Shalat merupakan perjalanan ruhani menuju Tuhan

      Shalat adalah satu-satunya ibadah dalam melakukan hubungan langsung antara hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak, daya pikiran terlepas dari keadaan–keadaan riil, dan panca indra melepaskan diri dari segala macam peristiwa disekitarnya, termasuk alam-alam yang tergelar dalam setiap dimensi ruhaniah (mikrokosmos mau­pun makrokosmos).

Zat Allah merupakan obyek pikir jiwa untuk kembali dan berserah diri. Inna shalati, wanusuki, wamahya­ya, wamamati lillahi rabbil ‘alamin. Segala apa yang ada pada diri ini, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semata. Keadaan inilah yang disebut dalam Alqur’an sebagai orang yang ber­serah diri (mukhlasin). Dan pada keadaan ini setan dan nafsu tidak mampu menembus alam keikhlasan orang mukmin. Pada keadaan ini segala alam telah terlampaui, sementara setan tidak mampu menjang­kau ketinggian derajat jiwa yang berserah diri itu, sebagaimana pengakuan mereka kepada Allah yang tercantum dalam surat Shaad, 38 ayat 82-83:

Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis dian­tara mereka.

Juga dalam surat Ash Shaffa’at, 37 ayat 8;

 

Setan-setan itu tidak dapat mendengarkan (pembi­caraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

 

Pada saat shalat, seluruh syaraf indra tidak menghan­tarkan impuls getaran dari panca indra, sebab jiwa perlahan bergerak meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Keadaan ini disebut berpikir ab­strak. Elektron-elektron pikiran berhenti berputar hingga menjadi aether kembali, lalu dilepaskan oleh ruhani itu dan menjelma sebagai cahaya yang dise­but nur fuad, cahaya batin, yang langsung kem­bali ke pangkalnya, yaitu Allah, lalu menjelmakan getaran antara cahaya batin dengan Nurullah. Yang terjadi adalah keadaan jiwa yang berserah dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam, suara-suara ghaib, bisikan jin, dan lain-lainnya.

Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah, sebab pada alam tersebut  masih termuat alam keakuan dan kesombon­gan manusia, di mana watak ini merupakan alamnya setan, sehingga setan mampu mengendalikan piki­ran, perasaan, dan batin manusia yang terhijab dari ber­serah kepada Allah. Jika dalam shalatnya, manusia tidak melakukan perjalanan ruhani kepada Allah, maka jiwanya akan terjebak pada intuisi alam-alam dan bisikan dari jin dan setan. Sebagaimana petunjuk Allah Surat Az Zukhruuf, 43 ayat 36;

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, kami adakan baginya setan (yang menye­satkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

 

Shalat merupakan ajang pertemuan hamba dengan Allah tanpa perantara

Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamaawaati wal ardh haniifan musliman wama ana   minal musyrikin. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku ke0pada wajah yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang yang menyekutukan-Nya (QS. Al-An’am, 6: 79).

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita shalat: bahwa kita menyadari sedang berhadapan dengan wujud Allah Yang Maha Suci. Kemudian di­lanjutkan dengan penegasan bahwa “shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah semata”. Jika hal ini yang terjadi pada diri kita, tak mungkin kita melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah. Firman Allah dalam surat Al-Ankabut, 29 ayat 45, menegaskan bahwa:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fasik dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Karena itulah Allah sendiri memberikan gelar kepada orang yang shalatnya tidak sesuai dengan sumpahnya se­bagai shalatnya orang munafik.

Firman Allah dalam Surat An Nisa’,4 ayat 142:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apa­bila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri deng­an malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan ti­daklah mereka menyebut Allah (dzikrullah) kecuali hanya sedikit sekali.

Keadaan malas ini sungguh terasa sekali setiap kali berdiri untuk shalat. Kita tak merasakan bahwa se­dang berhadapan dengan Allah Yang Maha Kuasa, shalat terasa tidak ber­gairah, rukuk dan sujud­pun dilakukan dengan sekedarnya tanpa ada rasa hormat dan bersembah dengan sungguh-sungguh. Hal itu terbukti dengan sikap ingin cepat menyelesai­kan shalatnya (terburu-buru).

Coba kita bandingkan dengan ketika kita sedang ber­hadapan dengan raja atau presiden. Hati dan pikiran serta jiwa turut menghormati raja tersebut dengan khudhu’(rendah hati) dan menyimak dengan hati-hati setiap yang disabdakan. Sehingga, kesan pertemuannya sangat terasa dan terbawa ke rumah. Kesan inilah yang menyebabkan kita mencintai dan menghormati raja atau presiden tadi dalam setiap keadaan.

Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam sebuah hadist-nya, bahwa “shalat itu adalah mi’raj-nya orang-orang mukmin”. Yaitu naiknya jiwa (mi’raj) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadlirat Allah Yang Maha Tinggi.

Mungkin bagi kita yang awam agak canggung deng­an istilah mi’raj, yang hanya kita kenal sebagai peris­tiwa luar biasa hebat yang pernah dialami Ra­sulullah SAW, dan menghasilkan sebuah perintah shalat. Mengapa Rasulullah mengatakan bahwa sha­lat merupakan mi’raj-nya orang-orang mukmin? Ada­kah kaitannya dengan mi’raj-nya Rasulullah SAW, karena perintah shalat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Shidratul Muntaha? Mung­kinkah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW melalui shalat? Apa­kah kita bisa berjumpa dengan Allah ketika shalat? Begitu mudahkah berjumpa dengan Allah ?, atau jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk shalat ? Adakah rahasia dibalik shalat ?

Misteri ini hampir tak terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadist tersebut dengan sikap apriori, dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin berjumpa dengan Allah di dunia. Akibatnya, kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat shalat atau bahkan hanya menganggap shalat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Ketika muncul pertanyaan mengenai cara mencapai khusyu’ dalam shalat, muncul beraneka jawaban. Ada yang meng­an­jurkan untuk mengerti arti setiap kalimat yang diu­capkan dalam shalat, ada juga yang menganjurkan memandang ke arah tempat sujud (sajadah) sebagai upaya memfokuskan pikiran agar tidak liar ke sana ke mari, dan beraneka jawaban lainnya. Namun se­cara esensial semua keterangan tersebut belum menyentuh hakikat shalat yaitu rasa berkomunikasi dan menerima respons dari yang disembah.

Banyak pesholat yang telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai khusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran mereka menerawang tidak karuan sehingga tanpa kita sadari sudah keluar dari “kesadaran shalat”. Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang shalat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari  keadaan shalat itu sendiri, yaitu  bergeser niatnya bukan lagi karena Allah. Firman Allah dalam surat Al Ma’un 107 ayat 4-6 :

Fawailul lil mushallien

Alladzina hum an shalaatihin saahun

Alladzina hum yuraauuna

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

(yaitu ) orang-orang yang lalai akan shalatnya,

orang–orang yang berbuat riya’

 

Pada ayat lima, didahului oleh kalimat Alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk mene­rangkan kalimat sebelumnya yaitu saahun (orang yang lalai, yaitu orang yang shalatnya tidak dilandasi niat karena Allah). Celakalah baginya karena dasar perbuatan shalatnya telah bergeser dari “karena Al­lah” menjadi “karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’)”. Atau, bagi orang yang dalam shalatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya Yang Maha Agung sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Shalat yang demikian adalah shalat yang shahuun (badannya shalat namun jiwa dan pikirannya tidak shalat). Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki shalat sebagai jalan untuk mengingat (sadar) akan Allah sebagaimana firmannya :

…fa’budnii wa aqimish shalata li dzikri …

… maka sembahlah Aku dan  dirikanlah shalat untuk mengingat Aku … (QS. Thaha, 20:14)

… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. Al A’raaf, 7:205 )

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kalian ucapkan ….. (QS. An Nisa’, 4:43)

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada ma­salah kedalaman ibadah shalat, yaitu untuk mengi­ngat Allah azza wajalla, bukan sekedar membungkuk bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang ia lakukan. Shalat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan selama ini, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan fasik dan munkar.

Firman Allah Swt:

laa taqrabu shalata wa antum sukaara … (QS. An Nisa’, 4: 43 )

…Jangan-lah engkau mendekati shalat sedang  kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar) …

Kalimat laa taqrabu (janganlah kamu mendekati) mempunyai kandungan maksud bahwa kita dilarang mendekati perbuatan shalat. Sebagian ulama me­ng­anggap haram hukumnya jika orang mendekati sha­lat dalam keadaan tidak sadar. Hal ini dikaitkan de­ngan kalimat larangan yang juga menggunakan kata laa taqrabu seperti dalam firman Allah laa taqraba haadzihisy syajarah (QS. Al Baqarah, 2:35) yang ar­tinya jangan engkau dekati pohon ini, dan wa laa taqrabuu fawaahisya … (QS. Al An’am, 6:151), yang artinya. janganlah engkau dekati keburukan, serta Laa taqrabuz zina (QS. Al Isra’, 17:32) yang artinya jangan­lah engkau mendekati zina. Wala taqrabuu maala’l yatiimi , dan janganlah kamu dekati harta anak yatim …( An An ‘am, 6:152)

     Nahyi (larangan) juga ditujukan kepada para mushal­lin agar tidak melakukan shalat jika masih belum sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan khaliqnya. Bentuk nahyi(larangan) seperti kata laa taqrabuush shalata (jangan engkau mendekati shalat dan laa tarabaa hadzihisy syajarata (jangan kalian mendekati pohon ini) mempunyai sifat yang sama, yaitu larangan untuk mendekati sesuatu (benda) atau perbuatan. Dan itu merupakan syarat mutlak dari Allah. Coba kita renungkan, untuk mendekati saja kita dilarang, apa lagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan maka Allah murka, yang ditunjukkan dengan perkataan yang sangat buruk, yaitu, “maka celakalah orang yang shalat, yang ketika shalat ia lalai, yaitu niatnya telah tergelincir karena orang lain (riya’)”.

Tidak bisa dipungkiri bahwa melaksanakan shalat dengan baik dan benar memang berat dan sulit. Kita sudah berupaya melakukannya dengan serius, kita sudah menepis khayalan dalam pikiran agar bisa berkonsentrasi menemui Allah, namun a­khir­nya kita merasa tak berdaya untuk bangkit dan berkomunikasi hanya dengan Allah. Jadilah kita seperti sekarang ini membungkuk, bersujud, komat-kamit, dan tidak merasa nyaman. Yang lebih tragis adalah kerapnya muncul rasa ingin cepat sele­sai. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda :

Amal yang pertama-tama ditanyai Allah pada hamba di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima, maka akan diterima seluruh amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu  Dawud, Ibnu Majah dari hadis Tamim ad-Daary, dan diriwayatkan pula oleh Abu Ju’la dalam masnadnya dan oleh Ad-Dhiyaa’ dalam Al mukhtarah, dan oleh At-Thabrany dari Anas).

Telah bersabda Rasulullah :

Akan datang satu masa atas manusia, dimana mereka shalat padahal sebenarnya mereka tidak shalat.”

Kemudian,

“Kececeran yang pertama akan kamu alami dari agamamu ialah amanat, dan kececeran yang terakhir ialah shalat. Dan sesungguhnya (akan terjadi) orang-orang melakukan shalat, sedang mereka tidak berakhlak.”

Arti hadits tersebut ialah bahwa yang mula-mula sekali ditinggalkan dan dilalaikan orang dalam agama ialah amanat, dan yang terakhir dilalaikan (ditinggalkan) adalah shalat. Orang masih melakukan shalat, tidak meninggalkannya, tetapi shalat yang tidak ada pahalanya.

     Masalah ini sudah lama berjangkit dalam budaya umat Islam. Padahal, shalat merupakan tiang agama, dan merupakan ajang pertemuan dengan Allah. Ba­gaimana kita akan menjadi manusia paripurna jika di hadapan Allah saja kita berbuat curang, tidak sopan dan enggan untuk berdialog dengan serius? Cela­kanya, perdebatan dan saling mencela justru terjadi pada masalah fiqh atau furu’, yang bahkan memun­culkan vonis tidak sah serta bid’ah atas shalat dan furu’ yang berbeda.

Selanjutnya mari kita kembali kepada nash Alqur’an untuk melihat keterangan yang menunjukkan keadaan orang-orang yang khusyu’.

Firman Allah swt  dalam surat Al Anbiya, 21 ayat 90:

 

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami menganugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)  perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Mereka adalah or­ang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

 

Lalu dalam Surat Al Ahzab, 33 ayat 35:

 

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

 

Allah juga memberikan pujian kepada orang-orang mukmin yang khusyu’ dalam shalatnya, seperti di­firmankan-Nya dalam Surat Al Mukminun, 23 ayat 1-2:

 

Sungguh beruntunglah mereka yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.

 

Sungguh amat jelas dalam nash tersebut, bahwa khusyu’ merupakan suatu hal yang sangat penting, dan Allah merespon orang-orang mukmin yang khusyu di da­lam peribadatannya.

Firman Allah dalam Surat Az Zukhruf, 43 ayat 36-37:

 

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesat­kan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu  benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka mendapat petunjuk.

 

Lalu firman-Nya dalam surat Al Mujaadilah, 59 ayat 19:

 

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan setan. Keta­huilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.

 

Lalu dalam Surat Al Isra’, 17 ayat 107-109:

 

Katakanlah : “Berimanlah kamu kepada-Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apa­bila Alqur’an dibacakan kepada mereka, merekapun menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata: ‘Maha suci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi’. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu’.

 

“Ilmu” yang dimaksud pada surat Al Isra, 17 ayat 107-109 di atas adalah ilmu khusyu’. Jika ilmu ini ada dalam hati manusia maka akan bergetar hatinya, tersungkur atas muka mereka seraya menangis dan mereka bertambah khusyu’, jika ayat-ayat Allah dibacakan. Ayat di atas, sekaligus merupakan petunjuk atas tanda iman yang keluar dari hati orang-orang yang dimaksud pada ayat tersebut, seperti juga disebut dalam surat Al Anfaal, 8 ayat 2 : innamal mukminuuna lladzina idza dzukirallahu wazilat quluubuhum ….yang artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka ……..

Allah tidak suka terhadap kaum yang tak meng­in­dahkan shalatnya, dan kemudian Allah mencabut ilmu khusyu’ itu dari dadanya agar tidak bisa lagi berkomunikasi dengan-Nya. Allah menutup dan me­ngunci mati hati orang yang lalai akan shalatnya dan hanya mengikuti hawa nafsunya. Allah berpaling dan mengirimkan kawan yang sesuai dengan dirinya agar bertambah jauh dari rahmat-Nya

Adapun arti khusyu’ ialah lunak dan tawadhu’ hati­nya, merasakan ketenangan, kerinduan, keintiman dan kecintaannya kepada Allah. Maka apabila hati seseorang telah mengalami khusyu’ maka seluruh anggota badannya akan khusyu’ pula. Badan men­jadi sangat rileks dan lapang, hati terasa sejuk dan dingin, gejolak nafsu terasa meluruh dan tunduk oleh ketenangan jiwa. Dalam kondisi seperti inilah hati tidak lagi liar oleh keingi­nan yang meluap-luap dan manusia akan tercegah dari segala perbuatan fasik dan munkar. Inilah rahasia yang dituturkan oleh Ra­sulullah SAW, dalam sebuah hadistnya:

Ketahuilah benar-benar, bahwa di dalam badan manusia itu terdapat sepotong daging. Apabila itu baik maka seluruh badannya menjadi baik, jika ia rusak maka seluruh badanpun rusak pula. Ketahuilah itu adalah hati. (Hr Bukhari /Muslim)

Hadist ini menjelaskan rahasia hati secara sederhana, bahwa jika hati ini rusak maka perbuatan fisiknya akan mengikuti hatinya yang rusak. Jika hatinya ja­hat maka perbuatan fisiknya akan melakukan tindak­an jahat pula, di mana hati yang jahat tadi di dalam Alqur’an disebut hati yang sakit (Fii quluubihim ma­radhun ..di dalam hati mereka ada penyakit lalu di­tambah Allah penyakitnya [QS. Al Baqarah, 2:10]).

Selanjutnya apa yang menjadi penyebab hilangnya ilmu khusyu’ pada zaman kini, Alqur’an mengisahkan sebuah zaman yang hampir sama kejadiannya seperti zaman kita, didalam surat. Maryam, 19 ayat 56-59:

 

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang terse­but) di dalam Al-qur’an, se­sungguhnya ia adalah seorang  yang sangat mem­benarkan dan seorang nabi.

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah  diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat ber­sama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila diba­cakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturut­kan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan mene­mui kesesatan.

Begitulah Al-Quran menyebutkan penyebab dicabut­nya ilmu khusyu’, yaitu karena memperturut­kan hawa nafsu dan melalaikan shalatnya.

Khusyu’ adalah ilmu yang paling bermanfaat dan ilmu yang paling awal dicabut. An Nasai menyampai­kan hadist dari Auf bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari memandang langit lalu ber­sabda:

Sekarang inilah waktunya ilmu itu dicabut kembali. Lalu seorang sahabat Anshar yang bernama Ziyad bin Lubaid berkata: “Ya Rasulallah, apakah maksud ilmu itu dicabut kembali, sedang ilmu itu telah diam dan bersemayam di dalam hati?” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku telah menyangka bahwa kamu adalah sepandai-pandai orang Madinah.” Lalu beliau menyebutkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani, merekapun telah kehilangan kitab Allah dari tangan mereka. Ziyad berkata: “Lalu saya me­nemui Syaddad bin Aus lalu saya ceritakan hadist Auf bin Malik itu kepadanya.”. Syaddad menjawab. ”‘Auf itu benar. Coba, maukah kamu saya beritahu ilmu apa yang paling dahulu dicabut?” Syadad menjawab: “Ialah khusyu’, sehingga kamu sekarang tidak tahu orang yang khusyu’.” ( HR. Ahmad).

Hilangnya rasa (dzauq) dan kecintaan kepada Allah serta hilangnya tanda iman yang menyelimuti hati akibat telah hilangnya kesadaran ketuhanan yang dibiarkan mengkristal sehingga kedudukan Tuhan diganti oleh setan yang selalu menemani (qarin). Dialah yang menutup pintu, jalur komunikasi dengan Allah. Dialah yang menutup hati kita se­hingga tidak lagi tampak sinar Tuhan membimbing jiwa kita menuju kehadirat-Nya.

Disebutkan dalam surat Al Mujaadilah, 58 ayat 19:

Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan syetan ……

Adalah setan yang menjadi penghalang serta menye­babkan tidak khusyu’ atau lalai tatkala beribadah kepada Allah. Dan siapapun tidak akan mampu menghalau kekuatan setan yang sangat dahsyat, kecuali orang-orang yang berserah diri kepada Allah.

Inilah rahasia yang sangat berharga dan ditakuti oleh raja setan sekalipun. Mengapa setan takut terhadap orang yang berserah diri? Mempunyai kekuatan apa­kah orang berserah diri kepada Allah?

Firman Allah dalam surat Al A’raaf, 17 ayat 201:

 

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka mengi­ngat Allah (dzikrullah), maka ketika itu juga mereka melihat kesalah­an-kesalahannya.

Allah telah menunjukkan jalan bagi yang ingin men­dapatkan kekhusyu’an seperti yang tercantum dalam nash berikut ini:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah, 2:45-46)

Pada ayat pertama Allah memberikan penjelasan ter­hadap kita, bahwa shalat itu memang sangat sulit dan berat, kecuali bagi orang yang khusyu’. Pada ayat berikutnya terdapat kata alladzina yadzhun­nuuna annahum mu­laaquu rabbihim wa an­nahum ilaihi raajiuun, untuk menjelaskan bahwa o­rang yang khusyu’ adalah orang yang mempunyai kesadaran ruhani (dzhan) bahwa dirinya sedang bertemu deng­an Tuhannya dan dengan kesadaran­nya itulah mereka kembali kepada-Nya (berserah diri), seperti tercantum dalam lafadz iftitah: inni wa­jahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardha haniifan musliman wama ana minal musyrikin, inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahirabbil ‘alamin (kuhadapkan muka dan jiwaku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan tunduk dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan selu­ruh alam semesta).

Jika kita tidak memahami kesadaran akan diri kita dan kepada-Nya ruh itu kembali, maka perjalanan ruhani kita berhenti atau terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya respon itu tidak ada, padahal pertemuan dengan Allah yang disebutkan di atas terjadi pada waktu sekarang atau sedang berlangsung.

Ada sebagian orang menterjemahkan bahwa “bertemu Allah” hanya di akhirat kelak. Pendapat ini tidak sesuai deng­an kata yang tercantum dalam ayat tersebut. Sebab pada kalimat alladzina yadhunnuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi raajiuun – adalah orang yang (sedang) meyakini atau menyadari bertemu dengan Tuhannya dan kepada-Nya mereka kembali. Kata raaji-uun berasal dari kata raja’a (telah kembali, fi’il madhi), sedang yarji’u (sedang kembali, fiil mudhori’) dan raaji’ (orang yang kembali, isim fail). Raajiuun adalah bentuk jama’ dari kata raaji’ (orang yang kembali).

Penggunaan isim fail (pelaku atau subjek) pada ayat tersebut menegaskan, bahwa subjek itu melakukan sesuatu pada saat sekarang atau sedang berlangsung, karena didahului kata yadzhunnuna (adalah bentuk fiil mudhori’), didalam kitab Al qawaaidul ‘Arabiya, Al muyassarah jilid I halaman 79, wa hua fi’lul alladzi yadullu ‘ala hadatsin fi zamanin haadhir au mustaqbalin, menerangkan waktu (zamanin) haadhir au istiqbal yaituperistiwa yang dilakukan saat sekarang dan akan datang atau pekerjaan itu sedang berlangsung. Maka bagi orang yang mengartikan bahwa kembali atau bertemu dengan Allah yang dimaksud adalah nanti di akhirat saja, sangatlah tidak masuk akal, karena jika pendapatnya demikian akan muncul pertanyaan: jadi selama ini ketika kita shalat menghadap kepada siapa? Di manakah Allah saat kita sedang menyem­bah-Nya? Bagaimana dengan pernyataan Allah dalam surat Thaha, 20 ayat 14:

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan diri­kanlah shalat untuk mengingat Aku.

Begitu jelas bahwa objek (persembahan) ketika sha­lat adalah Aku, bukan nama-Ku akan tetapi kepada wujud-Ku yang hak. Kepada Dia yang tidak terjang­kau oleh pikiran, Yang Tidak Sama Dengan Makh­luk­nya, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Dekat, Yang Maha Hidup, Yang Maha Menge­tahui Lintasan Hati.

Kesadaran bahwa kita bisa  bertemu dengan Allah dalam shalat ditegaskan pada firman Allah surat Al Insyiqaaq, 84 ayat 6:

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan mene­mui-Nya.

Tentunya, pertemuan dengan Allah itu hanya terjadi jika shalat kita khusyu’. Salah satu bentuk khusyu’ yang dapat dilihat secara lahiriah adalah shalat yang tak menengok ke kanan dan ke kiri. Hal itu disebut­kan dalam beberapa hadist di bawah ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu : “(Rasulullah SAW pernah menoleh ke kanan dan ke kiri dalam shalat, lalu Allah menurunkan firman-Nya : Sungguh beruntung mereka yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (Al Mu’minuun ayat 1-2). Kemudian Rasulullah SAW, shalat dengan khusyu’ dan tidak menoleh ke kanan atau ke kiri (dikeluarkan oleh An Nasai).

Hadist lain mengenai larangan menoleh dalam shalat ada di dalam sha­hih Bukhari:

Dari Aisyah ra: saya bertanya kepada Nabi tentang menoleh di da­lam shalat, beliau men­jawab, “Itu adalah sero­bot­an yang dilakukan oleh setan dari shalatnya hamba.”

Hadist tadi masih diperkuat oleh hadist lain:

“Allah itu tanpa henti memperhatikan shalatnya hamba, selama hamba itu tidak menoleh. Jika hamba itu menoleh, maka Allah mengalihkan pandangan-Nya dari hamba itu.”

Advertisements