Tips Nyaman Beribadah Haji :

  • Jangan tergantung pembimbing
  • Mantapkan tata cara berhaji
  • Hafalkan doa-doa
  • Buat kelompok kecil

Tips Manasik Haji :

Tips Tawaf dan Sa’i :

  1. Hafalkan do’a-do’a singkat, jangan disibukkan dengan catatan
  2. Berangkat dalam rombongan
  3. Makan sebelum berangkat
  4. Buat kelompok kecil
  5. Sepakati lokasi pertemuan
  6. Hindari waktu padat
  7. Pindah ke lantai dua dan tiga jika padat

Tips Mencium Hajar Aswad :

  1. Ambil waktu yang kondisi sekitar ka’bah tidak terlalu padat
  2. Pastikan fisik kuat
  3. Jangan bawa barang berharga
  4. Pastikan cara berpakaian ihram benar dan kuat
  5. Jangan gunakan joki
  6. Tidak lama-lama
  7. Hindari menyakiti sesama jamaah

Tips Menjadi Tamu Allah 
”Baitullah ini adalah salah satu pilarnya agama Islam. Barangsiapa yang berniat menuju ke Baitullah, baik para haji ataupun yang berumrah, maka mereka dijamin oleh Allah SWT apabila meninggal dunia dalam perjalanan, maka mereka akan ditempatkan di surga dan mereka yang pulang dengan selamat ke negerinya akan membawa pahala serta harta benda (Ghonimah)”
-Hadis Riwayat Ibnu Juraih-

Tips Pelaksanaan Ibadah Haji

Tips Masuk Masjid Agar Tidak Tersesat :

  1. Datang ke masjid minimal setengah jam sebelum waktu shalat
  2. Ingat nomor atau nama pintu masuk, kenali seperlunya
  3. Bawa kantong kain untuk menyimpan alas kaki, payung dan sebagainya, dan bisa dibawa saat sholat.
  4. Sebelum masuk masjid buat janji di mana akan bertemu jika ingin pulang bersama.
  5. Jangan lupa juga janji pukul berapa bertemu.
  6. Tempat berkumpul bisa dipasangi bendera rombongan tinggi-tinggi agar mudah dilihat dari kejauhan.
  7. Membuat identitas unik rombongan, bisa dengan selempang, slayer, atau pita di jilbab.

Tips nyaman beribadah :

  1. Jangan tergantung pembimbing
  2. Mantapkan tata cara berhaji
  3. Hafalkan doa-doa
  4. Buat kelompok kecil

Tips Agar Tidak Tersesat :
Setiap tahun selalu ada saja laporan jamaah yang tersesat. Untuk itu perlu dicoba tips-tips berikut ini:

  • Hafalkan Lokasi sebelum keluar maktab
  • Hafalkan maktab Anda serta cacat juga nomor telepon dan atau alamat pondokan Anda
  • Bawalah catatan tersebut setiap meninggalkan pondokan.

Sabar, Sabar, dan Sabar 

Sabar, sabar, dan sabar. Itu tiga nasihat yang sering diberikan pembimbing kepada calon jamaah haji sebelum berangkat Tanah Suci.Pada kenyataannya memang calon jamaah haji harus punya persediaan segunung kesabaran untuk menghadapi keadaan yang sering di luar perkiraan semula.

Kesabaran calon jamaah sudah diuji saat berada di asrama haji atau bahkan saat keberangkatan. Kemacetan menuju asrama, pemeriksaan yang bertele-tele, sulitnya bertemu dengan keluarga sangat mungkin terjadi. Pemeriksaan dokumen kadang memerlukan waktu berjam-jam. Makanan di asrama belum tentu sesuai selera. Belum lagi kadang barang-barng yang masih diperlukan di asrama sudah telanjur masuk dalam koper besar.

Panduan di Masjid Quba :

  • Saat akan memasuki bagian dalam masjid, sebaiknya memperhatikan petunjuk di dinding luar masjid. Itu adalah penunjuk pintu masuk yang dikhususkan bagi jamaah laki-laki atau perempuan. Akan terpampang pada sebuah plakat yang ditempelkan ke dinding pintu masuk untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.
  • Tidak diperbolehkan mengambil gambar didalam masjid.

Muqoddimah

Haji adalah salah satu rukun islam yang ke 5 (lima) yang diwajibkan oleh Alloh SWT kepada orang-orang yang mampu menunaikanya, yakni memiliki kesanggupan biaya serta sehat jasmani dan rohani untuk menunaikan perintah tersebut. Allah SWT berfirman:

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim ; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah . Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
 (QS. Ali-Imran : 97)
Melaksanakan kewajiban haji, hanya sekali seumur hidup. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW Bersabda:
“Hai manusia, Allah telah mewajibkan haji kepadamu, maka laksanakanalah haji, Seorang laki-laki berkata, Apakah setiap tahun Ya Rasulullah? Rasulullah terdiam, hingga laki-laki itu bertanya tiga kali, lalu Nabi menjawab, “Andai kukatakan wajib setiap tahun maka ia menjadi wajib dan kamu tidak akan mampu mengerjakannya.” (HR Muslim, Ahmad dan Nasa’i
Kewajiban melaksanakan haji ini baru disyariatkan pada tahun ke-VI hijriyah, setelah Rasulullah SAW Hijrah ke Madinah. Nabi sendiri hanya sekali melaksanakan haji yang kemudian dikenal dengan sebutan Haji Wada’. Kemudian tak lama setelah itu, beliau wafat.
Mengerjakan adalah pekerjaan yang sangat mulia dan terpuji. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang melaksanakan haji karena Allah, tidak melakukan rafats (berkata-kata kotor) dan tidak fusuq (durhaka), maka ia kembali suci dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya”. (HR Bukhari dan Muslim)
Diamping melaksanakan ibadah ritual murni, ibadah haji memberikan pesan dan kesan terhadap perjalanan kehidupan seseorang. Berbagai amaliyah haji dihayati memberikan makna dan kesan yang dalam. Amaliyah ibadah haji itu diresapi dan dikerjakan tidak hanya sekedar melaksanakan perintah Allah Yang Maha Bijaksana. Itulah agaknya yang membuat isteri Rasulullah SAW, Siti Aisyah tak mau ketinggalan untuk mengerjakan ibadah haji setiap tahun. Dalam Hadits riwayat Aisyah ra. Dijelaskan:
“Aisyah ra. Berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Tidaklah kami ikut berperang dan berjihad bersamamu?” Rasulullah menjawab, “Tetapi jihad yang lebih baik dan sempurna, yaitu mengerjakan haji, haji mabrur” Aisyah berkata, :Sejak itu aku tak pernah meninggalkan haji(setiap tahun), setelah mendengar berita ini dari Rasulullah”. (HR Bukhari)
Memang, bagi seorang jamaah haji berbedanya tahun ia pergi, berbeda pula kesan maknawi haji yan ia peroleh. Bahkan, diantara sesame jamaah sekalipun dalam waktu dan tempat yang besamaan, kesannya selalu berbeda. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS 22:28)
Dengan mengerjakan haji seseorang akan dapat mengambil berbagai I’tibar dan manfaat, baik yang bersifat materi ataupun hal-hal yang bersifat maknawi. Yang kedua inilah yang biasanya lebih berkesan dan menambah ketaqwaan serta keimanan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah haji. Allah SWT mewajibkan berbagai syariat dan larangan yang tidak lepas dari adanya hikmah, bai yang tersurat maupun yang tersirat.

Pengertian Hikmah

Hikmah adalah makna yang terkandung dalam amalan fisik atau rahasia yang tersirat dibalik amalan fisik, atau lebih jauh maknanya mengungkap hakikat dari amalan syariat. Syariat adalah amalan zahir, Hakikat adalah intinya. Seperti garam hakikatnya adalah air laut. Jika setiap amalan menyatu antara syariat dan hakikat akan mewujudkan hasil yang menakjubkan. Agar ibadah haji dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang maka hikmah haji ini selayaknya dicermati oleh setiap orang yang menunaikannya.
Maka, hikmah adalah makna hakiki dan praktik ilmu dan amal suatu ibadah. Rasulullah SAW menjelaskan:
“Dapat menduduki kedudukan raja (penguasa)”. (HR. Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Addi)
Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
(Al-Baqarah : 269)
Maksudnya, bukan berarti manusia pada posisi fatalistic, akan tetapi karena manusia dalam meraih hikmah perlu mengembalikan dirinya kepada Allah SWT, dengan tawakkal yang hakiki melalui ilmu dan amal yang dilakukan oleh jasmani dan rohaninya.

Hikmah Disyariatkan Ibadah Haji

Diantara kandungan ajaran islam adalah syari’at, yakni aturan-aturan yang berupa perintah dan larangan, baik yang didasarkan pada Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Diantara syari’at itu ada yang bersifat ibadah, yang dalam hal ini tidak boleh direkayasa oleh siapapun. Sebab, ia merupakan perintah khusus dari Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan tata cara pelaksanaan yang telah ditentukan seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan sebagainya.
Bila Allah SWT  memberikan suatu syari’at, yakni perintah dan larangan tentu ada hikmah atau makna yang menjadi motivasi atau penyebab, mengapa hal itu diperintahkan? Atau mengapa hal itu dilarang?.  Tidaklah patut bagi Allah, jika ia memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat, haji dan sebagainya. Kalau memang tidak ada hikmah atau makna yang perlu ditangkap. Sehingga berbagai pekerjaan ibadah itu dilakukan tidak hanya sekedar dilaksanakan saja.
Firman Allah SWT:

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
(QS. Al-Haj : 32)
Dalam Kenyataan, ibadah banyak dipraktekkan sebatas melaksanakan perintah, belum dipahami apa kandungan makna dan pesan dari berbagai bentuk atau symbol-simbol ibadah yang dilakukan itu. Misalnya, mengapa ketika shalat harus menghadap Ka’bah? Mengapa kita diperintahkan untuk berhaji ke Makkah? Mengapa ketika berhaji kita harus Thawaf, Sa’I, Wukuf dan sebagainya? Hal-hal yang semacam itu itu, sekalipun merupakan ibadah murni (Mahdhah), tentu hal itu ada pesan-pesan dan makna-makna yang terkandung didalamnya.
Dalam berbagai amaliyah haji, kadang-kadang sulit bagi akal manusia untuk menemukan atau mengungkapkan berbagai makna dan hikmah yang tersirat di dalamnya, bahkan sepintas terlihat ada sebagian yang tidak rasional dan tidak sesuai dengan pikiran yang normal, misalnya memotong rambut, berlari kecil ketika sa’i dan sebagainya. Memang terkadang sebagian pekerjaan haji ada yang diperlukan hanya berupa ibadah murni(mahdhah), yakni karena semata-mata perintah Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam hadits :
“Aku datang berhaji yang benar-benar merupakan pengabdianku (ibadah) dan perhambaanku (kepada Allah).” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani)
Kata ta’abbu dan warriqa, artinya pengabdiab (ibadah) dan penghambaan kepada Allah diatas hanya ditemukan dalam urusan ibadah haji yang menunjukan aspek ubudiyah yang tertinggi dan membuat ia lebih diutamakan dari pada ibadah lainnya.
Kewajiban Ibadah Haji mengandung banyak hikmah besar dalam kehidupan rohani seorang Mukmin, serta mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Diantara hikmah itu adalah :

  1.  Haji merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah SWT semata. Orang yang menunaikan haji meninggalkan segala kemewahan dan keindahan, dengan mengenakan busana ihram sebagai menifestasi kefakirannya dan kebutuhannya kepada Allah SWT, serta menanggalkan masalah duniawi, dan segala kesibukan yang dapat membelokannya dari keikhlasannya menyembah Tuhannya. Dengan berhaji, seorang muslim menampakkn keinginan untuk mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya. Ketika wukuf di Arafah, ia tunduk dihadapan Tuhannya, bersyukur atas seluruh nikmat dan keutamaan yang dianugerahkan kepadanya seraya memohon ampun atas dosa-dosanya, baik dosanya sendiri maupun dosa keluarganya. Di dalam Thawaf di sekeliling Ka’bah ia berlindung disamping tuhannya, memohon perlindungan dari dosa, hawa nafsu dan godaan syetan.
  2.  Melaksanakan kewajiban haji merupakan ungkapan syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Keduanya merupakan kenikmatan terbesar yang diterima manusia di dunia. Dalam haji ungkapan syukur atas kedua nikmat terbesar yang diterima manusia di dunia. Dalam haji ungkapan syukur atas kedua nikmat terbesar ini dicurahkan, dan dalam haji pula manusia melakukan perjuangan jiwa raga, menafkahkan hartanya dalam rangka mentaati, serta mendekatkan diri kepada Tuhannya. Tentu mensyukuri nikmat adalah kewajiban yang diakui oleh akal yang sederhana sekalipun dan diwajibkan oleh syariat agama.
  3.  Haji menempah jiwa agar memiliki semangat juang yang tinggi. Dalam hal ini dibutuhkan kesabaran, daya tahan, kedisiplinan, dan akhlak yang tinggi agar manusia saling menolong satu sama lain. Mereka yang menunaikan ibadah haji telah menempuh perjalanan yang sulit untuk berkumpul di Makkah, kemudian bergerak bersama pada hari ke 8 bulan Dzulhijjah guna melakukan manasik haji. Mereka bergerak dan menunaikannya secara bersama pula. Mereka semua diliputi dengan kesenangan hati. Tidak memperdulikan kesesakan dan tidak merasa tergangu oleh beratnya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Haji merupakan perkemahan rabbani, yang digerakkan dan disetir oleh penuntun rohani dari Yang Maha Kuasa, yang secara sukses mengatur beratus-ratus ribu bahkan berjuta-juta manusia. Kekuatan manusia tentulah akan gagal dalam mengatur pekerjaan raksasa semacam ini. Melihat hal tersebut orang yang memiliki nalar jernih, akan berpikir dan percaya bahwa jalan islam adalah jalan dan tujuan perjuangan umat dalam kehidupan.
  4. Umat islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul pada pusat pengendali roh dan kalbu mereka. Satu sama lain saling menyapa dan saling mengasihi. Di sana segala perbedaan antara manusia menjadi sama: perbedaan antara kaya dan miskin, antara jenis kelamin dan warna kulit maupun ras dan suku bangsa. Mereka semua bersatu dalam suatu konferensi manusia yang terbesar, yang diwarnai kebaikan, kebijakan dan permusyawarahan, serta sikap saling menasehati, saling menolong dalam kebaikan. Tujusn utamanya adalah meningkatkan diri hanya kepada Allah SWT.
  5. Haji menyimpan kenangan di hati, mampu membangkitkan semangat ibadah yang sempurna dan ketundukan tiada henti kepada perintah Allah SWT. Haji juga mengajarkan keimanan yang menyentuh jiwa dan mengarahkannya pada Tuhan dengan sikap taat dan menghindar kesenangan duniawi.

Hikmah Mengerjakan Ibadah Haji

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada semua Rasul-Nya sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah mata rantai terakhir agama Allah yang telah disempurnakan-Nya, sebagai nikmat Allah yang paling sempurna bagi manusia, dan diridhai-Nya menjadi anutan umat manusia sepanjang masa. Islam yang disampaikan oleh semua Rasul Allah mengajarkan bahwa hanya Allah sajalah Tuhan yang mencipta, mengatur dan memelihara semesta alam. Hanya Allah sajalah Tuhan yang berhak disembah. Inilah ajaran tauhid yang merupakan landasan aqidah yang dibawa oleh semua Rasul Allah.
Ibadah haji dalam syari’at islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW mengajarkan upacara-upacara peribadatan yang sangat jelas hubungannya dengan syari’at islam yang disampaikan Nabi Ibrahim AS. Hal ini meyakinkan kepada umat Islam bahwa agama yang dianutnya bukan agama yang sama sekali baru, tetapi agama yang merupakan kelanjutang dari pada agama yang pernah diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS yang mengajarkan tauhid, meng-Esakan Allah, tercermin dalam bacaan talbiyah yang dikumandangkan jamaah haji.
Setelah mengenakan pakaian ihram dalam perjalanan menuju Masjidil Haram. Ibadah haji merupakan wujud nyata dari persaudaraan antara muslim sedunia, haji merupakan mu’tamar tahunan atau silaturahmi akbar, dimana mereka dapat bertukar pengalaman, menyatukan visi dan persepsi, program dan acuan untuk memajukan Islam di negeri masing-masing setelah mereka kembali dari ibadah hajinya. Pertemuan itu akan dapat menghilangkan perbedaan-perbedaan sistim politik yang dianutnya atau perbedaan madhzab, baik yang menyangkut aqidah maupun ibadah. Dilihat dilapangan maka dalam pelaksanaan ibadah haji tidak pernah terjadi perselisihan diantara mereka yang berbeda mahdzab, masing-masing berjalan tanpa anggapan bahwa dirinya yang benar dan orang lain itu salah. Sungguh betapa besar nikmat ibadah haji bagi kaum muslimin. Pertemuan itu sungguh sangat berarti walaupun hanya diwakili oleh utusan yang memiliki kemampuan, baik secara ekonomi maupun pengetahuan akademiknnya. Dan petemuan tersebut dapat diperoleh rumusan-rumusan yang memberikan manfaat bagi upaya pencapaian kebahagiaan manusia itu sendiri dalam hidupnya di dunia dan di akhirat.
Berhaji, sebagai ketaatan memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS dan hikmah manfaatnya, dijelaskan oleh firman Allah SWT:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, 
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan  atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
 ( QS Al-Hajj : 27-28)
Pada dasarnya, manfaat yang perlu diraih oleh jamaah haji itu adalah untuk kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dalam kehidupan duniawi umat islam mampu bersaing dengan yang lainnya dan di akhirat tentu akan memperoleh limpahan ridha dari Allah SWT. Rasulallah SAW besabda:
“Islam luhur dan tiada yang menyamai atasnya”. (HR. Ad Daraquthni dan Al Baihaqi)
Tentang keutamaan ibadah haji, dijelaskan oleh Hadits yang menerangkan:
Nabi SAW, ditanya: “Amal apa saja yang paling utama?” Beliau berkata: “ Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”, dikatakan: “kemudian apa?” Nabi berkata: :Jihad pada jalan Allah”, dikatakan lagi: “Kemudian apa?” Nabi berkata: “ Haji yang mabrur”. (Mutaffaq ‘Alaih)
Melaksanakan ibadah haji sebagai perutusan Allah SWT, dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW:
“Perutusan Allah itu ada tiga: “Orang yang berperang, orang yang berhaji dan orang yang berumrah”. (HR. An Nasai dan Ibnu Hibban)

Hikmah Pakaian Ihram

Pakaian ihram laki-laki terdiri dari dua lembar kain yang tidak berjahit. Warna tidak menjadi prinsip, tetapi yang menjadi prinsip adalah tidak berjahitnya itu. Hal ini dimaksudan pemakaiannya supaya melepaskan diri dari sifat-sifat buruk yang melekat pada dirinya, seperti merasa bangga, suka pamer kemewahan, sombong atau takabur. Betapapun mahalnya bahan pakaian kalau hanya diselendangkan saja pada badannya tidak akan mempunyai nilai kemewahan, tetapi jika sudah dijahit menjadi baju jas misalnya, maka barulah mempunyai arti untuk sebuah kemewahan. Tujuan lebih jauh ialah agar timbul rasa merendahkan diri dan hina dihadapan Tuhannya, dan rasa tidak memiliki apapun serta kekuatan apapun bagaikan bayi yang hanya dikenakan kain yang tidak berjahit, kecuali kain popok. Pakaian ihram juga mengingatkan pemakaiannya bahwa ketika lahir tidak seutas benangpun yang yeng melekat dibadannya dan kelak ketika meninggal dunia maka pakaian yang melekat di badannya hanya kain putih yang tak berjahit sebagai pembungkusnya.
Kemewahan pakaian dapat membangkitkan sikap hidup arogan atau sombong, yang ada pada akhirnya akan menjauhkan diri dari orang lain, tidak mau bergaul dengan orang lain, tidak mau mendengarkan apa kata orang dan lebih celaka lagi kalau tidak mau mendengarkan firman Allah atau sabda Rasulullah SAW. Sikap hidup yang demikian itulah yang membawa dirinya ke jurang kehancuran. Bukankah iblis diadzab Allah karena kesombongan, juga Namrudz, Fir’aun, dan Qarun. Berpakaian seperti yang telah ditentukan dalam rangka Ibadah Haji dan Umrah memberikan sentuhan-sentuhan yang lembut pada hati seseorang, sehingga dia sadar bahwa kesombongan itu akan berakhir pada kehancuran. Jika seseorang jatuh karena kesombongannya, maka sorak-sorak orang banyak ditujukan kepadanya dengan caci maki dan berbagai kutukan. Dalam sebuah Hadits Qudsy Allah berfirman: “Wahai manusia sesungguhnya engkau kelaparan. Akulah yang memberimu makan. Sesungguhnya engkau telanjang, Aku-lah yang memberi pakaian”.
Pada dasarnya mengenakan pakaian ihram adalah menanggalkan perhiasan dunia, yang penuh gemerlap dan cobaan. Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
(QS. Ali Imran : 14)
Mengenakan pakaian ihram merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah, juga memiliki makna bagi pendidikan rohani, yaitu hakikat manusia itu. Allah hanya melihat iman, amal dan taqwa seseorang tanpa membedakan identitas dan strata sosial. Dalam hadits Rasulullah menjelaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada identitas (sosial) dan tidak pula kepada harta mu, akan tetapi Allah melihat hati kamu dan amal-amalan kamu”. (HR. Muslim)
Dan dalam firman Allah SWT:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al-Hujurat : 13)
Perjalanan haji merupakan perjalanan yang mulia dan suci di hadapan Allah SWT, karena tujuan perjalanan itu sendiri demikian suci, yakni akan menjadi tamu Yang Maha Suci dan dilaksanakan di tempat yang suci. Yakni Makkah Al-Mukarramah. Oleh karena itu, orang yang berihram sebenarnya sedang mensucikan dirinya dari berbagai hal yang dilarang. Sikap suci ini harus dimiliki oleh orang-orang yang akan bertamu kepada Allah SWT di Tanah Haram. Orang kafir tidak diperbolehkan memasuki kawasan itu. Firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. At-Taubah : 28)
Orang musyrik (kafir) yang kotor hatinya, karena tidak beriman, tidak pantas berdekatan dengan Allah SWT, di rumah Allah. Orang yang datang ke rumah Allah (Baitullah) adalah orang yang suci hatinya dan penuh keimanan dan ketaatan kepada Allah.

Hikmah Berihram

Berihram adalah niat, yaitu niat memasuki Ibadah Haji atau Umrah sebagai pemenuhan atas panggilan Allah SWT, memenuhi panggilan dengan penuh keyakinan; ditinggalkannya kampung halaman, ditinggalkannya rumah mewah, dilepaskannya pakaian kebesarannya yang menimbulkan persaingan dan perbedaan martabat, dipakainya pakaian ihram dua helai kain yang tidak berjahit, pakaian seperti kafan mayat yang akan dikubur. Ditinggalkan jabatan yang membuat sibuk sepanjang waktu, ditinggalkan bisnis yang meraih keuntungan materi yang tidak terhitung, menuju rumah Allah yang berupa tumpukan batu persegi empat, tidak ada keistimewaan apa-apa di rumah itu. Tetapi itulah rumah dambaan bagi setiap muslim, belum puas rasanya sebelum mengunjungi Baitullah itu. Sehingga rela meninggalkan rumahnya yang mewah, pakaian yang indah dan anak cucu kebangsawanan yang lekat pada dirinya yang menjadi kebanggaan sosial. Kini dia benar-benar pasrah kepada kehendak Allah, rela dan sabar menghadapi segala kesulitan.
 Talbiyah, Sebagai Panggilan Allah SWT

 “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku dating memenuhi panggilan-Mu, Aku dating memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku dating memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.
Talbiyah merupakan penggilan Allah kepada seseorang untuk senantiasa dengan ikhlas memenuhi panggilan Tuhannya, Menghadapi panggilan Allah, orang mukmin dengan sepenuh hati akan menyatakan :
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah”,
 Islam yang mengajarkan tauhid murni, mengajarkan juga agar orang yang bertauhid senantiasa dengan ikhlas memenuhi panggilan Allah. Hal ini berarti setiap orang yang bertauhid senantiasa bersikap tunduk kepada Allah SWT. jamaah haji yang mengumandangkan talbiyah melahirkan pernyataan tunduk mutlak kepada petunjuk-petunjuk Allah, atas dasar keyakinan secara sabar bahwa sikap demikian itu akan membawa keberuntungan bagi manusia itu sendiri. Orang yang mengumandangkan Talbiyah dengan berpakaian ihram melahirkan sikap_Tawadhu’ merendahkan diri terhadap ke-Maha Besaran Allah SWT, sekaligus melahirkan kesatuan kemanusiaan diantara sesama jamaah haji sebagai makhluk ciptaan Allah yang berkewajiban mangabdi kepada-Nya.