Tour ke Jeddah

1. Selayang Pandang Jeddah
Jeddah adalah kota pelabuhan utama di Arab Saudi, baik pelabuhan laut maupun pelabuhan udara. Terletak di tepi Laut Merah dan sebagaimana kota-kota lainnya di Arab Saudi, Jeddah memiliki Iklim Gurun. Didirikan pada tahun 647 M. oleh Khalifah Utsman bin Affan yang menyatakan Jeddah sebagai pintu gerbang masuk ke dua tanah suci Makkah dan Madinah, yang akhirnya digunakan sebagai pelabuhan untuk kepentingan jamaah haji terutama pada masa-masa perjalanan jamaah haji yang dilakukan laut, bukan melalui udara seperti sekarang ini.

Kota Jeddah memiliki area kurang lebih 2400 KM2 (menurut sejarawan) dan dengan garis pantai kurang lebih 80 KM., dan sekarang kota ini dikenal dengan sebutan “The Bride of The Red Sea” (Penganten Laut Merah), julukan ini sangatlah cocok untuk kota Jeddah jika dilihat dari letak geografisnya. Kota yang indah ini disebabkan karena pantai laut merahnya yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan didukung adanya air mancur tertinggi di dunia (Nafuro Malik Fahd) yang konon tingginya sekitar 312 m, dibangun pada tahun 1980 di dekat istana as-Salam Raja Fahd, dimana pada malam hari nampak seperti air perak yang muncrat ke langit.

Perkembangan kota Jeddan yang signifikan itulah yang ternyata menarik perhatian armada ‘ Lopo Soares de Albergaria Portugis’ yang pada tahun 1516 M., bersiap-siap dan siaga untuk menjajah Jeddah. Namun pada akhir ujung abad ke – 17, Kerajaan Utsmaniyah (Ottoman) dapat mengalahkan armada Portugis ini dalam pertempuran di laut merah, dan dapat juga menaklukan Hijaz termasuk Bandar suci Makkah dan juga pelabuhan Jeddah. Maka selama kepemimpinan Kerajaan Ottoman, di Jeddah dibangun beberapa tembok sebagai benteng perlindungan dibeberapa kawasan pintu masuk sebagai mana berikut :
– Bab Syarief (tembok gerbang Syarief, kawasan balad) berada disebelah selatan
– Bab Makkah (tembok gerbang Makkah, Mecca street) berada disebelah timur
– Bab Madinah (tembok gerbang Madinah, Medina street) berada disebelah utara
– Bab Bahrul Ahmar (tembok gerbang yang langsung menghadap laut) berada disebelah barat

Kendati wilayah Jeddah dikelilingi berbagai tembok benteng pelindung, tak tertutup kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang bahkan semakin pesat dan tidak menerima perwakilan Negara asing terutama Eropa. Masih dibawah kepemimpinan Ottoman pada tahun 1825 M., barulah membuka perwakilan Negara asing pertamanya yaitu Prancil dan Inggris, dengan sebab itu pula Jeddah mendapat julukan “Biladul Qunashil = The City of Consulaty”.

Setelah kerajaan Ottoman jatuh pada tahun 1915 M. tembokpun runtuh pula, tapi sampai sekarang masih banyak ditemukan sisa-sisa artifak Turki ini, selain tembok-tembok gerbang tersebut diatas. Ketika Perang Dunia I, Syarif Makkah yang menjadi wakil kepala kerajaan Ottoman di tanah Arab, memberontak menentangnya dan menuntut satu kebebasan untuk Negara Arab yang bersatu yang meliputi Aleppo (Halab) Syiria sampai ke Aden di Yaman.

Setelah perang dunia I, pada tahun 1924 M. putera Ibnu Saud (Raja Abd. Aziz bin Abd. Rahman) yang berasal dari wilayah Najd dapat menaklukan Bandar Makkah, Bandar Madinah dan Pelabuhan Jeddah, serta dapat menggulingkan Syarief Makkah bernama Syarief Husein bin Ali Al-Hasyimi. Syarief Husein kemudian melarikan diri ke Cyprus sebelum berhijrah dan menetap di Amman Jordania, yang mana ahli warisnya kemudian didasarkan kepada keluarga Diraja Hasyimiyah Jordan yang menjadi Raja Jordan hingga kini.

Maka pada tahun 1926 M. Raja Ibnu Saud bergelar ‘Sulthan Hijaz’ selain galar yang sebelumnya adalah ‘Sulthan Najd’, pada saat itulah Jeddah sudah hilang kepentingannya dalam dunia politik di Semenanjung Arab. Daerah Hijaz pula terpecah menjadi wilayah-wilayah kecil dan Jeddah kini diletakkan didalam Propensi Makkah dengan Bandar Makkah sebagai Bandar Propensinya.

Sebagai kota dagang, Jeddah memiliki fasilitas kota yang cukup memadai. Pelabuhan lautnya merupakan pelabuhan utama yang merupakan sentral perdagangan menuju berbagai Negara khususnya Negara-negara di pesisir timur Afrika, serta Yaman. Pelabuhannya merupakan pelabuhan bebas.

Di Jeddah terdapat Bandar udara yang cukup terkenal yakni Bandara Internasional King Abdul Aziz yang memiliki tingkat kesibukan paling tinggi terutama pada musim haji. Terminal ini mempunyai seni arsitektur tersendiri dibuat dengan bentuk kemah kaum badawi. Terminal ini dapat melayani dengan baik setiap tahunnya jamaah haji yang melebihi 3 juta jamaah. Jeddah adalah merupakan sebuah Bandar Raya Arab Saudi yang terletak di pinggir Laut Merah, dengan temperatur (21.50 derajat BU – 39.1667 derajat BT). Bandar Jeddah adalah sebuah Bandar utama di Arab Saudi dan merupakan Bandar paling besar di Propensi Barat (Arab Saudi). Bandar kota Jeddah bisa pula disebut ‘Kota Kosmopolitan’ adalah Bandar kedua terbesar di Arab Saudi, setelah Bandar Raya Riyadh.

Jumlah penduduk Jeddah kini berjumlah 3,4 juta jiwa. Jeddah dianggap sebagai pusat perdagangan Arab Saudi dan Bandar Raya paling makmur dan paling mewah di Timur Tengah. Jeddah juga adalah pintu gerbang masuk utama ke Makkah dan Madinah. Bandar Raya Jeddah mempunyai beberapa pantai tersendiri, termasuk ; ‘Durrat al-Arus, Crystal Resort, FAL, Al-Remal, Shums, Bait al-Bahar dan al-Nakheel Village’. Jeddah mempunyai temperatur suhu uda yang beragam, berbeda dengan daerah-daerah lain di Saudi Arabia, pada musim panas cukup panas, pada musim dingin suasana tetap panas karena terpengaruh oleh iklim laut merah.

Temperatur pada musim dingin berkisar sampai 15 derajat C (59 derajat F) pada malam hari, pada siang hari berkisar sampai 25 derajat C (77 derajat F). Pada musim panas temperaturnya sampai 40 derajat C (104 derajat F) pada tengah hari, dan 30 derajat C (86 derajat F) pada malam hari.

2. Pasar Balad
Kota lama al-Balad adalah mempunyai bangunan khas tersendiri dan gedung perdagangan yang bertingkat-tingkat dan dibuat mengikuti bangunan tradisional, Tetapi sekarang sudah tenggelam dengan banyaknya perkembangan modern yang mementingkan pengaruh seni barat. Akan tetapi pula belakangan ini, terdapat pergerakan yang kembali mementingkan seni khas tradisional dan terdapat usaha-usaha serius untuk memulihkan kembali bangunan-bangunan tradisional.

Bila dibandingkan Makkah, Jeddah lebih gemerlap. Tak hanya keberadaan Bandara Internasional King Abd. Aziz, dimana banyak orang dari berbagai Negara tiba di bandara ini. Pusat-pusat pertokoan juga banyak bertebaran di Jeddah selain Balad, sejumlah pusat pertokoan elit bisa ditemukan di Jeddah. Pertokoan itu menyediakan hampir segala macam barang mulai dari fashion, furniture, karpet dan sajadah, serta mobil mewah. Mobil-mobil pribadi dengan merk-merk terkenal baik dari Jepang maupun Eropa banyak berlalu lalang dan saling berkejaran di jalan-jalan.

Bila berkunjung ke Jeddah, kita bisa sekedar cuci mata melewati sejumlah pusat perbelanjaan di Balad. Juga di sepanjang jalan Tahliah, misalnya kita bisa melihat deretan toko-toko mewah. Kalangan atas menjadi langganan pertokoan tersebut. Tak perlu ragu mengunjungi pusat perbelanjaan modern yang sangat terkenal sebagai tempat belanja barang-barang konsumsi mewah. Terdiri dari pertokoan dan supermarket, Balad menawarkan berbagai jenis barang mulai dari kebutuhan harian sampai keperluan sekunder berupa perhiasan-perhiasan lux. Barang-barang yang dijual di Balad hampir 100% import.

Ada pasar yang biasa dibidik kalangan menengah saja dengan model layaknya pasar biasa. Tapi ada juga pusat perbelanjaan megah untuk golongan menengah atas yang memburu barang bermerk internasional.

Pusat perbelanjaan yang relatif lebih murah juga ada di Jeddah, yaitu Bab Syarief. Selain menjadi ikon pusat belanja, Jeddah dengan Balad nya juga terlihat lebih longgar dalam hal aturan berbusana. Seorang wanita di Jeddah bisa melepaskan cadarnya. Bagi yang non-Muslim biasanya pramugari atau perawat, bisa tetap menggunakan abaya hitam dengan rambut tergerai. Namun ada sisi lain, mungkin karena suasana yang cukup glamour, maka ruh spritualnya menjadi tiada dibandingkan dengan kota Makkah, suasana di Jeddah sangatlah berbeda.

Meski layaknya di Makkah, semua kegiatan perniagaan juga kantor di Jeddah juga akan tutup menjelang shalat wajib. Namun nuansa spiritual memang lebih terasa saat berada di Makkah. Dengan magnet spiritual bernama Masjidil Haram. Di Makkah pusat perbelanjaan memang tak sebanyak di Jeddah. Hanya Pasar Seng yang telah tiada dan beberapa pertokoan di lantai dasar hotel. Namun bukan sasaran belanja jamaah Indonesia kebanyakan. Itupun sangat ramai hanya pada musim haji.

3. Mesjid Qisos
Mesjid Qisos adalah sebuah mesjid biasa, letaknya di kawasan Balad Jeddah. Pesis di sebelah baratnya kantor sekretariat Departemen Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, yang telah di bangun baru. Posisinya persis ditengah lingkaran jalan atau bundaran, antara jalan Bagdadidyah, Jalan Syekh Al-Juffali, dan Jalan Madinah. Di Sudut jalan lain terdapat Markas Polisi Militer Jeddah, yang di depan gerbangnya terpajang meriam tua.

Dari luar Mesjid Qisos tampak biasa dan sederhana, dinding temboknya seperti bentuk jajaran genjang atau mungkin segi-tiga siku. Hampir sama sekali tidak memperlihatkan kemewahan. Mesjid ini memiliki 26 kubah, satu kubah tinggi persis diatas mihrab dan satu kubah lainnya di atas pintu masuk sebelah selatan. Arsitektur bagian dalam mesjid ternyata sangat unik. Apalagi penataan warna dan interior yang indah dengan hamparan permadani merah dan garis shaf coklat.
Sholat di mesjid ini terasa nyaman dan sejuk, padahal di luar mesjid matahari terik panas menyengat. Suara imam terdengar nyaring dan lantang. Tampaknya dinding mesjid menggunakan bahap yang kedap suara, sehingga suara dari luar nyaris tak terdengar.

Mesjid Qisos saat ini tampak sedang dilengkapi dengan pertamanan, di beberapa sudut halaman mesjid tampak pula pot-pot tanaman hias. Menurut ceerita warga setempat, nama sebenarnya Mesjid Qisos adalah Mesjid ‘Syekh Ibrahim al-Juffali, nama seorang saudagar Arab Saudi terkenal yang membangun mesjid tersebut. Di depan mesjid inilah yang dipagar dan ditengah-tengahnya ada lantai tingginya sekitar 30 cm berukuran kurang lebih 6 x 6 meter dengan keramik warna putih, selalu diadakan hukum qisos, yaitu suatu pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap seorang terpidana, seperti hukum pancung.

Eksekusi biasanya dialaksanakan secara terbuka, setiap selesai sholat Jum’at, tapi juga kadang-kadang pada hari yang tidak ditentukan, pada jam 10.00 pagi dan di saksikan jamaah dan masyarakat umum. Karena itulah mesjid ini kemudian dikenal sebagai Mesjid Qisos.

Mejid Qisos tak ubahnya sebuah mesjid taman kota. Apalagi di sebelah timur mesjid terdapat danau buatan, dan agak ke sebelah tenggara terdapat hotel Red-Sea. Sementara di bagian utara mesjid dihiasi sebuah menara jam, tangga air terjun buatan. Beberapa tanaman hias melingkari pedestrian road depan mesjid. Tempat parkirnya juga sangat luas.

Mesjid Qisos merupakan salah satu mesjid umum dari ratusan mesjid yang ada di Jeddah. Mesjid lainnya yang berkesan mesjid dengan tamannya, antara lain Mesjid Ibnu Saud, yang dibangun oleh Raja Saud dan Mesjid Terapung di laut merah.

4. Pekuburan Ibunda Hawa
Ejaan dan asal nama terdapat dua sejarah mengenai Jeddah, Jaddah, Juddah atau Jiddah. Yang pertama meriwayatkan bahwa nama Jeddah sebagai bermakna “tepi pantai” karena Jeddah terletak di pantai Laut Merah, yang kemudian menjadi pelabuhan terpenting di Arab Saudi. Sejarah yang lain yang lebih populer menceritakan nama Jeddah berasal dari perkataan Jaddah yang berarti “nenek”.

Menurut cerita-cerita orang-orang Arab setempat, bahwa makam Ibunda Hawa adalah terdapat di Jeddah yang sekarang dijadikan pekuburan umum. Perjalanan manusia merentas waktu adalah bermula ketika Nabi Adam AS. menginjakan kakinya yang pertama kali di bumi adalah pada hari Jum’at. Hakikat sebenarnya dimana bermulanya perjalanan yang panjang ini tiadalah pernyatan yang jelas mengenai turunnya.

Pendapat dari Ibnu Hatim, mengatakan Nabi Adam AS turun ke bumi yang pertama kali dipijak adalah yang bernama dunia, tanah ini terletak diantara Makkah dan Thaif. Ibnu Umar dan Abu Hatim pula menyatakan bahwa Nabi Adam AS diturunkan di bukit Shafa dan Sitti Hawa di Marwah. Al-Hasan berkata bahwa Nabi Adam AS. adalah pertama kali turun ke bumi yaitu pada suatu tempat yang berada di India atau Srilangka sekarang dan Sitti Hawa diturunkan di Jeddah serta Iblis diterunkan di Dustimyan yaitu suatu tempat beberapa batu dari Basrah- Irak.

Selain riwayat diatas yang mengatakan bahwa Sitti Hawa di turunkan di Jeddah, tapi juga ada yang mengatakan wafatnya di makamkan juga di Jeddah, tapi riwayat yang kuat bahwa sesungguhnya Sitti Hawa di makamkan diatas Jabal Aby Qubaisy Makkah, dan Jeddah hanyalah petilasan saja ketika diturunkan dari syurga. Wallahua’lam. Tapi yang jelas Pemakaman Ibunda Hawa termasuk pemakaman favorit yang diziarahi dan dikunjungi jamaah haji dan umroh dari Indonesia, Melayu, Pakistan, India, Mesir dan Negara lainnya. Dan juga salah satu yang tak berubah adalah nama Jeddah itu sendiri sejak zaman dahulu sejak masih diduduki suku Qudo’ah sampai sekarang memang namanya Jeddah (dari Jaddatun) yang berati nenek moyang, leluhur kita.

5. Monumen Sepeda Besar
Di kawasan al-Bawadi jantung kota Jeddah, di ruas jalan “syari’sittien” terdapat monumen sepeda berukuran cukup besar. Tingginya lebih dari 20 meter, panjangnya kurang lebih 50 m. ditambah lagi disampingnya roda cadangan berukuran dengan diameter besar sekali, daerah lingkaran itu paling dikenal dengan nama “Medan ad-Darojah.

Jeddah seperti kota-kota lainnya di Arab Saudi, tidak mengenal istilah benda hidup dijadikan patung dan diletakkan di tengah-tengah kota, tapi diambilah benda-benda mati dijadikan patung lalu diletakkan di tengah-tengah bundaran jalan. Di Jeddah tidak hanya tugu sepeda besar, tapi juga tugu pesawat, tugu kapal laut, tugu mobil, tugu rotasi perputaran bulan dan bumi, tugu globalisasi dll. semua ini dibuat untuk menghiasi keindahan kota Jeddah, yang bergelar Putri Penganten Laut Merah.

Konon monumen sepeda besar tersebut banyak disebut oleh jamaah haji asia tenggara khususnya Indonesia dengan sepeda Nabi Adam (ini salah besar), ada yang mengatakan pula sepeda Bani Adam (ini bisa benar) karena yang membuat adalah kita anak cucu Adam. Menurut beberapa mukimin Indonesia yang tinggal puluhan tahun di Jeddah, seperti cerita Abu Bakar Husein adalah : “Sepeda tersebut dibuat sekitar duapuluh tahun lampau yang didatangkan dari Jakarta, bersamaan dengan ribuan sepeda lainnya, sepeda itu pemberian dari Gubernur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin”, ternyata orang Indonesia juga yang mempopulerkannya.

Sebagai kenangan dari Pemerintah Indonesia waktu itu dengan persetujuan wali kota Jeddah setempat, maka sepeda besar itu dipajang sebagai monumen di tengah kota. Lantas siapa yang pertama kali memberinya nama sepeda Nabi Adam?. Kita tidak tahu, kemungkinan karena melihat ukurannya yang besar lalu kemudian ada yang menyebutnya sebagai sepeda Nabi Adam, dan sampai sekarang nama tersebut populer di kalangan jamaah haji Indonesia.

Mungkin merasa terheran dengan membayangkan bagaimana besarnya pemiliknya. Bayangkan saja sepedanya saja besar sekali, maka rasanya sulit diterima oleh akal dan bagaimana pula besarnya sosok Nabi Adam?, ada-ada saja kawan gaed menggelabui jamaah.

Ada cerita lain pula dengan sepeda besar itu, bahwa pernah salah satu penjelajah separoh dunia berasal dari India menjelajahi dengan sepeda pancal biasa, sesampainya di kota Jeddah diterima oleh wali kota setempat, lau untuk menghormati dan mendedikasikannya, wali kita tersebut membangun sepeda itu dengan bentuk besar. Wallahu A’lam.

Yang jelas, janganlah kita para gaed menerangkan bahwa itu sepedanya Nabi Adam AS., dan jangan pula menerangkan peta bola dunia (globe) yang berada dekat airport, dikatakan kelerengnya Nabi Adam, dan juga jangan menerangkan pula monumen mobil-mobil kecil yang ada didekat pantai laut merah dikatakan mobilnya Abu Nawas, serta jangan pula menerangkan kapal kecil dekat istana raja kapalnya Nabi Nuh AS. dll. agar kitanya tidak tertindak pada hadits Nabi yang berbunyi “Man kadzdzaba ‘alayya muta’ammidan fal-yatabawwa’ maq’adahu minannar”. Naudzubillah, camkan kawan…!

6. Laut Merah
Laut Merah (bahrul-ahmar) adalah sebuah teluk disebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan benua Afrika. Jalur ke laut di selatan melewati Babul Mandib dan Teluk Aden, sedangkan di utara terdapat semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Laut ini di tempat yang terlebar berjarak 300 km. dan panjangnya 1.900 km. dengan titik terdalam 2.500 m.,

Laut Merah juga menjadi habitat bagi berbagai makhluk air dan koral. Walaupun sering dikaitkan dengan berbagai cerita di masa lampau, namun sampai abad ke-20, orang Eropa menyebutnya ‘Teluk Arab’, sedangkan Herodotus dan Ptolemeus menyebutnya ‘Arabicus Sinus’. Air Laut Merah sendiri sebenarnya tidak beda dengan air laut yang lain.

Penjelasan-penjelasan ilmiah menyuebutkan bahwa warna merah di permukaan muncul akibat Trichodesmium erythraeum yang berkembang. Ada juga yang menjelaskan bahwa namanya berasal dari gunung kaya mineral sekitarnya yang berwarna merah. Laut ini muncul karena pemisahan Jazirah Arab dari benua Afrika yang dimulai sekitar 30 juta tahun yang lalu dan masih berlanjut sampai sekarang.

Suhu permukaan laut selalu konstan sekitar 21-25 derajat C. dengan jarak penglihatan 200 m. Namun, sering terjadi angin kencang dan arus lokal yang membingungkan.

Kota-kota yang terdapat di pesisir Laut Merah antara lain : Jeddah, Sharm el-Syekh, Pelabuhan Sudan dan Eilat. Pada tahun 1950-an, Hans Haas menemukan Laut Merah sebagai tempat menyelam dan kemudian oleh Jaques-Y ves Costeau.

Negara-negara yang berbatasan dengan Laut Merah adalah : Pesisir Utara ; – Mesir Pesisir Barat ; – Sudan – Israel – Mesir – Yordania Pesisir Timur ; – Arab Saudi Pesisir Selatan ; – Djibouti – Yaman – Eriteria – Somalia

7. Mesjid Terapung
Mesjid Terapung atau dikenal pula dengan Mesjid Rahmah atau orang arab pula menganalnya dengan Mesjid Jami’ at-Taubah, adalah tidaklah terapung sebagaimana namanya, namun terletak di bibir pantai laut merah Jeddah, dan bila laut pasang maka mesjid pun akan dikelilingi air laut, layaknya seperti mesjid yang terapung, namun apabila air laut lagi surut, tampaklah pondasi-pondasi yang menyangga mesjid itu.

Memang orang Indonesia sangat kratif memberi nama tempat yang dikunjungi, dari pasar seng yang telah tiada sampai ke mesjid terapung, tapi entah sejak kapan orang Indonesia kerap memanggilnya demikian mesjid terapung, bisa jadi karena konstruksi mesjid yang unik dimana bangunan mesjid itu di bangun menjorok ke laut, juga hampir sama sekali tidak memperlihatkan kemewahan, mesjid ini hanya memiliki satu kubah berwarna biru dan satu menara berwarna putih. Arsitektur bagian dalam mesjid ternyata sangat unik juga, termasuk dalam penataan interior yang sangat indah nan asri dengan hamparan permadani lembut berwarna biru keputih-putihan dan garis shaf sholat hijau dan beberapa kaligrafi arab melekat didinding dan langit-langit mesjid yang sangat menakjubkan.

Di sekitar Mesjid Terapung adalah sebuah pantai yang kini disulap menjadi taman rekreasi seperti Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. Pantai laut merah, bukanlah pantai berpasir putih. Tapi di pantai itu wisatawan,jamaah haji dan umroh bisa menyaksikan matahari saat tenggelam (sun-set) dan saat matahari terbit (sun-rise), di mesjid itu pula akan menemukan bahwa perpaduan antara keindahan warna laut yang biru serta pantulan cahaya matahari dari permukaan air yang mengelilinginya, akan menimbulkan kedamaian apalagi ditambah angin yang sepoi-sepoi dari arah laut, maka perasaan hati akan kebesaran Allah YME. akan semakin kental.

Tidak terlalu banyak di dunia Mesjid yang serupa dengan Mesjid Terapung itu, kecuali Mesjid Terapung yang ada di Kuala Terenggano Malaysia bernama Mesjid Tengku Tengah Zaharah, lokasi mesjid ini datas muara sunga Ibai yang dibangun tahun 1991 dan selesai tahun 1994. Dan juga ada Mesjid Terapung di Dubai – Emirat.

8. Indahnya Teluk Abhur
Di Jeddah tidak banyak pilihan untuk rekreasi selain mall dan laut, mengapa kita perlu mengadakan wisata ke Teluk Abhur dan Kota Jeddah walau agak jauh dari Makkah?, ini dikarenakan tempat yang jauh lebih exited bagi kita, mungkin ini salah satu alasan bagi kita, khususnya ibu-ibu haji yang lebih konsumtif perginya dari mall ke mall selepas haji atau umroh.

Kita salut dengan pemerintah Saudi, yang banyak memberi tempat masyarakat berlibut secara gratis, kita bandingkan dengan tempat hiburan ditanah air kita tercinta, hampi r semuanya seba bayar (ancol, dufan, tmii dll).

Sepanjang laut merah di Jeddah yang membentang dari downtown balad hingga teluk abhur kurang lebih 30 km. sengaja dibuat untuk masyarakat Saudi, tourist asing, jamaah haji dan umroh serta mukimin yang sengaja berlibur sebagai week-end nya hari kamis dan jum’at atau hari libur lainnya, tanpa di pungut biaya sepersenpun, hanya sebagian kecil yang dikuasai oleh sewasta untuk bangunan hotel dan restauran ini pun harus bayar.

Teluk Abhur lebih elok nan cantik, menawan, mempesona serta mengagumkan karena kita bisa melihat dari ujung ke ujung indahnya laut dengan beraneka macam permainan laksana dunia fantasi, taman impian dll., bentuknya menyerupai danau. Bagi yang mau sewa perahu boat sekedar muter-muter (pusing-pusing kata orang Malaysia) lengkap dengan nahkodanya, satu jam nya 300 real cukup untuk 5 orang.

Jetsky juga banyak untuk disewakan, tetapi banyak yang dimiliki secara pribadi tapi ongkos parkirnya perbulan yang mahal. Orang-orang kaya di Abhur banyak memiliki yacht/jetsky.

Teluk Abhur tempatnya lebih aman dari pada Jeddah karena dijaga oleh Safety Quard, kita bisa leluasa mandi berenang sebatas pembatas yang telah ditentukan disana, perempuan pun boleh berenang tapi harus memakai abaya dan cadar, kalau ingin mandi tanpa abaya dan cadar dengan memakai pakaian renang boleh saja, teapi harus memasuki ke tempat private yang bayar.

Disalah satu sudut terdapat istana keluarga besar Bin Ladien yang sangat mewah dan besar seperti dalam dongeng-dongeng 1001 malam, dan beberapa vila-vila megah yanbg dimiliki oleh para amir, para konglomerat Jeddah. Di setiap bunderan Abhur dan pesisirnya berikut dengan taman-tamannya yang bertaburan rerumputan dan bebungaan, penuh dengan orang yang sedang piknik dengan menggelar karpet, tikar dan meletakkan kursi lipat sambil makan-makan bersama keluarga.

Banyak juga yang BBQ dengan membawa semua peralatan dari rumah, bisa dipastikan mereka-mereka itu dari Libanon, Syria dan Negara-negara teluk lainnya. Kalau keluarga Saudi lebih senang membawa bekal dari rumah atau beli di restauran

Advertisements