Sebelum manusia dihadirkan di muka bumi, kehidupan alam telah terben- 
tang dengan kesempurnaan keindahan dan kandungan potensi, sebagai salah 
satu sarana kelangsungan hidup manusia. Laksana bayi yang hendak dilahir- 
kan, segala sesuatunya telah ditata-persiapkan dengan sempurna oleh orang 
tuanya. Allah pun bertanya kepada manusia 

Maka nikmatRabb kamuyang manakahyang kamu dustakan (QS. 55) 

Bukankah kenikmatan nyata, sekaligus bukti cinta-kasih dan sayang Allah 
pada manusia, alam terbentang dengan segala keindahan-potensi siap dikelola 
jauh sebelum berfungsinya aqal manusia. Allah tidak menghendaki manusia 
hidup dalam lilitan kesulitan, tetapi kemudahan dalam kesetimbangan. 



Khutbah Iedul Adha 1431H 



Salah satu nilai kesempurnaan Mahacipta-karya Ilahi yang tidak tertan- 
dingkan adalah kesetimbangan di setiap unsur ciptaan. Dia Allah pun dengan 
kemuliaan asmaNYA seakan menghimpun mengajak-himbau kepada manusia 
agar tergugah kesadaran melalui Kalam-Nya: 

jjlafl £* tj jj ^JA j^a2l ^a-jli pjlij <> L&*J\ J^> <A <J> ^ 

. . . Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah 

sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu 

lihat sesuatu yang tidak seimbang (QS. 67:3) 

Himbauan tersebut seakan hamparan jembatan emas, sarana berlangsung- 
hubung dialog membangun kesadaran memberikan sentuhan rasa kedekatan 
antara Allah selaku Dzat Pencipta dan manusia selaku yang dicipta, bagaikan 
ikatan bathin orang tua dengan anaknya yang tak dapat dipisahkan. Demikian 
Allah merangkul-kasih, mendekap-cinta mengikat manusia melalui karya-cipta 
alam semesta, menjelma-perkenalkan asma diri-NYA bertujuan membangun 
hubungan kedekat-akraban pada manusia. Sebab bagaimanapun, manusia tidak 
akan mampu lepas menjauhkan dirinya dari Allah yang begitu dekat bahkan 
lebih dekat dari urat lehernya. Kemana manusia hendak lari menjauhkan 
dirinya dari Allah, kecuali hanya berputar-lingkar dalam bentangan alam 
ciptaan Allah jua. Lemah dengan serba keterbatasannya mengkodratkan 
manusia agar dekat pada Allah sebagai jaminan keselamatan hidup bagi 
manusia itu sendiri sekaligus berdampak positif pada kehidupan alam. Siratan 
makna hadits yang menghimbau umat manusia agar setiap berbuat didahului 
"BismiUahhirrahmanirrahim" memberi pemahaman bahwa di segala keadaan 
manusia selalu bersama Allah, dan senantiasa memasangkan sifat pemurah dan 
kasih sayang pada setiap tindakan di tengah-tengah lingkungannya. Bila tidak 
demikian, porak-porandalah tatanan kehidupan yang telah ada, yang lemah 
menjadi objek penindasan yang kuat; sedangkan dari antara yang kuat bersaing 
untuk saling menjatuhkan, menang dengan kepongahan di atas penderitaan 
yang lain. Begitulah sunnatullahnya, manusia tanpa kendali diri dengan ikatan 
tali Allah yang bersifat rahman-rahim pasti berdampak pada kehancuran hasil 
cipta-karya-Nya. Dengan azas "kesetimbangan" pada setiap ciptaan tidak ada 
unsur yang dirugikan keberadaan dan tumbuh-kembangnya.
Advertisements