentukan dalam rangka Ibadah Haji dan Umrah memberikan sentuhan-sentuhan yang lembut pada hati seseorang, sehingga dia sadar bahwa kesombongan itu akan berakhir pada kehancuran. Jika seseorang jatuh karena kesombongannya, maka sorak-sorak orang banyak ditujukan kepadanya dengan caci maki dan berbagai kutukan. Dalam sebuah Hadits Qudsy Allah berfirman: “Wahai manusia sesungguhnya engkau kelaparan. Akulah yang memberimu makan. Sesungguhnya engkau telanjang, Aku-lah yang memberi pakaian”.
Pada dasarnya mengenakan pakaian ihram adalah menanggalkan perhiasan dunia, yang penuh gemerlap dan cobaan. Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
(QS. Ali Imran : 14)
Mengenakan pakaian ihram merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah, juga memiliki makna bagi pendidikan rohani, yaitu hakikat manusia itu. Allah hanya melihat iman, amal dan taqwa seseorang tanpa membedakan identitas dan strata sosial. Dalam hadits Rasulullah menjelaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada identitas (sosial) dan tidak pula kepada harta mu, akan tetapi Allah melihat hati kamu dan amal-amalan kamu”. (HR. Muslim)
Dan dalam firman Allah SWT:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al-Hujurat : 13)
Perjalanan haji merupakan perjalanan yang mulia dan suci di hadapan Allah SWT, karena tujuan perjalanan itu sendiri demikian suci, yakni akan menjadi tamu Yang Maha Suci dan dilaksanakan di tempat yang suci. Yakni Makkah Al-Mukarramah. Oleh karena itu, orang yang berihram sebenarnya sedang mensucikan dirinya dari berbagai hal yang dilarang. Sikap suci ini harus dimiliki oleh orang-orang yang akan bertamu kepada Allah SWT di Tanah Haram. Orang kafir tidak diperbolehkan memasuki kawasan itu. Firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. At-Taubah : 28)
Orang musyrik (kafir) yang kotor hatinya, karena tidak beriman, tidak pantas berdekatan dengan Allah SWT, di rumah Allah. Orang yang datang ke rumah Allah (Baitullah) adalah orang yang suci hatinya dan penuh keimanan dan ketaatan kepada Allah.

Hikmah Berihram

Berihram adalah niat, yaitu niat memasuki Ibadah Haji atau Umrah sebagai pemenuhan atas panggilan Allah SWT, memenuhi panggilan dengan penuh keyakinan; ditinggalkannya kampung halaman, ditinggalkannya rumah mewah, dilepaskannya pakaian kebesarannya yang menimbulkan persaingan dan perbedaan martabat, dipakainya pakaian ihram dua helai kain yang tidak berjahit, pakaian seperti kafan mayat yang akan dikubur. Ditinggalkan jabatan yang membuat sibuk sepanjang waktu, ditinggalkan bisnis yang meraih keuntungan materi yang tidak terhitung, menuju rumah Allah yang berupa tumpukan batu persegi empat, tidak ada keistimewaan apa-apa di rumah itu. Tetapi itulah rumah dambaan bagi setiap muslim, belum puas rasanya sebelum mengunjungi Baitullah itu. Sehingga rela meninggalkan rumahnya yang mewah, pakaian yang indah dan anak cucu kebangsawanan yang lekat pada dirinya yang menjadi kebanggaan sosial. Kini dia benar-benar pasrah kepada kehendak Allah, rela dan sabar menghadapi segala kesulitan.
 Talbiyah, Sebagai Panggilan Allah SWT

 “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku dating memenuhi panggilan-Mu, Aku dating memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku dating memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.
Talbiyah merupakan penggilan Allah kepada seseorang untuk senantiasa dengan ikhlas memenuhi panggilan Tuhannya, Menghadapi panggilan Allah, orang mukmin dengan sepenuh hati akan menyatakan :
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah”,
 Islam yang mengajarkan tauhid murni, mengajarkan juga agar orang yang bertauhid senantiasa dengan ikhlas memenuhi panggilan Allah. Hal ini berarti setiap orang yang bertauhid senantiasa bersikap tunduk kepada Allah SWT. jamaah haji yang mengumandangkan talbiyah melahirkan pernyataan tunduk mutlak kepada petunjuk-petunjuk Allah, atas dasar keyakinan secara sabar bahwa sikap demikian itu akan membawa keberuntungan bagi manusia itu sendiri. Orang yang mengumandangkan Talbiyah dengan berpakaian ihram melahirkan sikap_Tawadhu’ merendahkan diri terhadap ke-Maha Besaran Allah SWT, sekaligus melahirkan kesatuan kemanusiaan diantara sesama jamaah haji sebagai makhluk ciptaan Allah yang berkewajiban mangabdi kepada-Nya.