Keutamaan Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al Baqarah pada Waktu Malam.


Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada waktu malam, maka ia akan diberi kecukupan. Sebagian ulama ada yang mengatakan, ia dijauhkan dari gangguan setan. Ada juga yang mengatakan, ia dijauhkan dari penyakit. Ada juga ulama yang menyatakan bahwa dua ayat tersebut sudah mencukupi dari shalat malam. Benarkah?

Dua ayat tersebut,

Allah Ta’ala berfirman,

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 808)

Hadits di atas menunjukkan tentang keutamaan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah.

Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat. Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah Al-Muttaqin, hal. 400-401.

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya dinilai menggantungkan hatinya pada Al-Qur’an. Atau bisa pula maknanya terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al-Mu’allim, 3: 176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13: 83).

Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan dua ayat tersebut ketika dibaca di malam hari, “Ketahuilah para ikhwan sekalian, kedua ayat ini jika dibaca di malam hari, maka akan diberi kecukupan. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.” (Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 2: 540-541).

Semoga bisa mengamalkan untuk membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah ini mulai dari malam ini. Semoga kita meraih kebaikan dan keberkahan. Semoga Allah memberi taufik.

Advertisements

Hijrah adalah peristiwa seperti yang kita ketahui, diperingati sebagai tahun baru Islam, yaitu jatuh pada bulan Muharram. Mungkin sebagian dari kawan-kawan bertanya-tanya; mengapa tahun baru Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah? bukan dari hari kelahiran Baginda, atau bukan dari hari ketika Baginda diangkat sebagai Rasul?

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad akan menetapkan tahun baru Islam, Baginda bertanya dan meminta pendapat kepada para sahabat mengenai hal itu. Ada beberapa perbedaan pendapat saat itu namun akhirnya dapat disepakati bersama bahwa tahun baru Islam adalah ditandai dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Di dalam tulisan ini akan dibahas tentang hikmah yang Allah sampaikan kepada manusia mengenai peristiwa Hijrah yang sangat bersejarah tersebut. Rasulullah pernah bersabda tentang hijrah, yang maknanya : sesungguhnya setiap perbuatan itu dinilai karena niatnya, siapa yg berhijrah karena dunia dia akan memperolehnya, yang hijrah untuk menikah dengan wanita. dia akan menikahinya, siapa berhijrah karena Allah & Rasul maka mereka akan mendapat Allah dan Rasul

Hijrah merupakan suatu peristiwa yang mempunyai hikmah mendalam, baik yang tersurat apalagi yang tersirat. Para sahabat saat itu mungkin belum mengetahui apa hasil yang akan mereka peroleh di masa depan dengan mereka ber-Hijrah tersebut. Mereka melakukannya semata-mata karena itu adalah perintah Allah, wahyu dari Allah yang disampaikan melalui Rasulullah. Di sini sudah ada satu poin yang bisa kita jadikan teladan, yaitu ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya apapun juga resikonya. Karena di dalam ketaatan itu ada berkat dari Allah SWT.

Hal ini perlu kita pahami agar jangan sampai makna Hijrah yang sebenarnya memudar atau bahkan menjadi bumerang kepada umat Islam sendiri. Kita sering mendengar tafsiran salah mengenai Hijrah, terkadang Hijrah sengaja diartikan oleh musuh Islam sebagai pelarian. Hal ini tentu saja tafsiran yang sangat buruk, sedangkan perintah Hijrah adalah wahyu dari Allah, bukan semata-mata kehendak Nabi Muhammad atau para sahabat. Walaupun peristiwa Hijrah seolah seperti lari tetapi jangan kita artikan sebagai lari.

Waktu itu Islam yang diturunkan belum sempurna, secara logika apabila Nabi Muhammad tidak Hijrah pun Baginda tidak akan terancam. Karena sebelum Islam sempurna, sebelum tugas keRasulan Baginda selesai, Baginda tidak akan meninggal dunia dan Islam tidak akan musnah. Tetapi karena Nabi Muhammad dan para sahabat merasakan bahwa perintah Hijrah itu adalah wahyu dari Allah, maka mereka taat semata. Mereka yakin bahwa jika sesuatu yang datang adalah wahyu dari Allah, maka hikmahnya pasti sungguh besar, walaupun mungkin ketika itu mereka belum mengetahuinya.Mereka adalah orang-orang yang Hanif atau Lurus Hati dengan Allah, jika mereka diseru maka mereka menjawab ”sami’naa wa atho’naa…”

Seperti yang sudah kita ketahui, Nabi Muhammad berdakwah terdiri dari 2 Era, yaitu Era Makkah dan Era Madinah, Era Makkah selama 13 tahun, lebih lama 3 tahun dari Era Madinah yang hanya 10 tahun saja. Di Era Makkah sedikit sekali wahyu dari Allah yang berupa syariat lahiriah ( bisa dilihat pada ayat-ayat Makiyyah ), kebanyakan wahyu yang turun saat itu adalah menyeru kepada seluruh manusia ( karena di saat awal-awal Islam masih sedikit sekali orang yang beriman ), wahyu yang turun berhubungan dengan tauhid, ketuhanan dan akhirat. Bahkan ketika peristiwa Hijrah tersebut para sahabat baru 2 tahun mendapat perintah Sholat ( perintah Sholat turun pada tahun 11 kenabian ketika peristiwa Mi’raj ).

Kenapa Allah kehendaki seperti itu?Apa hikmahnya? Jawabannya kurang lebih demikian. Di dalam Islam, yang namanya Syariat Lahiriah ( secara umum kita sebut saja Syariat, yaitu : Sholat, Puasa, Zakat, Haji, menutup aurat, muamalat, dsb ) adalah berfungsi untuk melahirkan Rasa Kehambaan, Rasa Cinta dan Takut kepada Allah, untuk merasakan Kebesaran dan Keagungan Allah. Bila Syariat, misalnya Sholat, tidak melahirkan Rasa Kehambaan serta Rasa Cinta dan Takut kepada Allah, maka apalah artinya kita mengerjakan Sholat.

Maka dari itu selama 13 tahun Nabi Muhammad mendidik para sahabat untuk mengenal Allah terlebih dahulu, mengenal akhirat, cinta kepada akhirat, cinta kepada Rasulullah. Untuk mendapatkan Rasa Cinta dan Takut kepada Allah tersebut maka perlu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, ada pepatah berbunyi: ” tidak kenal maka tidak cinta”. Apabila sudah kenal, sudah cinta, sudah takut, maka para sahabat mudah sekali untuk diperintahkan bersyariat yang jumlahnya ribuan ( Sholat, Puasa, Zakat, Haji,menutup aurat, tidak minum arak, tidak berzina, dsb ). Mereka melakukan itu semua atas dasar cinta kepada Allah dan untuk mempersembahkan rasa cinta kepada Allah, bukan karena dipaksa-paksa atau terpaksa.Bukan karena takut kepada bos, atau malu kepada orang lain tetapi semata-mata karena Allah. Sesuai dengan Firman Allah yang maknanya : ” Sesungguhnya Sholatku dan Ibadahku dan Hidupku dan Matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam ”

Kalau kita pahami lebih mendalam, sebenarnya peristiwa Hijrah adalah sebuah cara yang Allah berikan untuk mewibawakan kekasihNya yaitu Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Kalau memang benar Nabi Muhammad itu adalah Penyelamat tetapi orang tidak melihat wibawa yang besar pada dirinya, maka banyak orang akan menentang atau menolaknya. Tetapi dengan peristiwa Hijrah tersebut wibawa Nabi Muhammad setiap hari meningkat di Madinah, sehingga akhirnya kembali lagi ke Makkah sekaligus menawan kota itu ( Baca Kisah Futuh Makkah atau Penaklukan Kota Makkah yang terjadi tanpa pertumpahan darah ).

Letak kewibawaan Rasulullah SAW yang Allah berikan dibalik peristiwa Hijrah minimal ada 5 poin sebagai berikut :

  1. Tidak mudah untuk menyuruh atau mengajak orang berpindah. Apalagi dilakukan dengan berjalan kaki selama berminggu-minggu, di tengah gurun pasir, kekurangan air serta makanan, meninggalkan keluarga, rumah, kebun, ternak, dibawah tekanan musuh, dsb. Tatapi ajaibnya saat itu dengan mudah para sahabat disuruh pindah walaupun dengan bersusah payah. Atas dasar apa seorang manusia bisa memberi perintah seperti itu dan kemudian ditaati oleh pengikutnya? Jawabannya yaitu karena kewibawaan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul, wibawa yang besar ini merupakan salah satu mukjizat maknawiyah Nabi Muhammad.

Baginda telah berhasil mendidik para sahabat selama 13 tahun sampai mendapatkan rasa Cinta dan Takut kepada Allah yang begitu mendalam, rasa cinta kepada akhirat dan cinta kepada RasulNya, sehingga atas dasar itulah mereka berHijrah. Jikalau perintah Hijrah itu terjadi pada tahun ke-2 atau ke-3 kenabian mungkin saja para sahabat akan menolak dan tidak mampu, karena saat itu kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasulullah belum cukup mendalam. Jadi dengan peristiwa Hijrah ini wibawa Rasulullah naik di mata dunia khususnya penguasa-penguasa Romawi dan Persia. Mereka terheran-heran, bangsa yang sebelumnya menyembah berhala, hanya tahu unta serta kambing dan selalu berperang, tiba-tiba oleh seorang yang bernama Muhammad, segolongan orang dari bangsa itu rela bersusah payah menempuh halangan dan rintangan yang tidak semua orang sanggup menjalaninya. Benak mereka mulai berfikir bahwa orang yang bernama Muhammad ini pasti bukan orang sembarangan. Di sinilah wibawa Rasulullah mulai naik

  1. Ketika peristiwa Hijrah, Nabi Muhammad sudah 13 tahun memperjuangkan agama Allah. Sudah banyak penduduk Madinah yang ulang-alik pergi dari Madinah ke Makkah. Penduduk Madinah ketika itu sudah sering mendengar tentang lahirnya seorang yang disebut sebagai Penyelamat, seorang Rasul. Secara tidak langsung mereka sudah mengenal pribadi Nabi Muhammad, walaupun belum pernah bertemu dengan Baginda atau hanya melalui cerita warga Madinah yang pernah pergi ke Makkah. Mereka terkesan dengan ajaran Islam yang begitu indah dan sesuai dengan fitrah manusia, tentang akhlak mereka, tentang kasih sayang mereka, tentang sifat-sifat Mahmudah mereka dsb. Maka ketika Rasulullah datang ke Madinah, penduduk Madinah bersuka ria menyambut kedatangan seorang Penyelamat yang ditunggu-tunggu itu dengan melantunkan syair ”thala’al badru ’alaina…”.

Penyambutan yang ajaib ini belum pernah berlaku di tempat lain sekalipun kepada para Raja. Padahal mereka ( warga Madinah ) hanya mendengar tentang Rasulullah dan Islam dari cerita orang-orang. Tetapi mereka sanggup menyerah diri kepada Rasulullah dan masuk Islam di bawah Rasulullah.Bukankah ini hebat, bukankah ini menunjukkan wibawa Nabi kita sungguh luar biasa? Di sini sudah dua poin wibawa Rasullullah naik.

  1. Tidak hanya itu bahkan yang lebih ajaib, warga Madinah ( kemudian diberi nama kaum Anshor ) sanggup dipersaudarakan dengan warga Makkah ( kaum Muhajirin ), kaum Anshor sanggup menyerahkan segala miliknya, rumah mereka, harta mereka, kebun mereka untuk saudara-saudara barunya itu, bahkan yang memiliki istri lebih dari satu bersedia menceraikan istrinya untuk saudaranya tetapi hal ini dilarang oleh Rasulullah.Bukankah hal ini ajaib?mana ada orang di dunia ini memiliki ukhuwah sedemikia rupa. Begitulah hebatnya wibawa Rasulullah sanggup mempersatukan manusia atas dasar Cinta kepada Allah dan RasulNya.

Bahkan suku Aus dan suku Kahzraj yang sudah ratusan tahun berperang di Madinah sanggup akur dan berkasih sayang di bawah Islam. Mendengar cerita ini maka seluruh dunia bertambah terkejut termasuk penguasa Romawi dan Persia saat itu. Mereka semakin bertanya-tanya, siapa Muhammad sebenarnya?

  1. Allah menyuruh berhijrah ke Madinah padahal di madinah Waktu itu Yahudi sudah berkuasa selama 300 tahun. Yahudi, mereka punya ekonomi, punya perdagangan yang kuat, kapitalisme sangat kuat, orang – orangnya cerdik dan pandai. Artinya selama 300 tahun itulah bangsa Arab Madinah dijajah oleh Yahudi dalam segala hal, sementara bangsa Arab waktu itu suka berperang sendiri, sungguh secara logika bukan keadaan yang menguntungkan pihak Rasulullah. Apakah Allah salah?Tentu saja tidak Maha Suci Allah dari kesalahan. Bagi Nabi Muhammad dan para Sahabat, mereka menyikapinya bukan dengan logika semata-mata, karena memang banyak hal dalam Islam ini diluar logika manusia yang hanya Allah saja yang tahu hikmahnya, tetapi mereka merespon dengan ruh atau hati yang cinta dan takut pada Allah, hati yang Hanif.

Jadi ibaratnya Allah suruh Nabi Muhammad dan Sahabat berpindah ke sarang musuh, ajaib. Mampukah kita?atau adakah pemimpin di dunia ini yang mampu mengarahkan hal seperti ini?Saya rasa tidak ada.

Setelah Anshar dan Muhajirin dipersaudarakan maka Rasulullah meminta Sayidina Abdurrahman bin Auf ,seorang hartawan, untuk membuka sebuah kedai di tengah Pasar Ukas di tengah kota Madinah. Kedai tersebut kemudian diberi nama Suq Al Anshar atau Pasar Anshar. Pada awalnya Sayidina Abdurrahman bin Auf merasakan bahwa tugas yang diembannya merupakan tugas yang sangat berat, yang pada hakikatnya beliau diminta untuk mendirikan sistem Ekonomi bertaraf Allah dan Rasul untuk menumbangkan sistem kapitalis yang sudah bercokol 300 tahun. Yang dilakukan oleh Sayidina Abdurrahman bin Auf tentu saja bukan bikin proposal atau pinjam bank atau berpikir tentang duit atau lain-lain cara kapitalis, tapi yang dilakukan beliau adalah mengajukan ”proposal” kepada Allah dengan bertawasul dengan Rasulullah alias merintih, bertaubat, dan mohon petunjuk dari Allah agar dimudahkan dan dibantu.

Akhirnya berbekalkan beberapa orang tim beliau, dengan ukhuwah sesama muslim ( Anshar dan Muhajirin ) yang sudah sangat kuat, maka mudah saja untuk membuat Suq Al Anshar yang waktu itu menurut riwayat hanya berukuran 4m x 4m. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah minta agar semua orang Islam berniaga, berjual beli di Suq Al Anshar tanpa terkecuali.

Sistem yang dipakai Sayidina Abdurrahman bin Auf sangat berbeda dengan kapitalis, beliau membeli bahan mentah dari produsen dengan harga sepantasnya dan menjualnya pula dengan harga yang pantas.Bukan seperti Yahudi dengan sistem Kapitalisnya yang membeli bahan dengan harga Murah dan menjualnya dengan harga sangat mahal serta memonopoli pasar. Karena pada prinsipnya, perniagaan dalam sistem Islam adalah khidmat atau servis kepada manusia, bukan untuk untung. Inilah yang dinamakan berniaga dengan Tuhan atau karena Tuhan ( bukan karena uang ) dan berkhidmat dengan manusia. Untung yang mereka cari adalah keuntungan dari Tuhan yang lebih besar yaitu keuntungan akhirat, sedangkan dengan sesama manusia mereka berkhidmat atau melayan dan memudahkan manusia.Keyakinan mereka dengan Allah sangat kental, mereka yakin apabila mereka bertaqwa, membantu sesama maka Allah akan mencukupkan rizki mereka. Allah sangat memuji, bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang banyak berkhidmat kepada sesama.

Salah satu strategi Sayidina Abdurrahman bin Auf adalah beliau berani menjual unta dengan harga dibawah harga pasar. Misalkan 1 ekor unta dijual 95 ribu oleh Yahudi beliau berani menjual dengan harga 90 ribu dengan kualitas yang sama. Bila Yahudi menurunkan harga maka beliau juga menurunkan harga. Sampai yang mengherankan misalnya harga modal seekor unta 70 ribu, dan saat itu Yahudi menjual 75 ribu, beliau berani menjual dengan harga modal bahkan lebih rendah dari itu. Secara logika atau lahiriah rugi, tapi keredhaan Allah lebih mahal dari itu semua, dan beliau yakin bahwa barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya. Buktinya perniagaan beliau sangat cepat berkembang. Ajaib, hanya dalam tempo 6 bulan saja sistem Kapitalis Yahudi di Madinah tumbang dan gulung tikar.

Dengan bermodalkan Allah ( keyakinan yang bulat pada Allah ) dalam berniaga serta ukhuwah yang kuat, kedai 4mx4m mampu menumbangkan Kapitalis Yahudi yang sudah bercokol 300 tahun hanya dalam waktu 6 bulan saja. Coba anda pikirkan. Sungguh menggetarkan dunia waktu itu, sungguh sangat ajaib. Dunia gempar, tapi kisah ini sengaja ditutupi oleh musuh Islam sehingga kita tidak dapat mengambil pelajaran darinya.

Semenjak saat itu Yahudi hengkang dari Madinah dan pergi ke Palestina sampai saat ini dalam keadaan terhina. Dan dendam mereka pada umat Islam tetap membara hingga sekarang. Dalam peristiwa itu dunia mengakui kebesaran Rasulullah, kewibawaan Baginda sungguh luar biasa saat itu.

  1. Bila Madinah dapat ditawan maka Makkah kemudian dapat ditawan. ( Baca kisahnya dalam ayat Idzaa jaa Anasrullahi wal Fath…).Mulai saat itu dunia mulai melihat kepada Rasulullah, mereka ingin tahu siapa dan apa yang telah dibuat Rasulullah.Maka berbondong-bondonglah manusia memeluk Islam. Mereka rasa bahwa Rasulullah dan Islam adalah penyelamat dunia yang saat itu sedang dalam kacau balau dengan penindasan dan penzaliman pemerintahan Romawi dan Persia. Mereka ingin bernaung dan mendapat keselamatan dari Islam. Maka banyak bangsa ketika Rasulullah wafat bersedia menyerahkan diri untuk ditadbir oleh pemerintahan Islam.Mudah saja bangsa-angsa seperi Irak, Samarkhand, bahkan bangsa-bangsa di bawah kekuasaan Romawi menyerah diri dengan senang hati. Disinilah wibawa Rasulullah naik walaupun baginda telah wafat.

Semua itu adalah buah atau hasil perjuangan baginda selama 13 tahun ”memperjuangkan” Allah sehingga para Sahabat mendapat ”cinta dan takut kepada Allah”. Dengan bermodal itulah ukhuwah berbunga dan dengan semua itu serta adanya sosok pemimpin yang berTaqwa yang dilantik oleh Allah, mereka dapat menyelamatkan dunia . Sebab tanpa pemimpin yang berwibawa mustahil umat Islam akan bangkit. Inilah iktibar atau pelajaran untuk umat Islam saat ini agar mencontoh apa yang telah dicontohkan oleh Nabi kita SAW.

About these ads

Sebelum manusia dihadirkan di muka bumi, kehidupan alam telah terben- 
tang dengan kesempurnaan keindahan dan kandungan potensi, sebagai salah 
satu sarana kelangsungan hidup manusia. Laksana bayi yang hendak dilahir- 
kan, segala sesuatunya telah ditata-persiapkan dengan sempurna oleh orang 
tuanya. Allah pun bertanya kepada manusia 

Maka nikmatRabb kamuyang manakahyang kamu dustakan (QS. 55) 

Bukankah kenikmatan nyata, sekaligus bukti cinta-kasih dan sayang Allah 
pada manusia, alam terbentang dengan segala keindahan-potensi siap dikelola 
jauh sebelum berfungsinya aqal manusia. Allah tidak menghendaki manusia 
hidup dalam lilitan kesulitan, tetapi kemudahan dalam kesetimbangan. 



Khutbah Iedul Adha 1431H 



Salah satu nilai kesempurnaan Mahacipta-karya Ilahi yang tidak tertan- 
dingkan adalah kesetimbangan di setiap unsur ciptaan. Dia Allah pun dengan 
kemuliaan asmaNYA seakan menghimpun mengajak-himbau kepada manusia 
agar tergugah kesadaran melalui Kalam-Nya: 

jjlafl £* tj jj ^JA j^a2l ^a-jli pjlij <> L&*J\ J^> <A <J> ^ 

. . . Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah 

sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu 

lihat sesuatu yang tidak seimbang (QS. 67:3) 

Himbauan tersebut seakan hamparan jembatan emas, sarana berlangsung- 
hubung dialog membangun kesadaran memberikan sentuhan rasa kedekatan 
antara Allah selaku Dzat Pencipta dan manusia selaku yang dicipta, bagaikan 
ikatan bathin orang tua dengan anaknya yang tak dapat dipisahkan. Demikian 
Allah merangkul-kasih, mendekap-cinta mengikat manusia melalui karya-cipta 
alam semesta, menjelma-perkenalkan asma diri-NYA bertujuan membangun 
hubungan kedekat-akraban pada manusia. Sebab bagaimanapun, manusia tidak 
akan mampu lepas menjauhkan dirinya dari Allah yang begitu dekat bahkan 
lebih dekat dari urat lehernya. Kemana manusia hendak lari menjauhkan 
dirinya dari Allah, kecuali hanya berputar-lingkar dalam bentangan alam 
ciptaan Allah jua. Lemah dengan serba keterbatasannya mengkodratkan 
manusia agar dekat pada Allah sebagai jaminan keselamatan hidup bagi 
manusia itu sendiri sekaligus berdampak positif pada kehidupan alam. Siratan 
makna hadits yang menghimbau umat manusia agar setiap berbuat didahului 
"BismiUahhirrahmanirrahim" memberi pemahaman bahwa di segala keadaan 
manusia selalu bersama Allah, dan senantiasa memasangkan sifat pemurah dan 
kasih sayang pada setiap tindakan di tengah-tengah lingkungannya. Bila tidak 
demikian, porak-porandalah tatanan kehidupan yang telah ada, yang lemah 
menjadi objek penindasan yang kuat; sedangkan dari antara yang kuat bersaing 
untuk saling menjatuhkan, menang dengan kepongahan di atas penderitaan 
yang lain. Begitulah sunnatullahnya, manusia tanpa kendali diri dengan ikatan 
tali Allah yang bersifat rahman-rahim pasti berdampak pada kehancuran hasil 
cipta-karya-Nya. Dengan azas "kesetimbangan" pada setiap ciptaan tidak ada 
unsur yang dirugikan keberadaan dan tumbuh-kembangnya.

Selasa, 19 Juli 2011

Setelah melakukan perjalanan hijrah dari Makkah Al Mukarromah menuju Madinah Al Munawwaroh yang cukup panjang dan melelahkan,setibanya di Madinah dan mendapat dan mendapat sambutan dari kaun anshoryang sudah menanti dan merindukan kedatangannya,  Rasulullah SAW langsung membangun masjid didaerah Quba yang dikenal dengan masjid quba ( masjid yang pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW) sebagaimana yang tercantum dalam surat Attaubah ayat 108.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perjalanan da’wah Rasulullah SAW terbagi dua pase;yaitu pase Makkah dan pase Madinah, da’wah pase Makkah adalah pase pembersihan hati dari berbagi bentu kemusyrikan,sekaligus pengokohan aqidah tauhid dalam hati orang arab kota Makkah waktu itu,sedangkan pase da’wah Madinah adalah pase da’wah terbuka, disana sudah ada dua kabilah besar Khojroj dan Aus ditambah tiga kelompok yahudi yaitu bani nadzir,bani quroidoh dan bani gothofan.

Untuk menghadapi penomena da’wah seperti ini,maka Rasulullah SAW melakukan pengokohan basis sosial ditengan masyarakat yang majemuk dan beragam keyakinan,kemudian Rasulullah mengumpulkan kaum muhajirin dan anshor untuk melakukan pengokohan basis sosial,maka Rasulullah SAW menyampaikan tiga pesan dalam khutbah pertamanya di Madinah,adapun isi pesan tersebut sebagai berikut :

a).Pesan taqwa.

Rasulullah SAW mengedepankan pesan ini dalam rangka pengokohan mental para dai dalam menghadapi berbagai tantangan,rintangan dan godaan dalam melaksanakan tugas da’wahnya.Disinilah pentingnya taqwa sebagai benteng pertahanan para mujahidin,para du’at agar tetap tabah, sabar,teguh menapaki perjalanan da’wah.

Kenapa Rasulullah SAW mendahulukan pesan taqwa dalam wasiatnya?; karena didalamnya terkandung beberapa manfaat yang antara lain :1).Taqwa adalah sebaik-baiknya wasiat, 2).Taqwa adalah nasehat paling utama, 3).Taqwa adalah sebaik-baikny dzikir, 4).Taqwa adalah peneguh keyakinan betapa penting memperhatikan urusan akhirat, 5).Taqwa adalah pelurus dan penjaga hubungan yang baik antara hamba dengan Robnya baik dalam keadaan terbuka atau tersembunyi, 6).Taqwa adalah bekal investasi untuk kehidupan setelah mati ( akhirat ), 7).Taqwa adalah benteng penyelamat dari kemurkaan dan kebencian Allah swt, 8).Taqwa akan menghadirkan tampilan muka yang ceria, 9).Taqwa akan melapangkan jalan menuju ridlonya Allah swt, 10).Taqwa akan meningkatkan martabat dan derajat disisi Allah swt, 11).Taqwa akan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan urusan dunia dan akhirat.

Kholifah Utsman bin A’ffan RodiyAllahu An’hu menjelaskan bahwa cirri orang yang bertaqwa ada lima yaitu : 1).Tidak bergaul kecuali dengan orang-orang yang berbuat baik,menegakkandan mempertahankan kebenaran agama, 2).Bisa memelihara lisan dan kehormatannya, 3).Apabila mendapatkan keni’matan dunia yang lebih besar dia melihatnya sebagai cobaan dari Allah dan apabila mendapatkan pemahaman agama walaupun sedikit dia cepat-cepat dengan penuh serius untuk melaksanakannya, 4).Dan tidak pernah makan berlebihan walaupun makanan yang halal,karena takut tercampuri barang yang haram, 5).Melihat orang lain semuanya pada slamat,dan melihat dirinya dalam keadaan celaka,maksudnya lebih banyak mengoreksi kesalan diri sendiri dari pada mencari-cari kesalahan orang lain.

Kholifah Umar bin Al Khoththob RodiyAllahu An’hu ketika akan memberangkatkan pasukan ke medan perang beliau memberikan pesan kepada para mujahidin :”Kalian harus bertaqwa kepada Allah swt,karena taqwa adalah senjata yang paling ampuh,sesungguhnya kehnacuran orang-orang kafir,karena kema’siatannya kepada Allah,maka apabila kalian melakukan perbuatan ma’siat seperti mereka,maka merekalah yang akan menang”.

Demikianlah betapa penting taqwa dalam membentengi diri dari berbagai ancaman,godaan dan tantangan,sehingga sekian banyak pesan dan wasiat Allah dalam Al Quran tentang taqwa dengan mendapat jaminan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam beberapa ayat berikut : 1).Mendapat jaminan pahala surga, firmanNya dalam surat Al Imron ayat 15,  2).Mendapat penghapusan dosa-dosa masa lalu,firmanNya dalam surat Al Maidah ayat 65, 3).Mendapat keberkana dari langi dan bumi,firmanNya dalam surat Al A’rof ayat 96, 4).Mendapat jaminan rohmat Nya,firmanNya dalam surat Ghofir ayat 9, 5).Mendapat jalan keluar dalam menghadapi kesulitan,mendapat kemudahan dalam menyelesaikan masalah, dan mendapat p3nghapusan dosa dan pahala yang besar disisi Allah swt,firmanNya dalam surat Aththolaq ayat 2 dan 4-5, 6).Mendapat keberuntungan diakhirat kelak,firmanNya dalan surat Annur ayat 52.

Sungguh banyak ayat-ayatAl Quran atau hadits Rasulullah yang berisi pesan-pesan taqwa,namun yakin kita tidak akan sanggup untuk mengurai dan menjelaskan secara lebih detail lagi.

b).Pesan untuk bersilaturrahim.

Pesan kedua ini Rasulullah SAW membuka komunikasi dengan semua lapisan masyarakat yang ada di Madinah, dalam melakukan silaturrahim dapat melakukan beberapa pendekatan antara lain : 1).Pendekatn idiologi,melakuakn titik temu dalam hal prinsip keyakinan sebagai landasan hidup,sebagai sumber motivasi dan mencari titk temu dalam visi kedepan dalam perjalanan hidup ini. 2).Pendekatan konseptual,mencari titik temu dalam kerangka berpikir untuk menyamakan konsep yang dijadikan sebagai pedoman untuk meraih cita-cita hidup. 3)Melakukan kerja sama dan aktivitas yang sama pula ( amal jama’i) dalam rangka berusaha untuk merauh keberhasilan baik urusan dunia maupun akhirat sesuai dengan landasan idiologi dan konsep pedoman hidup yang telah disepakati. 4).Melakukan pedekatan da’wah, dimana inti dari da’wah itu sendiri adalah melakukan amar ma’ruf dan nahyi mungkar.Amar ma’ruf menyeru kepada kebaikan dan sekaligus melakuakn perbaikan sedangkan nahyi mungkar adalah mencegah kemungkaran atau paling tidak memperkecil ruang gerak kemungkaran itu sendiri, hal ini dilakukan dalam lingkup keluarga,masyarakat dan ketata negaraan.

Allah swt mengamanatkan agar silaturrahim terjaga dengan baik sebagaimana dijelaskan dala surat Annisa ayat 1.

Allah swt mengancam dengan la’nat bagi mereka yang memutuskan tali silaturrahim,dijelaskan dalam surat Muhammad ayat 22-23.

Rasulullah SAW menegaskan dalam haditsnya larangan memutus tali hubungan silaturrahim,seperti yang dijelaskan dalam haditsnya :”Tidak dibenarkan bagi seorang muslim meninggalkan saudaranya lebih dari tiga hari atau memutus tali hubungan, sehingga apabila bertemu diperjalanan saling membuang muka yang satu berpaling kekiri yang satunya lagi berpaling kekanan,dan yang paling baik adalah yang memulai mengucapkan salam”. ( memohon maaf dan mengajak untuk berdamai).

Itulah pesan Rasulullah SAW yang kedua agar silaturrahim benar-benar dipelihara agar terjaga keutuhan dan kekokohan keluarga,masyarakat baik seagama dan sekeyakina atau dengan yang berlainan keyakinan tetap harus saling menghormati,saling menghargai,saling menjaga hubungan yang baik demi menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara.

c).Pesan untuk bersodaqoh.

Sodaqoh adalah merupakan nilai-nilai dasar dari ajaran islam, sodaqoh merupakan syi’ar islam yang harus yang harus dimunculkan,diperlihatkan sebagai wujud bahwa islam adalah agama rohmatan lil’alamin,sebagaimana dijelaskan dalam beberapa ayat Al Quran betapa besarnya nilai sodaqoh disisi Allah swt seperti berikut ini :

  1. Sodaqoh dapat membersihkan diri dari penyakit kikir,menjauhkan dari perbuatan dosa,memperbaiki dan meningkatkan kebaikan dari harta yang dimiliki,dan mendatangkan ampunan dari Allah swt,sehingga kalaulah itu yang dilakukan oleh seorang hamba,maka tentunya harta yang senantiasa dikeluarkan sodaqohnya akan mendatangkan ketentraman,kedamaian dan rohmat dari Allah swt. Hal itu dijelaskan dalam surat Attaubah ayat 103.
  2. Allah swt menggambarkan penyesalan orang tidak melaksanakan ketika masih hidup didunia,dia memohon diberi kesempatan walau sebentar,hanay karena ingin berbuat sodaqoh,sebagaimana tercantum dalam surat Al Munafiqun ayat 10.
  3. Betapa besanya jaminan Allah swt bagi yang melakukan amal sodaqoh,kita tidak sanggup untuk mengurai dengan lisan maupun tulisan  sungguh betapa besar janji dan jaminan Allah untuk amal sodaqoh ini,mari kita renungkan firmanNya dalam surat Al Baqoroh ayat 261 dan ayat 270-274.
  4. Rasulullah SAW mengingatkan dalam haditsnya beliaua bersabda yang artinya :”Tidak ada satu haripun bagi hamba-hamba Allah ketika sampai umurnya dipagi hari,hanyalah akan turun dua Malaikat yang akan mendo’akan mereka, yang satunya mendo’kan : Ya Allah berilah gantinya bagi orang yang suka berinfaq,dan yang satunya lagi berkata: Ya Allah hancurkanlah hartanya bagi yang tidak mau berinfaq”. Hadits riwayat Bukhori dan Muslim.
  5. Rasulullah SAW bertanya kepada par sahabatnya :” Siapakah diantara kalian yang paling mencintai harta warisannya daripada hartanya sendiri? Mereka berkata :Ya RosulAllah tidak ada diantara kami yang mencintai hartanya hanyalah harta miliknya sendiri.Rasulullah SAW menjawab :Maka sesunguhnya harta yang menjadi miliknya sendiri adalah yang telah disodaqohkan,sedangkan harta yang menjadi warisan adalah yang disisakan atau tidak disodaqohkan ketika masih hidup”.
  6. Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya :”. Apabila anak Adam meninggal maka akan terputus segala amalnya kecuali tiga hal : a).Sodoqoh jariyah, b).Ilmu yang bermanfaat, c).Anak soleh yang selalu mendo’akan kepada kedua orang tuanya”.

Demikianlah penjelasan dari Al Quran dan hadits Rasulullah SAW yang kesemuanya menitik beratkan betapa pentingnya melakukan amal sodaqoh karena memiliki nilai-nilai sosial yang sangat besar yang antara lain : a).Memiliki rasa kebersamaan secara moril dan ikut memikirkan mencari solusi untuk mengatasi beban-beban hidup masyarakat. b).Membuka hati,memberikan harapan bagi saudara-saudara kita yang mendapatkan kesulitan dalam menggung beban kehidupan. c).Mempersempit jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin. d).Sebagai bukti kepedulian bagi kelompok orang-orang miskin. e).Berkorban dengan harta dalam mengatasi berbagai problem yang dihadapi masyarakat. f).Mendatangkan keberkahan hidup baik untuk pribadi,keluarga dan masyarakat,dijelaskan dalam keterangan bahwa dunia ini akan tegak penuh damai aman dan sejahtera manakala didukung oleh tiga hal : Pertama pemimpin yang adil. Kedua kedermawanan orang kaya. Dan ketiga do’anya orang miskin.

Itulah pesan-pesan Rasulullah SAW yang sangat urgen,dimana ketiganya memiliki landasan filosofis yang sangat mendasar,membangun kekokohan diri dengan landasan iman dan taqwa,kekokohan bermasyarakat dengan ikatan silaturrahim dan kepedulian sosial.

Dengan cara inilah Rasulullah SAW membangun masyarkat madinah yang terdiri dari kaum muhajirin dan ansor,mereka saling mencintai,saling menyayangi,saling menghormati,saling menghargai, ungkapan slogan mereka adalah :”Kami bagian dari mereka, kami berbuat untuk mereka dan kami beserta mereka”. Allah swt mengangkat dan mengabadikannya dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 9-10.

  1. Jagalah dirimu dari perbuatan yang haram nescaya engkau akan menjadi orang yang paling baik dalam beribadah.
  2. Berpuas hatilah dengan kurnia yang Allah berikan kepadamu nescaya kamu akan menjadi orang yang paling kaya.
  3. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, nescaya kamu akan menjadi seorang mukmin sejati .
  4. Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, nescaya kamu akan menjadi muslim yang sempurna.
  5. Dan janganlah banyak bergurau kerana banyak bergurau itu akan mematikan hati.

(Hadis Riwayat Muslim)

Rasulullah S.A.W. sering memberi panduan yang berharga sedemikian rupa. Semuanya disesuaikan dengan permintaan para sahabat atau sesuai dengan kadar potensi orang yang baginda ajak berbicara.

Nasihat atau wasiat yang baginda sampaikan walaupun ringkas namun padat serta suatu yang praktikal. Apa sahaja yang baginda ungkapkan sentiasa terbukti kebenarannya dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Setiap muslim dan muslimah yang baik bukan mereka yang mengasingkan diri dari masyarakat sekitarnya, sehingga mereka mewujudkan satu kelompok yang terasing. Muslim dan muslimah tidak berhak menuduh masyarakat sebagai masyarakat yang jahil sebelum mereka cuba untuk memperbaikinya.

Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud :
“Mukmin yang bergaul di tengah-tengah masyarakat dan sabar atas gangguannya lebih baik daripada muslim yang tidak bergaul dalam masyarakat dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.”

Oleh itu sebagaimana lima nasihat dari hadis Nabi S.A.W. di atas, memberikan arahan kepada kita untuk hidup dalam masyarakat. Nasihat ini sangat penting, berharga dan berguna ketika berinteraksi dengan masyarakat. Nasihat ini mestilah diamalkan serta disampaikan kepada saudara sesama muslim dimana jua mereka berada.

 

Seorang Mukmin Adalah Cermin Bagi Mukmin lainnya

Oleh: Habib ‘Abdullah bin Husein bin Thohir

SAUDARAKU, ketahuilah, sesungguhnya kekasih kita Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberi jawâmi’ul kalim[1]. Setiap kata yang diucapkan oleh Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam sarat dengan makna dan memiliki banyak pemahaman. Setiap orang memahami ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman dan cahaya yang diberikan Allâh kepadanya. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya.” (HR Abû Dâwûd)

Hadis di atas memiliki beberapa makna, di antaranya adalah:

Pertama, jika seorang Mukmin melihat berbagai akhlak mulia pada diri saudaranya, maka dia akan meneladaninya. Dan jika dia melihat berbagai sifat tercela dalam diri saudaranya, dan dia mengetahui bahwa dirinya memiliki keburukan yang sama, maka dia segera berusaha membersihkan dan menyingkirkan sifat-sifat tercela itu dari dirinya.

Kedua, ketika seorang Mukmin melihat sebuah sifat tercela pada diri saudaranya, maka dia segera memerintahkan dan meminta saudaranya itu untuk menghilangkannya. Dia menjadi cermin bagi saudaranya. Berkat nasihatnya saudaranya dapat melihat aibnya sendiri, seperti cermin yang menampakkan keburukan wajah seseorang.

Ketiga, seorang Mukmin akan memandang kaum Mukminin sesuai dengan keadaan hatinya. Jika hatinya baik, suci, jujur dan bersih dari berbagai sifat tercela, maka dalam pandangannya semua Mukmin adalah baik. Dia berprasangka baik kepada seluruh Mukmin dan sama sekali tidak akan berpikiran buruk kepada mereka. Kau akan melihat dia mudah tertipu oleh setiap orang yang berusaha menipunya dan membenarkan semua ucapan yang disampaikan kepadanya. Sebab, dalam pandangannya semua orang berakhlak mulia seperti dirinya. Ini adalah sebuah sifat mulia dan utama yang diberikan Allâh kepada banyak Mukmin.

Tetapi, yang lebih baik dan sempurna adalah seseorang yang mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya, baik atau pun buruk, saleh ataupun fasik.

Seorang yang berhati busuk dan bersifat buruk, wal ‘iyâ dzubillâh, maka keburukannya ini akan menjelma pada diri setiap orang yang dilihatnya. Setiap kali melihat seseorang dia akan berprasangka buruk kepadanya. Sebab, yang dia lihat adalah gambaran keburukan dirinya sendiri. Menurutnya semua orang seperti dirinya. Rasûlullâh saw bersabda:

“Jika seseorang berkata, ‘Manusia telah binasa,’ maka dialah yang paling binasa.” (HR Muslim, Abû Dâwûd, Ahmad dan Mâlik)

Seorang penyair berkata:

Jika perilaku seseorang buruk

Maka prasangkanya pun buruk

Dia wujudkan kebiasaannya dengan penuh keraguan

Dan memusuhi para pecintanya

karena ucapan musuhnya

akhirnya dia berada dalam keraguan

Seperti malam yang gelap gulita

Pernah seorang lelaki mengunjungi seorang saleh yang dikenal sebagai waliyullâh (orang yang dicintai Allâh) dan berkata kepadanya, “Wahai Tuan, aku bermimpi melihatmu dalam wujud seekor babi.” Sang wali rhm pun menjawab, “Babi itu adalah gambaran dirimu, bukan diriku. Ketika engkau menghadapiku, maka gambaran dirimu menjelma pada diriku. Ketika melihat babi itu engkau mengiranya sebagai diriku. Sesungguhnya itu adalah gambaran dirimu yang menjelma pada diriku. Andaikata engkau baik, maka engkau akan melihatku dalam wujud yang baik.”

Karena itu kami katakan bahwa setiap orang yang bermimpi melihat Rasûlullâh saw dalam wujud yang baik, maka itu adalah tanda bahwa dirinya baik. Tetapi, jika tidak demikian, maka itu adalah tanda bahwa dirinya memiliki kekurangan. Kami tidak mengatakan bahwa keterangan ini berlaku untuk semua orang. Keterangan ini hanya berlaku untuk orang yang penuh kekurangan ketika bermimpi atau bertemu dengan orang yang sempurna, setingkat dengannya atau orang yang tidak ia ketahui kedudukannya.

Pada umumnya apa yang dilihat oleh seseorang pada diri kaum Mukminin adalah gambaran keadaannya sendiri. Jika dia baik, maka dia akan melihat kebaikan dan jika dia buruk, maka dia akan melihat keburukan. Sedangkan apa yang dilihat oleh orang-orang yang memiliki kesempurnaan, seperti para Nabi as dan pewarisnya, dalam mimpi atau di luar mimpi, adalah keadaan yang sebenarnya dari orang yang mereka lihat. Sebab, gambaran diri orang-orang yang memiliki kesempurnaan tidak akan menjelma pada diri orang lain. Karena, orang lain memiliki hijab yang terlalu tebal. Tetapi, gambaran orang lain dapat menjelma pada diri mereka karena kejernihan hati mereka. Mereka dapat melihat orang lain sesuai keadaannya yang sebenarnya.

Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allâh.” (HR Tirmidzî)

Keadaan seperti ini hanya khusus bagi ahlillâh. Hati-hati jangan tertipu, sebab itulah sumber keburukan.

Keempat, hati seorang Mukmin yang sempurna imannya akan menjadi tempat tajallî Allâh SWT Al-Mu`min. Sebab, Al-Mu`min adalah salah satu nama Allâh. Hati seorang Mukmin adalah tempat makrifat. Allâh SWT berkata dalam sebuah hadis qudsi:

“Bumi dan langit-Ku tidak akan mampu menampung-Ku, dan hati hamba-Ku yang berimanlah yang mampu menampung-Ku.” (Al-Hadis)

“Hati adalah rumah Allâh.” (Al-Hadis)

Arti kedua hadis ini adalah hati merupakan tempat bermakrifat kepada Allâh. Wallâhu Subhânahu wa Ta’âlâ a’lam.

[1] Jawâmi’ul kalim: kalimat yang singkat tetapi sarat dengan makna.

Filed in: Nasihat dan Hikmah

Sungguh berbahagia orang yang termasuk ke dalam kelompok orang yang didoakan oleh para malaikat. Mengapa tidak?

Didoakan oleh saudara kita yang shalih sudah sangat bahagia, karena berharap doanya akan dikabulkan. Maka bagaimana jika yang mendoakan kita adalah malaikat, hamba Allah yang selalu taat dan tidak pernah bermaksiat dan selalu menjalankan apa yang diperintahkan Allah. Siapakah mereka dan apakah gerangan yang mereka perbuat?

1.Tidur Dalam Keadaan Suci
Sebuah hadits menyebutkan, Nabi bersabda, “Barangsiapa tidur dalam keadaan suci, maka ikut bermalam juga malaikat di selimutnya, tidaklah dia bangun dari tidur kecuali malaikat itu mengucapkan, “Ya Allah ampunilah hamba-Mu si Fulan karena ia telah bermalam dalam keadaan suci.” (HR. ath-Thabrani)

2. Menunggu Shalat
Nabi bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kalian menunggu shalat pada salah satu shalat, sedangkan dia tidak berhadats (batal), maka malaikat akan berdoa, “Ya Allah ampunilah dia ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Muslim)

3. Shalat di Shaf Terdepan
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk shaf yang pertama.”(Shahih Ibnu Hibban)

4. Shalat di Shaf-Shaf Depan
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat untuk shaf yang pertama. Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah juga shaf yang ke dua? Beliau menjawab, “Dan kepada shaf yang ke dua.” (HR. Ahmad, )

5. Berdiri di Shaf bagian kanan
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berdoa untuk bagian kanan shaf-shaf shalat.” (Shahih Ibnu Hibban)

6. Menyambung Shaf
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mendoakan kepada orang-orang yang menyambung shaf.” (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib)

7. Mengucapkan Amiin dalam Shalat
Nabi bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan “amin” dan bersamaan dengan itu malaikat yang di langit juga mengucapkannya sehingga bertepatan bacaan yang satu dengan yang lainnya maka Allah akan mengampuni dosa orang tersebut yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih)

8. Shalat Shubuh dan Ashar Berjama’ah
Nabi bersabda,“Barangsiapa yang shalat Shubuh kemudian ia duduk di tempat dia shalat, maka malaikat akan mendoakannya, doa mereka adalah, “Ya Allah ampunilah dia ya Allah rahmatilah dia. Dan barangsiapa yang menunggu shalat (didirikan) maka malaikat berdoa untuknya, dan doa mereka yaitu, “Ya Allah ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia.”(HR.Ahmad, dihasankan oleh Ahmad Syakir).
Nabi bersabda, “Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Mereka berkumpul di saat Shalat Shubuh, maka malaikat malam naik ke langit dan tinggallah malaikat siang. Dan mereka berkumpul pada waktu Ashar, maka naiklah malaikat siang dan tinggallah malaikat malam. Allah bertanya kepada para malaikat tersebut, “Bagaimana keadaan hamba-Ku ketika kalian tinggalkan? Para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, maka ampunilah mereka nanti pada Hari Kiamat.” (Shahihul Musnad dan Shahih Ibnu Khuzaimah)

9. Bershalawat Untuk Nabi
Dari Abdullah bin Amr beliau berkata, “Barangsiapa yang bershalawat untuk Rasulullah satu kali maka Allah dan malaikat-Nya akan bershalawat untuknya tujuh puluh shalawat, maka hendaklah seorang hamba mengucapkan itu atau memperbanyaknya.” (HR. Ahmad dihasankah oleh al-Mundziri dan Ahmad Syakir)

10. Mendoakan Seorang Muslim Tanpa Sepengetahuannya
Nabi bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah mustajabah (dikabulkan). Di atas kepalanya ada malaikat penjaga, setiap kali dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan maka malaikat penjaga tadi berkata, “Amin dan untukmu yang semisal itu juga.” (HR. Muslim)

11. Berinfak untuk Kebaikan
Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hamba memasuki waktu pagi hari, kecuali ada dua malaikat yang turun. Maka salah satu dari mereka berkata, “Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.” Dan yang lain berkata, “Ya Allah berikan kebinasaan bagi yang menahan hartanya (bakhil).” (Muttafaq ‘alaih)

12. Makan Sahur
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.” (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib)

13. Orang Berpuasa Bila Ada Orang Lain Makan
Nabi bersabda, “Sesungguhnya para malaikat mendoakan orang yang berpuasa ketika orang lain (yang tidak berpuasa) makan di sisinya hingga mereka selesai.” (HR. at-Tirmidzi)

14. Menjenguk Orang Sakit
Nabi bersabda, “Siapa yang menjenguk orang sakit di waktu pagi maka ia disertai tujuh puluh ribu malaikat, semuanya memintakan ampun untuknya hingga sore hari, dan ia akan mendapatkan di dalam surga. Dan siapa yang menjenguknya di waktu sore maka dia (juga) disertai oleh tujuh puluh ribu malaikat semuanya memintakan ampunan untuknya hingga waktu pagi, dan dia menikmati buah di surga.” (HR. Ahmad)

15. Mengajarkan Kebaikan
Nabi bersabda, “Allah, para malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi, hingga semut di dalam liang dan ikan, sungguh mereka semua mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. at-Tirmidzi dishahihkan oleh al-Albani) (Kholif Mutaqin)